Obat pelangsing perut kerap menjadi pilihan bagi sebagian orang yang enggan bersusah payah menjalani program diet alami, seperti berolahraga dan menjaga pola makan. Namun, sebelum mengonsumsi obat pelangsing perut, ada baiknya bila Anda mencari tahu jenis dan keamanannya.

Memiliki berat badan ideal dan tubuh langsing tidak hanya dapat meningkatkan penampilan dan rasa percaya diri, tetapi juga baik untuk kesehatan tubuh. Selain itu, berat badan berlebih juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Kenali Jenis Obat Pelangsing Perut Beserta Efek Sampingnya - Alodokter

Untuk melangsingkan tubuh sekaligus menurunkan berat badan, berbagai obat atau pil pelangsing pun banyak dikonsumsi secara bebas. Padahal, penggunaan obat tersebut tidak boleh sembarangan.

Apa Saja Jenis Obat Pelangsing Perut dan Bagaimana Efek Sampingnya?

Berikut ini adalah beberapa jenis obat pelangsing perut yang sering kali digunakan beserta efek sampingnya:

1. Obat penghambat penyerapan lemak

Obat pelangsing perut ini bekerja dengan cara menghalangi tubuh untuk menyerap lemak dari makanan yang dikonsumsi. Hasilnya, lemak akan langsung dikeluarkan dari tubuh saat buang air besar sehingga berat badan dapat berkurang. Jenis obat penghambat penyerapan lemak yang umum dikonsumsi adalah orlistat.

Meski begitu, obat penghambat penyerapan lemak juga bisa menimbulkan efek samping, seperti:

  • Sakit perut
  • Tinja berminyak
  • Buang angin berlebih
  • Buang air besar lebih sering dari biasanya atau bahkan tidak dapat mengontrol keinginan buang air besar

Efek samping tersebut umumnya masih bersifat ringan dan sementara, tetapi bisa juga menjadi lebih buruk jika Anda mengonsumsi makanan berlemak tinggi, misalnya gorengan atau makanan cepat saji.

Selama mengonsumsi jenis obat ini, Anda juga disarankan mengonsumsi multivitamin setiap 2 jam sebelum atau sesudah mengonsumsi obat penghambat penyerapan lemak. Hal ini karena obat tersebut juga dapat menghambat penyerapan vitamin tertentu.

2. Obat penurun nafsu makan

Sesuai namanya, obat pelangsing perut yang satu ini bekerja dengan cara menurunkan nafsu makan sekaligus memberikan efek kenyang lebih lama. Dengan begitu, berat badan akan menyusut dan perut pun mengecil. Salah satu contoh jenis obat ini adalah phentermine.

Walau obat tersebut memiliki khasiat dalam melangsingkan perut, ada beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan, yaitu:

Selain efek di atas, obat ini juga memiliki potensi ketergantungan atau penyalahgunaan obat sehingga tidak aman bagi seseorang yang memiliki riwayat kecanduan narkoba.

Selain itu, Anda juga tidak disarankan untuk mengonsumsi obat penurun nafsu makan jika sedang hamil atau menyusui dan memiliki riwayat penyakit jantung, stroke, gagal jantung, tekanan darah tinggi, glaukoma, serta hipertiroidisme.

Jika Anda menggunakan insulin untuk diabetes, sebaiknya beri tahu dokter terlebih dahulu agar dosisnya bisa disesuaikan.

3. Obat pencahar

Pada dasarnya, obat pencahar adalah obat untuk mengatasi sembelit. Namun, obat ini dipercaya dapat menurunkan berat badan dengan cara meningkatkan frekuensi buang air besar dan menurunkan tingkat penyerapan kalori makanan dalam tubuh.

Namun, pada kenyataannya, berat badan yang turun setelah mengonsumsi obat pencahar sebenarnya karena tubuh kehilangan air bukan kalori. Apabila kondisi ini terjadi terus-menerus, tubuh dapat mengalami dehidrasi dan gangguan elektrolit yang bisa berbahaya bagi kesehatan.

Selain itu, konsumsi obat pencahar untuk menurunkan berat badan dalam jangka panjang turut menyebabkan gangguan kesehatan lainnya, mulai dari sembelit, diare, hingga kerusakan usus.

Perlukah Mengonsumsi Obat Pelangsing Perut?

Penggunaan obat pelangsing perut tentu harus sesuai dengan resep dokter. Oleh karena itu, jika Anda mengalami obesitas dan memiliki masalah kesehatan terkait berat badan, sebaiknya konsultasikan ke dokter mengenai perlu atau tidaknya penggunaan obat pelangsing perut.

Jika disalahgunakan, jenis obat tersebut memiliki efek samping yang serius, bahkan bisa sangat membahayakan tubuh. Sebagian orang dengan kondisi tertentu bisa saja disarankan menggunakan obat pelangsing perut dengan pengawasan dokter, seperti:

  • Indeks massa tubuh (IMT) 30 atau lebih besar
  • IMT 27 atau lebih dan menderita penyakit diabetes tipe 2 atau tekanan darah tinggi
  • Berat badan tidak turun 0,45 kg dalam seminggu setelah enam bulan rutin menjalani olahraga dan menjaga pola makan

Jika Anda ingin mengonsumsi obat pelangsing perut untuk menurunkan berat badan, konsultasikan ke dokter lebih dulu guna memastikan keamanannya, terlebih bila Anda memiliki kondisi tertentu. Selain itu, pastikan obat yang Anda gunakan sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).