Pantozol adalah obat yang bermanfaat untuk mengurangi produksi asam lambung yang berlebihan. Obat ini bisa digunakan untuk mengatasi tukak lambung, ulkus duodenum, GERD, dan sindrom Zollinger-Ellison. Pantozol berbahan aktif pantoprazole.
Pantoprazole dalam Pantozol bekerja dengan cara menghambat kerja pompa yang bertugas untuk memproduksi asam lambung. Berbekal cara kerja ini, Pantozol efektif meredakan gejala akibat asam lambung naik, seperti nyeri ulu hati, mual, panas di dada, atau sulit menelan.

Seiring berkurangnya kadar asam lambung, iritasi atau luka di dinding lambung, usus halus, serta kerongkongan akan lebih mudah sembuh. Obat ini juga dapat digunakan bersama antibiotik untuk mengoptimalkan pengobatan infeksi H.pylori.
Produk Pantozol
Pantozol merupakan obat resep yang tersedia dalam 3 macam varian, yaitu:
- Pantozol 20 mg 7 Tablet, yang berbahan aktif 20 mg pantoprazole tiap tabletnya
- Pantozol 40 mg 7 tablet, dengan kandungan 40 mg pantoprazole per tablet
- Pantozol suntik, yang berisi 40 mg pantoprazole tiap 1 vial
Apa Itu Pantozol
| Bahan aktif | Pantoprazole |
| Golongan | Obat resep |
| Kategori | Penghambat pompa proton |
| Manfaat | Mengurangi produksi asam lambung pada penyakit asam lambung (GERD) dan sindrom Zollinger-Ellison |
| Mendukung penyembuhan tukak lambung, ulkus duodenum, dan esofagitis erosif (radang kerongkongan akibat GERD) | |
| Digunakan oleh | Dewasa |
| Pantozol untuk ibu hamil | Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. |
| Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. | |
| Pantozol untuk ibu menyusui | Obat berbahan aktif pantoprazole, seperti Pantozol, umumnya aman digunakan oleh ibu menyusui. Diskusikan dengan dokter perihal dosis dan aturan pakai obat ini selama menyusui. |
| Bentuk obat | Tablet dan suntik |
Peringatan sebelum Menggunakan Pantozol
Pantozol adalah obat yang hanya boleh digunakan sesuai anjuran dokter. Sebelum menggunakannya, pastikan Anda memahami beberapa hal penting berikut ini:
- Beri tahu dokter mengenai riwayat alergi yang dimiliki. Pantozol tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap pantoprazole atau obat golongan penghambat pompa proton lain, seperti omeprazole, esomeprazole, atau lansoprazole.
- Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang mengalami penyakit liver, diare, penyakit ginjal, kejang, osteoporosis, gangguan pernapasan, atau penyakit autoimun, misalnya lupus.
- Sampaikan kepada dokter perihal penggunaan Pantozol jika Anda pernah atau sedang menderita hipomagnesemia, hipokalemia, hipoparatiroid, atau defisiensi vitamin B12.
- Diskusikan dengan dokter mengenai konsumsi Pantozol jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk produk herbal atau suplemen. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi interaksi obat yang tidak diinginkan.
- Informasikan kepada dokter bahwa Anda sedang menggunakan Pantozol jika direncanakan untuk menjalani tindakan medis apa pun, termasuk endoskopi.
- Jangan memberikan Pantozol kepada anak usia kurang dari 5 tahun. Hindari juga pemberian obat ini kepada lansia >70 tahun tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
- Pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
- Segera ke dokter jika terjadi reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah menggunakan Pantozol.
Dosis dan Aturan Pakai Pantozol
Dosis Pantozol akan disesuaikan dengan kondisi yang ditangani dan respons pasien terhadap pengobatan. Secara umum, dosis Pantozol untuk mengurangi produksi asam lambung adalah sebagai berikut:
Pantozol tablet
Kondisi: Tukak lambung, ulkus duodenum, dan esofagitis erosif
- Dewasa: 40 mg, 1 kali sehari. Dosis bisa ditingkatkan menjadi 80 mg. Pengobatan dilakukan selama 2–4 minggu untuk ulkus duodenum, 4 minggu untuk esofagitis erosif, dan 4–8 minggu untuk tukak lambung.
Kondisi: Infeksi Helicobacter pylori
- Dewasa: 40 mg, 2 kali sehari. Pengobatan ini dikombinasikan dengan antibiotik, seperti clarithromycin, amoxicillin, atau metronidazole.
