Mau Lebih Langsing? Kurangi Konsumsi Makanan Olahan

Banyak wanita mendambakan tubuh yang langsing dan ideal. Namun, di antara mereka masih banyak yang mengonsumsi makanan yang diproses atau makanan olahan, seperti nugget, sosis, atau keripik, supaya praktis dan cepat. Jika kamu termasuk di antara orang-orang itu, sebaiknya mulai sekarang kurangi kebiasaan mengonsumsi makanan olahan agar dietmu berhasil dengan baik.

Sebagian besar makanan olahan mengandung gula, garam, minyak, atau lemak yang berlebih. Tidak hanya itu, biasanya produk-produk ini juga mengandung bahan kimia yang belum tentu baik untuk tubuh, seperti pengembang, penambah rasa, atau pengawet. Selain menyebabkan kegemukan, sering mengonsumsi makanan yang mengandung banyak gula dan garam, bisa meningkatkan risiko penyakit gigi, penyakit jantung, serta diabetes.

Mau Lebih Langsing Kurangi Konsumsi Makanan Olahan-Alodokter

Apa Sih Makanan Olahan Itu?

Makanan olahan umumnya adalah makanan yang dikemas di dalam kaleng atau plastik, dibekukan, dipanggang, dikeringkan dan makanan kemasan lain yang banyak ditemukan di supermarket. Permen, keripik, kue, mi instan, nugget, sayur-sayuran kaleng atau potong, dan buah kaleng adalah contoh makanan olahan atau produk makanan yang diproses.

Awalnya, makanan olahan seperti sosis, sebenarnya bukan dibuat untuk orang sibuk yang butuh makanan praktis. Makanan jenis ini ditujukan untuk para tentara yang sulit mengakses makanan segar di medan perang. Jika dikonsumsi secara berlebihan, makanan ini sangat berbahaya karena memiliki kandungan garam, lemak, dan gula yang tinggi, sehingga berisiko mendatangkan berbagai penyakit, seperti stroke akibat hipertensi.

Bukan hanya sosis, beberapa merek margarin yang sering dikira sehat juga  mengandung lemak trans yang bisa meningkatkan kolesterol jahat. Bahkan, satu botol saus tomat dapat mengandung garam dan gula berlebihan. Kalori di dalam tubuh akan semakin menumpuk jika kamu menuangkan saus ini pada kentang goreng atau burger, dan memakannya.

Kenapa Makanan Olahan Tidak Dianjurkan?

Pada dasarnya, tubuh membutuhkan gula, garam, atau lemak agar bisa berfungsi dengan baik. Namun, jumlahnya tidak berlebihan, seperti yang banyak ditemukan di dalam makanan olahan. Sebagai contoh, sepotong roti pizza dapat mengandung 830 miligram gula, 21 gram lemak, dan 4 jenis gula berbeda.

Selain itu, studi menemukan bahwa kebanyakan orang yang rutin mengonsumsi makanan olahan, mendapat asupan gula melebihi batas maksimal yang dianjurkan. Maka dari itu, untuk menghindari masalah kesehatan, idealnya kamu mengonsumsi makanan dengan bahan-bahan yang segar. Makanan yang paling segar adalah makanan yang dibeli dari petani dan peternak lokal, sehingga sayur atau daging yang akan dikonsumsi tidak mengandung pengawet saat sampai di tanganmu.

Cara Membatasi Konsumsi Makanan Olahan

Tidak semua makanan olahan itu buruk, kamu juga tidak harus berhenti makan makanan olahan. Jalan tengahnya adalah memadukan makanan olahan dengan makanan segar. Misalnya menambahkan saus salad botol pada salad sayur atau buah yang kamu olah sendiri, makan yoghurt kemasan bersama buah segar, atau makan sereal gandum yang dicampur dengan buah.

Memeriksa kandungan dalam label kemasan juga perlu dilakukan agar kamu tahu berapa banyak kandungan gula, garam, atau lemak di dalam makanan tersebut. Untuk mengetahui batas tertinggi kadar gula, garam, atau lemak di dalam sebuah produk makanan, simak panduannya di bawah ini:

  • Lemak total: lebih dari 17,5 gram lemak per 100 gram.
  • Gula: lebih dari 22,5 gram per 100 gram.
  • Lemak jenuh: lebih dari 5 gram per 100 gram.
  • Garam: lebih dari 1,5 gram per 100 gram.

Selain mengurangi makanan olahan, pastikan kamu menjalani pola makan dengan nutrisi seimbang, dan jangan lupa memperbanyak minum air mineral sebagai pengganti minuman ringan kemasan, seperti soda, jus kemasan, teh kemasan, serta susu kotak yang biasanya tinggi gula. Yang tak kalah penting, imbangi pola makananmu dengan olahraga. Dengan melakukan hal-hal tersebut, kamu dapat menikmati makanan tanpa perlu khawatir lingkar pinggang mengembang dan bahaya penyakit di baliknya.

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi