Jenis-jenis panu sering kali membuat banyak orang resah. Pasalnya, bercak pada kulit akibat infeksi jamur ini dapat muncul dengan warna dan bentuk yang beragam. Selain menimbulkan rasa gatal, panu juga kerap menurunkan kepercayaan diri, terutama jika muncul di area tubuh yang mudah terlihat.

Penting untuk diketahui bahwa panu bukan satu-satunya infeksi jamur pada kulit. Ada kondisi lain, seperti kurap atau kandidiasis, yang sekilas tampak mirip. Oleh karena itu, memahami ciri khas jenis-jenis panu dapat membantu Anda membedakannya dari masalah kulit lain, sekaligus mencegah risiko penularan ke orang di sekitar.

Jenis-Jenis Panu, Kenali Ciri dan Cara Pencegahannya - Alodokter

Jenis-Jenis Panu dan Ciri-Cirinya

Di Indonesia, ada beberapa jenis panu yang sering ditemukan. Setiap jenis memiliki tampilan dan ciri khas yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasan yang lebih mendalam mengenai jenis-jenis panu:

1. Panu hipopigmentasi

Panu hipopigmentasi ditandai dengan munculnya bercak yang berwarna lebih terang dibandingkan kulit di sekitarnya. Bercak ini biasanya tampak lebih jelas pada orang dengan kulit berwarna gelap karena kontras yang mencolok.

Ukuran jenis panu ini dapat bervariasi, mulai dari kecil hingga cukup luas, dengan bentuk umumnya bulat atau oval serta tepi yang tidak beraturan. Permukaan bercak sering terasa sedikit bersisik. Area tubuh yang paling sering terkena meliputi dada, punggung, bahu, dan lengan atas.

Panu hipopigmentasi relatif mudah dikenali karena perbedaan warnanya yang jelas, meskipun terkadang masih disalahartikan sebagai bekas luka atau vitiligo.

2. Panu hiperpigmentasi

Panu hiperpigmentasi ditandai dengan bercak yang berwarna lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya. Pada orang dengan kulit gelap, bercak ini terkadang kurang terlihat, tetapi tetap dapat dikenali melalui perubahan tekstur saat diraba.

Jenis panu ini umumnya muncul di area leher, dada bagian atas, punggung, atau lengan, dan dapat membesar secara perlahan. Bercaknya biasanya berbentuk tidak teratur, sedikit menonjol, serta memiliki permukaan yang tampak bersisik tipis.

Pada beberapa kasus, bercak dapat membentuk pola melingkar yang saling menyatu, sehingga area kulit yang terdampak menjadi lebih luas. Jenis panu ini lebih sering dialami oleh remaja hingga orang dewasa, terutama pada mereka yang mudah berkeringat.

3. Panu eritematosa (erythematous)

Panu eritematosa ditandai dengan munculnya bercak berwarna kemerahan akibat peradangan ringan pada kulit. Dibandingkan jenis panu lainnya, bercak pada tipe ini biasanya terasa lebih gatal dan mudah mengalami iritasi, terutama jika sering digaruk.

Permukaan bercak umumnya ditutupi sisik tipis, dan warna kemerahan dapat terlihat semakin jelas saat kulit mengalami peningkatan suhu, misalnya setelah berolahraga. Jenis panu ini lebih sering dialami oleh anak-anak dan remaja yang aktif, terutama pada area tubuh yang mudah berkeringat, seperti punggung, leher, dan lengan.

4. Panu folikular

Panu folikular memiliki tampilan yang cukup khas, yaitu bercak-bercak kecil yang muncul di sekitar folikel rambut. Bercak ini terlihat seperti bintik-bintik berwarna putih, cokelat, atau kemerahan, tergantung pada warna kulit penderitanya.

Saat diraba, permukaan kulit pada area tersebut terasa agak kasar atau sedikit menonjol. Panu jenis ini umumnya muncul di lengan, paha, atau kaki, dan lebih sering dialami oleh orang dengan kulit berminyak atau yang mudah berkeringat.

Jika tidak ditangani, bercak-bercak kecil ini dapat menyebar dan saling menyatu, sehingga membentuk area bercak yang lebih luas.

Faktor Risiko dan Cara Mencegah Panu

Jenis-jenis panu umumnya disebabkan oleh pertumbuhan jamur Malassezia yang berlebihan di kulit. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya panu antara lain:

  • Kulit yang lembap atau sering berkeringat
  • Jarang mengganti pakaian setelah beraktivitas, terutama saat tubuh dalam kondisi basah atau berkeringat
  • Penggunaan pakaian ketat atau berbahan sintetis yang tidak menyerap keringat
  • Daya tahan tubuh yang menurun, misalnya pada penderita diabetes atau saat sedang sakit
  • Penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang
  • Cuaca panas dan lembap, seperti yang umum terjadi di Indonesia

Untuk mencegah panu, Anda dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  • Mandi setelah beraktivitas atau berkeringat untuk menjaga kebersihan kulit.
  • Mengeringkan tubuh dengan baik sebelum mengenakan pakaian.
  • Memakai pakaian longgar dan berbahan yang mudah menyerap keringat, seperti katun.
  • Mengganti pakaian secara rutin, terutama setelah berkeringat.
  • Menjaga kulit tetap kering, terutama di area lipatan tubuh.
  • Tidak berbagi handuk, pakaian, atau alat pribadi dengan orang lain.
  • Bila memiliki riwayat panu, gunakan sabun atau sampo antijamur secara rutin sesuai anjuran.
  • Gunakan sunscreen saat beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi kesehatan kulit.

Panu umumnya tidak berbahaya. Namun, jika tidak ditangani, bercaknya dapat menyebar dan menimbulkan rasa tidak nyaman serta mengganggu penampilan. Oleh karena itu, penanganan sejak dini penting dilakukan untuk mencegah panu semakin meluas sekaligus mengurangi risiko penularan ke orang lain.

Bila Anda sering mengalami panu yang kambuh dan masih bingung dengan jenis-jenis panu, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

Anda bisa memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER, atau buat janji temu dengan dokter spesialis kulit agar masalah yang Anda alami tertangani secara optimal.