Penyakit tiroid pada wanita adalah gangguan yang disebabkan oleh kelainan bentuk atau fungsi kelenjar tiroid. Kondisi ini sering kali tidak disadari karena gejalanya mirip dengan keluhan sehari-hari, seperti kelelahan atau gangguan suasana hati. Padahal, mengenali gangguan tiroid sejak dini dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi.
Kelenjar tiroid merupakan organ kecil berbentuk seperti kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher. Kelenjar ini berperan penting dalam mengatur metabolisme, suhu tubuh, detak jantung, serta energi tubuh. Ketika penyakit tiroid pada wanita muncul, berbagai sistem tubuh pun dapat ikut terpengaruh.

Penyakit tiroid pada wanita lebih sering terjadi dibandingkan pada pria. Hal ini berkaitan dengan fluktuasi hormon yang dialami wanita, terutama selama masa kehamilan, setelah melahirkan, maupun menjelang menopause.
Penyakit Tiroid pada Wanita dan Gejalanya
Penyakit tiroid terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid) dan hipertiroidisme (kelebihan hormon tiroid). Gejala penyakit tiroid pada wanita bisa berbeda-beda, tergantung pada jenisnya, apakah hipotiroidisme atau hipertiroidisme.
Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala yang dapat dialami wanita dengan gangguan tiroid:
- Berat badan dapat naik atau turun drastis meski pola makan dan aktivitas tidak berubah.
- Siklus haid menjadi tidak teratur, terlalu banyak, atau bahkan berhenti sama sekali.
- Mudah cemas, murung, atau gampang marah tanpa alasan yang jelas.
- Tubuh terasa lemas, cepat lelah, atau sulit fokus meski tidak melakukan aktivitas berat.
- Sulit tidur nyenyak, sering terbangun di malam hari, atau justru mudah mengantuk di siang hari.
- Rambut mudah rontok, kulit tampak kering, dan kuku lebih rapuh dari biasanya.
- Jantung terasa berdebar atau berdetak lebih lambat tanpa sebab yang jelas.
- Muncul pembesaran kelenjar tiroid (gondok) yang tampak pada bagian depan leher.
Penyakit Tiroid pada Wanita dan Faktor risikonya
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit tiroid pada wanita antara lain:
1. Riwayat keluarga dengan penyakit tiroid
Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan tiroid, risiko Anda untuk mengalami hal serupa meningkat. Pasalnya, faktor genetik berperan penting dalam memengaruhi peluang seseorang mengalami gangguan kelenjar tiroid.
Oleh karena itu, wanita dengan riwayat keluarga perlu lebih waspada dan rutin memeriksakan kadar hormon tiroid, terutama jika mulai merasakan gejala tidak biasa.
2. Perubahan hormon
Perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan, setelah melahirkan, atau saat menopause dapat memengaruhi fungsi kelenjar tiroid. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit tiroid pada wanita.
Oleh karena itu, memperhatikan perubahan fisik dan emosi selama periode ini penting agar gangguan dapat dikenali sejak awal.
3. Penyakit autoimun
Riwayat penyakit autoimun, seperti lupus atau diabetes tipe 1, juga dapat meningkatkan penyakit tiroid pada wanita. Kondisi autoimun dapat menyebabkan sistem kekebalan menyerang jaringan kelenjar tiroid, sehingga menimbulkan gangguan produksi hormon.
4. Konsumsi obat-obatan tertentu
Beberapa obat, seperti lithium dan amiodarone, dapat memengaruhi fungsi tiroid. Hal ini karena cara kerjanya berpengaruh terhadap produksi hormon, sehingga meningkatkan risiko hipotiroidisme atau pembesaran kelenjar tiroid (gondok).
Sementara itu, obat-obatan tertentu mengandung yodium dalam jumlah tinggi. Asupan yodium berlebih ini dapat mengganggu keseimbangan hormon tiroid dan memicu hipotiroidisme maupun hipertiroidisme, tergantung pada respons tubuh.
5. Paparan radiasi
Riwayat terapi radiasi pada area kepala atau leher, terutama sebagai bagian dari pengobatan kanker, dapat meningkatkan risiko penyakit tiroid pada wanita. Radiasi dapat merusak sel-sel tiroid dan mengganggu kemampuannya dalam memproduksi hormon.
Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk melakukan pemeriksaan fungsi tiroid secara berkala setelah menjalani terapi radiasi.
Penyakit tiroid pada wanita sering kali dapat dideteksi melalui pemeriksaan darah sederhana untuk mengukur kadar hormon tiroid (TSH, T3, dan T4). Bila Anda mengalami gejala mencurigakan, seperti perubahan berat badan, gangguan haid, atau mudah lelah tanpa sebab, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.
Menjaga pola makan bergizi, cukup istirahat, dan mengelola stres dengan baik juga berperan penting dalam menjaga kesehatan tiroid. Selain itu, konsumsi makanan dengan kadar yodium yang cukup, seperti garam beryodium atau ikan laut, dapat membantu mendukung fungsi kelenjar tiroid.
Penyakit tiroid pada wanita tidak hanya menyebabkan pembengkakan di leher, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon, suasana hati, kesuburan, dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Oleh karena itu, jika Anda merasakan keluhan yang dicurigai akibat penyakit tiroid pada wanita, sebaiknya konsultasikan ke dokter melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan saran penanganan yang tepat dan sesuai.