Kondisi: Gastroesophageal disease (GERD)
- Dewasa: 20–40 mg, 1 kali sehari, selama 4 minggu atau 8 minggu bila masih perlu. Setelah itu, dosisnya 20 mg 1 kali sehari jika ada gejala saja.
Kondisi: Sindrom Zollinger-Ellison
- Dewasa: 40 mg, 2 kali sehari. Dosis bisa ditingkatkan hingga 240 mg per hari bila perlu. Jika dosis harian >80 mg, obat dibagi dalam 2 kali pemberian.
Pantozol suntik
Pantozol bentuk suntik dapat diberikan kepada penderita GERD, esofagitis erosif akibat GERD, dan sindrom Zollinger-Ellison, yang tidak bisa mengonsumsi Pantozol tablet. Dosis pemberian Pantozol suntik akan ditentukan oleh dokter sesuai dengan kondisi pasien.
Pemberian Pantozol suntik bisa dihentikan jika pasien sudah dapat mengonsumsi Pantozol minum.
Cara Menggunakan Pantozol dengan Benar
Ikuti anjuran dokter dan bacalah informasi yang tertera pada label kemasan obat sebelum menggunakan Pantozol. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa persetujuan dokter.
Untuk Pantozol bentuk tablet, perhatikanlah cara penggunaan yang benar berikut ini:
- Pantozol sebaiknya dikonsumsi saat perut kosong, yakni 1 jam sebelum makan.
- Telan tablet Pantozol secara utuh dengan bantuan air putih tanpa dibelah, dikunyah, atau digerus terlebih dahulu.
- Patuhilah saran dokter perihal makanan yang perlu dikonsumsi setiap hari untuk mendukung penyembuhan. Konsultasikan juga mengenai perlunya tambahan suplemen vitamin B12. Hal ini karena penggunaan Pantozol dalam jangka panjang mungkin akan membuat tubuh kekurangan vitamin B12.
- Apabila Anda lupa mengonsumsi Pantozol, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, jika waktu konsumsi obat berikutnya sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
- Lakukan kontrol sesuai jadwal yang diberikan dokter agar kondisi dan respons terapi dapat terpantau.
- Simpan Pantozol di tempat bersuhu ruangan, kering, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
- Jangan menggunakan Pantozol yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa.
Sementara itu, Pantozol bentuk suntik akan diberikan langsung oleh dokter atau petugas medis dalam pengawasan dokter. Obat ini disuntikkan ke pembuluh darah (intravena/IV).
Interaksi Pantozol dengan Obat Lain
Kandungan pantoprazole dalam Pantozol bisa menyebabkan interaksi obat jika digunakan bersama obat-obatan tertentu. Efek interaksi obat yang terjadi dapat berupa:
- Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika digunakan bersama warfarin
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping dari methotrexate
- Penurunan efektivitas rilpivirine dalam mengobati HIV
- Penurunan efektivitas ketoconazole dan itraconazole untuk mengatasi infeksi jamur
- Peningkatan risiko terjadinya hipomagnesemia bila digunakan bersama obat diuretik, misalnya indapamide
- Penurunan efektivitas clopidogrel dalam mencegah serangan jantung atau stroke
Untuk mencegah terjadinya efek interaksi obat, diskusikan dengan dokter jika Anda berencana menggunakan Pantozol bersama obat, produk herbal, atau suplemen apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Pantozol
Mengingat Pantozol mengandung pantoprazole, ada efek samping yang mungkin terjadi setelah minum obat ini antara lain:
- Sakit kepala atau pusing
- Mual atau muntah
- Diare
- Sakit perut
- Perut kembung
- Nyeri sendi
Konsultasikan lewat Chat Bersama Dokter apabila keluhan di atas tidak segera mereda atau makin parah. Dokter akan memberikan saran atau pengobatan untuk mengatasi efek samping tersebut.
Segera cari pertolongan medis jika muncul reaksi alergi obat atau efek samping serius, seperti:
- Nyeri yang tiba-tiba, atau kesulitan menggerakkan pinggul, pergelangan tangan, atau punggung
- Sakit perut berat dan diare berair yang disertai darah
- Pusing berat, jantung berdetak cepat atau tidak teratur, tremor, serta kram otot
- Perburukan gejala lupus yang sudah ada atau muncul keluhan yang baru, seperti nyeri sendi, serta ruam di pipi atau lengan yang bertambah parah ketika terkena sinar matahari
- Gangguan ginjal, yang ditandai dengan mual, demam, sulit buang air kecil, urine berdarah, tungkai bengkak, dan berat badan bertambah