Kenapa bayi sering kentut sering membuat orang tua khawatir. Padahal, umumnya ini adalah hal normal karena sistem pencernaan bayi masih berkembang. Meski begitu, penting bagi orang tua untuk mengetahui kapan kentut pada bayi masih wajar dan kapan perlu diperhatikan.
Untuk memahami kenapa bayi sering kentut, orang tua perlu mengetahui bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan cara bayi menyusu, kebiasaan menelan udara, dan proses pematangan sistem pencernaan. Pada bayi usia 0–12 bulan, frekuensi kentut memang cenderung lebih sering dan umumnya tidak berbahaya.

Meski begitu, ada beberapa penyebab dan kondisi tertentu yang dapat membuat gas terbentuk lebih banyak dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Dengan memahami faktor-faktor ini, orang tua dapat lebih tenang sekaligus waspada terhadap tanda yang perlu diperhatikan.
Penyebab Kenapa Bayi Sering Kentut
Berikut ini adalah beberapa penyebab kenapa bayi sering kentut yang perlu orang tua pahami:
1. Menelan udara saat menyusu
Saat menyusu, bayi bisa ikut menelan udara, terutama jika posisi menyusu kurang tepat atau pelekatan mulut belum optimal. Udara yang masuk ini akan terkumpul di saluran cerna dan akhirnya dikeluarkan dalam bentuk sendawa atau kentut.
Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi yang menyusu menggunakan botol. Oleh karena itu, membantu bayi bersendawa setelah menyusu sangat penting untuk mengurangi penumpukan gas.
2. Proses pencernaan ASI atau susu formula
Sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan, sehingga proses mencerna laktosa dari ASI atau susu formula belum sepenuhnya efisien. Saat laktosa dicerna oleh bakteri baik di usus, gas akan terbentuk sebagai hasil samping alami. Inilah sebabnya bayi bisa kentut lebih sering meskipun terlihat sehat.
Selama bayi tetap nyaman dan berat badannya naik sesuai usia, kondisi ini umumnya tidak berbahaya.
3. Menangis terlalu lama
Penyebab kenapa bayi sering kentut selanjutnya adalah kebiasaan bayi menelan udara saat menangis dalam waktu lama. Semakin lama bayi menangis, semakin banyak udara yang masuk ke saluran pencernaan.
Udara tersebut dapat menyebabkan perut terasa penuh, kembung, dan memicu kentut lebih sering. Menenangkan bayi sejak awal rewel dapat membantu mengurangi jumlah udara yang tertelan.
4. Penggunaan botol susu atau dot yang tidak sesuai
Dot botol dengan lubang yang terlalu besar dapat membuat bayi menelan susu terlalu cepat, sedangkan lubang yang terlalu kecil membuat bayi menyedot lebih kuat dan menelan lebih banyak udara. Kedua kondisi ini dapat meningkatkan pembentukan gas di perut bayi.
Selain itu, posisi botol yang tidak tepat juga bisa memperparah masuknya udara. Memilih botol dan dot yang sesuai usia bayi dapat membantu mengurangi masalah ini.
5. Perut kembung atau kolik
Kolik dan perut kembung sering dikaitkan dengan peningkatan gas di saluran cerna bayi, terutama pada usia di bawah 5 bulan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan bayi sering menangis, menarik kaki ke arah perut, dan sulit ditenangkan.
Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, kolik umumnya bersifat sementara dan akan membaik seiring pertumbuhan. Kentut yang sering pada kondisi ini merupakan cara tubuh bayi melepaskan gas berlebih.
6. Adaptasi sistem pencernaan terhadap MPASI
Saat bayi mulai mengonsumsi MPASI, saluran pencernaannya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan jenis makanan baru. Beberapa makanan dapat menghasilkan gas lebih banyak selama proses pencernaan.
Akibatnya, bayi bisa mengalami peningkatan frekuensi kentut dalam masa transisi ini. Memperkenalkan MPASI secara bertahap membantu sistem cerna bayi beradaptasi dengan lebih baik.
Kapan Sering Kentut pada Bayi Perlu Diwaspadai
Meski sering kentut umumnya normal, beberapa gejala berikut perlu menjadi perhatian:
- Bayi tampak sangat rewel, menangis terus-menerus, atau sulit ditenangkan
- Perut bayi terlihat membesar, terasa keras, atau tampak sangat kembung
- Kentut sering disertai muntah berulang atau muntah menyemprot
- Bayi mengalami diare terus-menerus atau perubahan warna dan konsistensi tinja yang tidak biasa
- Nafsu menyusu menurun atau bayi menolak menyusu
- Berat badan bayi tidak bertambah sesuai usia atau justru menurun
- Bayi tampak lemas, kurang aktif, atau terlihat kesakitan
Cara Sederhana Mengurangi Kentut pada Bayi
Beberapa langkah berikut ini dapat membantu mengurangi gas berlebih dan membuat bayi lebih nyaman:
- Pastikan posisi menyusu sudah benar dan bantu bayi bersendawa setelah menyusu
- Gunakan botol susu dan dot dengan ukuran lubang yang sesuai usia bayi
- Jaga agar bayi tidak menangis terlalu lama dan segera tenangkan saat mulai rewel
- Pijat lembut perut bayi atau lakukan gerakan mengayuh kaki untuk membantu pengeluaran gas
- Perkenalkan MPASI secara bertahap dan satu per satu sesuai usia bayi
- Perhatikan reaksi bayi terhadap jenis susu atau makanan tertentu
-
Pastikan bayi berada dalam posisi nyaman setelah menyusu
Kentut pada bayi umumnya akan berkurang seiring bertambahnya usia dan semakin matangnya sistem pencernaan. Selama bayi tetap aktif, tampak nyaman, dan tidak menunjukkan tanda bahaya, seperti perut kembung keras, muntah hebat, diare berkepanjangan, atau berat badan tidak bertambah, orang tua tidak perlu khawatir berlebihan.
Namun, bila Bunda atau Ayah merasa cemas terkait kenapa bayi sering kentut atau justru menemukan gejala yang tidak biasa pada Si Kecil, sebaiknya segera mencari saran medis. Untuk mendapatkan penjelasan yang tepat dan sesuai kondisi bayi, Bunda dapat melakukan Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER.
Dengan begitu, dokter dapat memastikan penyebabnya dan memberikan penanganan awal sesuai kondisi, termasuk menyarankan pemeriksaan lebih lanjut bila diperlukan.