Dokter dapat menduga pasien terserang kutil kelamin, bila terdapat sejumlah gejala yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun pada kasus kutil kelamin yang tidak bisa dilihat kasat mata, dokter akan menjalankan pemeriksaan lebih detail, seperti:

Pap smear

Dalam prosedur ini, dokter akan membuka vagina pasien menggunakan alat khusus yang disebut spekulum. Alat ini memungkinkan dokter melihat bagian dalam vagina, hingga ke leher rahim (serviks). Kemudian, sampel sel di serviks akan diambil guna diteliti di laboratorium. Melalui Pap smear, dokter dapat mendeteksi keberadaan sel abnormal di serviks.

Kolposkopi

Sama seperti pada pemeriksaan Pap smear, dokter akan membuka vagina pasien menggunakan spekulum (cocor bebek). Kemudian, dokter akan menggunakan kolposkop (mikroskop yang dilengkapi lampu) untuk melihat sel-sel di dalam serviks. Agar area serviks terlihat lebih jelas, dokter akan mengoleskan cairan khusus.

Bila diperlukan, dokter akan menjalankan biopsi (pengambilan sampel jaringan) pada serviks, guna diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Tes HPV-DNA

Walaupun tipe virus HPV penyebab kutil kelamin berbeda dengan jenis HPV yang menyebabkan kanker leher rahim, virus HPV penyebab kanker rahim juga bisa ikut menginfeksi pasien. Melalui tes HPV DNA, dokter dapat mengetahui bila pasien juga terinfeksi virus HPV penyebab kanker leher rahim.

Pasien wanita yang didiagnosis kutil kelamin, disarankan untuk menjalani Pap smear tiap 3 atau 6 bulan sekali. Dengan begitu, dokter dapat mengetahui bila ada perubahan pada leher rahim pasien. Langkah ini penting, karena wanita yang menderita kutil kelamin berisiko tinggi terserang kanker leher rahim.