Kista ovarium biasanya jinak dan sering hilang sendiri. Namun, jika tidak terdeteksi atau ditangani, kista dapat menimbulkan komplikasi serius yang berdampak pada kesehatan, menurunkan kesuburan, dan dalam beberapa kasus bahkan mengancam nyawa.
Komplikasi Kista Ovarium
Berikut adalah komplikasi kista ovarium yang perlu untuk diwaspadai:
1. Torsi ovarium
Kista berukuran besar bisa membuat ovarium menjadi berat dan menyebabkan ovarium berputar atau terpuntir di sekitar jaringan penyangganya. Kondisi ini menghambat suplai darah ke ovarium dan tuba falopi. Gejala dari kondisi ini yaitu nyeri perut hebat dan tiba-tiba pada satu sisi, mual, muntah, bahkan kadang disertai demam.
Torsio ovarium perlu segera ditangani karena kondisi ini dapat menghambat aliran darah ke ovarium. Jika penanganannya terlambat, jaringan ovarium berisiko mengalami kematian (nekrosis), sehingga fungsi reproduksi dapat terganggu.
2. Kista pecah
Kista ovarium dapat pecah, terutama jika ukurannya cukup besar, terjadi benturan pada perut, atau saat berhubungan seksual. Saat kista pecah, penderita bisa merasakan nyeri perut yang muncul secara tiba-tiba dan terasa sangat hebat.
Kondisi ini juga dapat disertai perdarahan ke dalam rongga perut. Bila perdarahan terjadi dalam jumlah banyak, keadaan tersebut dapat memicu syok dan memerlukan penanganan medis segera.
3. Perdarahan
Pada kondisi tertentu, kista yang pecah dapat merobek pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan hebat di dalam rongga perut. Gejala yang dapat muncul antara lain pusing, tubuh terasa sangat lemas, tekanan darah menurun, kulit tampak pucat, hingga penurunan kesadaran.
Perdarahan di dalam rongga perut merupakan kondisi serius yang memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat.
4. Infeksi atau abses
Kista ovarium dapat terinfeksi bakteri, terutama jika kista pecah. Infeksi ini dapat menyebabkan terbentuknya kumpulan nanah di area panggul. Akibatnya, penderita bisa mengalami demam tinggi, nyeri di bagian panggul, dan tubuh terasa sangat lemas.
Jika infeksi tidak segera ditangani dan menyebar ke seluruh tubuh, kondisi ini dapat berkembang menjadi sepsis, yaitu reaksi infeksi berat yang dapat mengancam nyawa.
5. Gangguan kesuburan
Beberapa jenis kista ovarium, seperti kista akibat endometriosis dan sindrom ovarium polikistik (PCOS), dapat mengganggu proses pelepasan sel telur (ovulasi). Akibatnya, wanita bisa mengalami kesulitan untuk hamil.
Selain itu, infeksi atau tindakan pengangkatan kista sebelumnya dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut atau perlekatan di sekitar organ reproduksi. Kondisi ini berisiko menyumbat saluran telur, sehingga peluang terjadinya kehamilan menjadi lebih kecil.
6. Kanker ovarium
Pada wanita yang sudah memasuki masa menopause atau memiliki faktor risiko tertentu, kista ovarium dapat berkembang menjadi kanker ovarium. Sayangnya, gejala pada kondisi ini sering kali tidak khas sehingga sulit dikenali sejak awal.
Keluhan biasanya baru terasa saat penyakit sudah lebih lanjut, seperti perut tampak semakin membesar, berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas, serta sering mengalami gangguan pencernaan, misalnya cepat kenyang atau perut terasa kembung.
7. Gangguan pada organ sekitar
Kista ovarium yang tumbuh sangat besar dapat menekan organ di sekitarnya, seperti kandung kemih dan usus. Tekanan ini bisa menimbulkan keluhan berupa sering buang air kecil, sembelit, atau gangguan buang air besar.
Berbagai komplikasi tersebut dapat berkembang dengan cepat dan membahayakan kesehatan jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan ginekologi secara rutin. Segera cari pertolongan medis bila muncul nyeri perut mendadak, perdarahan hebat, atau keluhan lain yang tidak biasa.
Untuk mendapatkan informasi awal atau membahas keluhan yang Anda alami, Anda juga dapat menggunakan layanan Chat Bersama Dokter agar memperoleh saran medis sesuai kondisi Anda.