Mengatasi Kecanduan Alkohol Secara Efektif

Kecanduan alkohol ditandai dengan konsumsi alkohol secara berlebihan, tanpa memerhatikan pengaruhnya bagi tubuh dan aktivitas sehari-hari. Ada banyak cara efektif untuk mengatasi kecanduan alkohol. Dari cara sederhana hingga dengan bantuan medis. Yuk, simak ulasan berikut ini.

Kecanduan alkohol bisa dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat. Penyalahgunaan alkohol, biasanya ditandai dengan pola konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan dan memberi efek negatif bagi kesehariannya. Penyalahgunaan alkohol umumnya terus mengonsumsi alkohol tanpa mengenal situasi dan kondisi, serta tanpa memedulikan konsekuensinya, misalnya tetap minum alkohol hingga mabuk sambil berkendara.

Seiring waktu, pecandu alkohol memerlukan jumlah alkohol yang lebih banyak untuk bisa mencapai efek yang diharapkan, hingga mencapai tahap ketergantungan. Lebih dari keluhan psikis, penderita ketergantungan alkohol bahkan kerap mengalami keluhan secara fisik saat mereka tidak mengonsumsinya. Pengaruh negatif kecanduan alkohol juga dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar pecandu, terutama keluarga, misalnya karena tindak kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh pecandu alkohol.

Mengatasi kecanduan alkohol bisa menjadi proses yang panjang dan membutuhkan niat yang kuat, juga didukung berbagai perawatan serta terapi. Langkah paling awal adalah melawan kecanduan alkohol serta menerima bahwa kebiasaan ini telah mendatangkan dampak negatif terhadap kehidupan Anda.

Mengatasi Kecanduan Alkohol dengan Strategi Individual

Ada beberapa strategi individual yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi kecanduan alkohol, antara lain:

  • Faktor lingkungan
    Waspadai faktor lingkungan di sekitar Anda yang bisa memicu Anda untuk mengonsumsi minuman beralkohol lagi. Anda bisa memulainya dengan memberitahu keluarga dan teman bahwa Anda berhenti minum alkohol. Meminta dukungan dari mereka untuk selalu mengingatkan tujuan Anda. Selain itu, Anda mungkin juga perlu untuk menjauhkan diri sejenak dari teman-teman, situasi atau tempat, yang bisa membuat Anda mengonsumsi minuman beralkohol lagi.
  • Pola hidup sehat
    Terapkan pola hidup sehat dengan makan makanan yang sehat dan teratur, rutin berolahraga, dan menerapkan pola tidur yang baik. Kebiasaan ini akan membantu mengatasi kecanduan alkohol yang dialami.
  • Lakukan kegiatan positif
    Hindari aktivitas yang melibatkan alkohol. Anda bisa melakukan hobi Anda, misalnya bercocok tanam atau berkebun, memancing, membaca buku, dan hobi lainnya yang tidak melibatkan alkohol.

Selain itu, Anda bisa mendukung upaya tersebut dengan kegiatan seperti yoga, meditasi, dan akupuntur. Ketiganya bisa membuat Anda lebih rileks dan mengurangi tingkat kecemasan dan stres, atau depresi yang mungkin ditimbulkan karena berhenti mengonsumsi minuman beralkohol.

Mengatasi Kecanduan Alkohol dengan Bantuan Medis

Jika Anda sudah mencoba berbagai cara di atas dan belum berhasil lepas dari kecanduan alkohol, maka Anda perlu segera menemui dokter untuk mendapat penanganan atau pengobatan yang efektif sesuai tingkat kecanduan Anda.

Berikut beberapa pilihan pengobatan yang biasa direkomendasikan dokter atau tenaga ahli lainnya:

  • Detoksifikasi

Program detoksifikasi akan ditawarkan sebagai penanganan pertama dan langkah penting untuk lepas dari kecanduan alkohol. Detoksifikasi berfungsi untuk mengeluarkan alkohol dari sistem tubuh Anda. Detoksifikasi dilakukan di pusat terapi atau pun rumah sakit. Butuh waktu setidaknya tujuh hari untuk prosedur detoksifikasi ini. Anda juga mungkin butuh tambahan obat untuk mencegah gejala ketergantungan alkohol dalam proses detoksifikasi, seperti gemetar, kebingungan, halusinasi, dan kejang.

  • Konseling dan Terapi perilaku

Umumnya dokter akan merekomendasikan Anda kepada konselor atau program penanganan kecanduan alkohol lainnya. Program ini bertujuan membantu Anda mempelajari strategi dan cara mengatasi dorongan untuk kembali minum. Umumnya, dorongan menjalani kebiasaan lama semakin kuat setelah Anda kembali ke lingkungan. Konseling bisa dilakukan secara pribadi atau pun berkelompok. Bergabung dengan orang yang sedang mengalami hal sama akan membantu Anda untuk saling mendukung dalam mengatasi kecanduan alkohol. Ada beberapa jenis terapi perilaku yang bisa membantu Anda untuk berhenti dari kecanduan alkohol, antara lain:

  • Cognitive-behavioral therapy (CBT). Terapi perilaku kognitif membantu Anda mengidentifikasi perasaan dan situasi yang dapat menyebabkan Anda ingin mengonsumsi minuman ber Anda akan diajarkan bagaimana mengelola stres dan mengubah pikiran yang menyebabkan Anda ingin minum.
  • Terapi peningkatan motivasi. Terapi ini membantu Anda membangun dan memperkuat motivasi untuk mengubah perilaku Anda, terkait kecanduan alkohol.
  • Konseling keluarga, mencakup pasangan dan anggota keluarga lainnya. Tak hanya membantu memperbaiki hubungan keluarga, terapi ini juga merupakan wujud dari dukungan keluarga terhadap tujuan Anda untuk bebas dari kecanduan alkohol.
  • Obat-Obatan

Ada beberapa obat medis yang digunakan untuk mengatasi kecanduan alkohol. Obat-obatan tersebut antara lain:

  • Disulfiram
    Disulfiram merupakan obat yang dapat digunakan sebagai terapi pendukung dalam mengatasi ketergantungan alkohol.
  • Acamprosate
    Acamprosate adalah jenis obat terbaru untuk membantu memerangi kecanduan alkohol. Obat ini mengubah kimia otak agar menurunkan rasa cemas, kekesalan, serta rasa kecanduan akibat alkohol.
  • Naltrexone
    Naltrexone dapat diberikan dalam bentuk tablet atau obat suntik. Obat ini bekerja dengan menghalangi efek "senang atau nyaman" yang ditimbulkan oleh alkohol di otak Anda. Hal ini akan membantu Anda untuk merasa tidak perlu dan enggan mengonsumsi minuman ber

Dalam penerapannya, berbagai metode pengobatan di atas perlu dikombinasikan untuk mendapatkan hasil terbaik dari usaha Anda membebaskan diri dari kecanduan alkohol. Jika terdapat teman atau kerabat Anda menderita kecanduan alkohol, pastikan untuk selalu memberikan dukungan dalam segala usaha yang dilakukannya.

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi