Borok merupakan salah satu penyakit yang terjadi pada kulit atau selaput lendir, yang disertai dengan erosi jaringan. Borok yang tampak menjijikkan ini umumnya dapat muncul pada kulit secara berulang dan penyembuhannya memerlukan waktu lama. Borok tidak timbul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh beberapa penyakit seperti kudis, diabetes melitus, impetigo, herpes, dan lain sebagainya.

Bentuk borok bervariasi, ada yang seperti lingkaran besar atau kecil. Kemunculannya pun bisa di mana saja, seperti kaki, bibir, kepala, perut, dan sebagainya. Borok dapat menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. Kondisi borok akan semakin parah jika digaruk, dan bahkan ada juga borok yang mengeluarkan darah atau nanah juga, lho.

Kenali Penyakit Penyebab Borok dan Cara Mengatasinya - Alodokter

Berikut ini beberapa penyakit yang bisa menimbulkan borok, di antaranya:

  • Impetigo
    Impetigo adalah infeksi kulit sangat menular yang bisa menyebabkan borok (luka) dan lecet. Penyakit ini dibagi menjadi dua jenis, yakni impetigo non bulosa dan impetigo bulosa. Impetigo biasanya lebih sering menyerang anak-anak, namun penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Infeksi ini cenderung bisa hilang dan sembuh dengan sendirinya dalam waktu dua hingga tiga minggu. Penyebab dari penyakit ini adalah saat kulit terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes. Bakteri itu dapat menginfeksi kulit dengan dua acara, yakni melalui kulit yang sehat, seperti luka, gigitan serangga atau luka lainnya. Dan melalui kulit rusak yang disebabkan oleh kutu, kudis atau eksim. Biasanya, dokter akan memberikan perawatan utama seperti krim antibiotik atau tablet antibiotik, obat ini harus digunakan sekitar satu minggu.
  • Diabetes Melitus
    Banyak penderita diabetes melitus memiliki borok di kaki. Hal ini disebabkan oleh kadar gula darah yang sangat tinggi, sehingga membuat arteri menjadi kaku dan pembuluh darah menyempit. Penyempitan tersebut dapat menghalangi aliran darah dan membuat oksigen serta beberapa nutrisi penting yang dibutuhkan untuk membantu penyembuhan luka terganggu. Pada penderita diabetes, borok di kaki merupakan komplikasi umum dari kondisi yang kurang terkontrol. Jika memiliki borok yang disebabkan oleh penyakit diabetes, segeralah ke dokter.  Untuk mengurangi risiko terjadi borok ini, Anda disarankan untuk mencuci kaki setiap hari, menjaga kebersihan kuku kaki dan memotongnya, menjaga kaki tetap kering, mengganti kaus kaki sesering mungkin, serta memakai sepatu yang tepat dan pas sesuai dengan bentuk kaki Anda.
  • Borok Vena Kaki
    Borok ini terjadi pada jaringan kulit yang rusak. Biasanya lebih sering menyerang wanita pada usia di atas 80 tahun. Borok kaki vena sering dijumpai di atas pergelangan kaki. Penyakit ini diakibatkan peningkatan tekanan darah di pembuluh darah kaki bagian bawah. Hal ini menyebabkan pembengkakan, penebalan, dan kerusakan pada kulit. Kulit yang rusak tersebut akhirnya menjadi borok. Ada beberapa cara yang biasa disarankan dokter untuk mengobati borok vena kaki, di antaranya melalui pemberian obat antibiotik, oksigen hiperbarik, hingga operasi untuk memperbaiki tekanan di dalam pembuluh darah. Berhentilah merokok karena zat kimia dalam rokok dapat mengganggu penyembuhan kulit.
  • Borok Perut (ulkus lambung)
    Salah satu borok yang tidak bisa Anda lihat adalah borok yang berada di perut atau ulkus lambung. Biasanya orang yang memiliki ulkus lambung akan merasakan sakit pada perutnya. Borok di perut ini sama seperti sariawan yang kerap terjadi di dalam mulut. Munculnya borok ini bisa disebabkan oleh tingginya kadar asam lambung, infeksi bakteri H. pylori, penggunaan jangka panjang obat anti-inflamasi nonsteroid atau NSAID (aspirin, ibuprofen, dan naproxen), serta penggunaan beberapa obat-obatan steroid dan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) yang digunakan untuk mengobati depresi.

Borok bisa saja mengganggu penampilan Anda. Rasa gatal yang tak kunjung henti juga bisa membuat Anda lelah menggaruknya. Sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Biasanya dokter akan meresepkan antibiotik yang dioleskan ke kulit atau yang diminum bila terdapat kemungkinan infeksi bakteri.