Diet ketogenik atau diet keto adalah pola makan yang membatasi atau bahkan sama sekali tidak mengonsumsi karbohidrat. Diet ketogenik dipercaya dapat memberikan banyak manfaat bagi tubuh, mulai dari mengurangi berat badan hingga menurunkan risiko penyakit tertentu, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Diet ketogenik yang membatasi asupan karbohidrat akan membuat tubuh untuk masuk ke dalam keadaan ketosis, yaitu menumpuknya zat sisa keton di dalam darah.

Mengenal Diet Ketogenik dan Manfaatnya - Alodokter

Hal ini terjadi karena kekurangan karbohidrat akan membuat tubuh menggunakan jaringan lemak sebagai sumber energi alternatif. Pembakaran lemak inilah yang akan menghasilkan keton dan membuat tubuh berada dalam kondisi ketosis.

Manfaat Diet Ketogenik

Dengan melakukan diet ketogenik, asupan gula dan karbohidrat sederhana akan berkurang, namun tubuh akan mendapatkan asupan energi dan nutrisi dari lemak dan protein. Hal inilah yang membuat diet ketogenik dipercaya memberikan banyak kebaikan bagi tubuh.

Berikut ini adalah beberapa manfaat diet ketogenik:

1. Menurunkan berat badan

Mengurangi karbohidrat merupakan salah satu cara sederhana untuk menurunkan berat badan. Diet rendah karbohidrat, seperti diet ketogenik, dapat membantu memangkas jaringan lemak berlebih di tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi. Selain itu, diet ini juga membuat asupan energi menjadi lebih stabil.

Sayangnya, manfaat diet ketogenik untuk menurunkan berat badan tampaknya hanya berlangsung dalam jangka waktu pendek. Efektivitas diet ketogenik untuk menjaga stabilnya berat badan dalam jangka panjang masih perlu diteliti lebih lanjut.

2. Mengurangi kejang pada penderita epilepsi

Diet ketogenik telah digunakan untuk mencegah atau mengurangi kejang pada anak-anak dan orang dewasa penderita epilepsi. Beberapa riset kesehatan menunjukkan bahwa diet ketogenik terbukti dapat membantu mengurangi kekambuhan gejala epilepsi, khususnya pada epilepsi yang sulit terkontrol dengan pengobatan.

Meski demikian, efektivitas diet ketogenik sebagai bentuk penanganan penyakit epilepsi masih membutuhkan bukti dan studi lebih dalam.

3. Mencegah resistensi insulin dan diabetes tipe 2

Mengurangi asupan karbohidrat dan gula adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah peningkatan kadar gula darah dan membantu mengontrol gula darah. Selain itu, diet ketogenik juga dapat membantu mencegah resistensi insulin dan mengurangi risiko terkena penyakit diabetes tipe 2.

Namun jika Anda minum obat penurun gula darah dan ingin menerapkan diet ketogenik, harap konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mencegah hipoglikemia.

4. Mengurangi kadar kolesterol dan trigliserida

Orang yang menjalani diet ketogenik akan mengonsumsi lebih banyak lemak sehat, protein, dan serat. Pola makan ini dalam jangka panjang dapat membantu mengurangi kadar kolestrol jahat (LDL) dan trigliserida, serta meningkatkan kolesterol baik (HDL).

 5. Memelihara kesehatan jantung

Kelebihan kadar kolesterol jahat LDL merupakan salah satu penyebab terbentuknya plak di pembuluh darah (aterosklerosis). Oleh karena itu, diet ketogenik yang dapat mengurangi kadar kolesterol jahat merupakan salah cara untuk mencegah hal tersebut.

Selain itu, diet ketogenik juga dapat membantu menurunkan atau menjaga stabilnya tekanan darah. Karena beberapa manfaat itulah, diet ketogenik dianggap baik bagi kesehatan jantung.

6. Menjaga kinerja dan fungsi otak

Menurut penelitian, diet ketogenik diduga dapat memperbaiki fungsi memori, daya konsentrasi, dan menunda penuaan otak. Hal ini diduga dapat mencegah terjadinya pikun, serta mengurangi risiko penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson. Namun, klaim ini masih membutuhkan bukti dan studi lebih lanjut.

Meski dianggap baik bagi kesehatan, harap diperhatikan bahwa diet ketogenik dapat menimbulkan berbagai efek samping, seperti kelaparan, mual, konstipasi, sakit kepala, kelelahan, batu ginjal, tidak berenergi, hingga kekurangan vitamin dan mineral.

Selain itu, diet ketogenik juga tidak disarankan untuk orang yang menderita penyakit tertentu, seperti gangguan makan, gangguan empedu, dan diabetes tipe 1. Oleh karena itu, sebelum Anda menerapkan pola makan ini, berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter jika Anda memiliki penyakit atau kondisi medis tertentu.