Penyebab penyakit kista pada wanita kerap tidak disadari, karena gejalanya yang samar atau bahkan tidak terasa sama sekali di awal kemunculan. Makanya, mengenali penyebab kista sejak dini sangatlah penting agar kondisi ini bisa dicegah sebelum berkembang menjadi masalah yang serius.
Kista adalah kantung kecil yang berisi cairan, udara, atau bahan setengah padat yang dapat tumbuh di berbagai bagian tubuh. Ada beberapa jenis kista yang bisa dialami oleh wanita, seperti kista ovarium, kista payudara, dan kista bartholin atau kista vagina.
Sebagian besar penyakit kista pada wanita bersifat jinak dan bisa menghilang dengan sendirinya. Namun, kista dapat menjadi berbahaya jika membesar dan menimbulkan gejala. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab penyakit kista pada wanita agar dapat mengambil langkah pencegahan sejak dini.
Dengan mengetahui apa yang memicu terbentuknya kista, Anda dapat lebih waspada dan menjaga kesehatan dengan lebih baik.
Inilah Penyebab Kista pada Wanita
Berikut ini adalah penyebab penyakit kista pada wanita berdasarkan jenisnya:
Kista Ovarium
Kista ovarium merupakan salah satu kista yang umum dialami oleh wanita. Kondisi ini terjadi ketika terbentuk kantung berisi cairan di dalam atau di permukaan ovarium. Terbentuknya kista ovarium ini biasanya disebabkan oleh beragam hal, seperti:
1. Ketidakseimbangan hormon
Ketidakseimbangan hormon dapat menjadi penyebab kista ovarium pada wanita. Ini karena hormon berperan penting dalam mengatur proses ovulasi dan fungsi ovarium secara keseluruhan.
Dalam siklus menstruasi normal, hormon estrogen dan progesteron bekerja bergantian untuk mematangkan sel telur dan mempersiapkan tubuh wanita untuk ovulasi. Namun, jika terjadi ketidakseimbangan hormon, misalnya kadar estrogen terlalu tinggi atau progesteron terlalu rendah, maka proses pelepasan sel telur bisa terganggu.
Akibatnya, folikel yang seharusnya pecah untuk melepaskan sel telur akan tetap tertutup dan terisi cairan. Nah, hal inilah yang memicu munculnya kista.
2. Endometriosis
Endometriosis bisa menjadi salah satu penyebab penyakit kista pada wanita. Pasalnya, kondisi ini membuat jaringan mirip lapisan rahim tumbuh di luar rahim, misalnya di ovarium.
Ketika menstruasi terjadi, jaringan tersebut juga akan menebal dan mengeluarkan darah layaknya jaringan di dalam rahim. Namun, karena letaknya di luar rahim, darah itu tidak bisa keluar dari tubuh dan akhirnya tertahan. Seiring waktu, penumpukan darah tersebut membentuk kantung berisi cairan berwarna cokelat tua yang dikenal sebagai kista endometriosis atau chocolate cyst.
Kista endometriosis bisa menyebabkan nyeri hebat saat haid, nyeri perut bawah, dan bahkan gangguan kesuburan jika dibiarkan tanpa penanganan.
3. Radang panggul
Salah satu penyebab penyakit kista pada wanita adalah radang panggul atau pelvic inflammatory disease. Soalnya, kondisi ini membuat organ reproduksi bagian dalam, seperti rahim, tuba falopi, dan ovarium, mengalami peradangan.
Saat peradangan terjadi, tubuh akan memproduksi cairan atau nanah untuk melawan infeksi. Nah, cairan ini bisa terperangkap dan akhirnya membentuk kantung berisi cairan atau kista di sekitar ovarium.
Selain itu, peradangan kronis juga dapat merusak jaringan ovarium dan mengganggu proses ovulasi. Akibatnya, folikel yang seharusnya melepaskan sel telur bisa gagal pecah dan berubah menjadi kista fungsional.
Umumnya, penyakit radang panggul sering dipicu oleh bakteri penyebab infeksi menular seksual, misalnya Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae.
4. Polycystic ovary syndrome (PCOS)
Sindrom ovarium polikistik atau PCOS juga bisa menjadi penyebab penyakit kista pada wanita. Soalnya, kondisi ini terjadi ketika tubuh memproduksi hormon androgen secara berlebihan sehingga mengganggu proses pematangan dan pelepasan sel telur. Akibat gangguan tersebut, folikel di ovarium gagal matang dan akhirnya menumpuk menjadi kista kecil yang berisi cairan.
Selain memicu kista, PCOS juga bisa menyebabkan gejala lain, seperti haid tidak teratur, jerawat, kulit berminyak, hingga pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh.
5. Gangguan tiroid
Kista ovarium juga mungkin dialami oleh wanita yang memiliki gangguan tiroid, seperti hipertiroidisme maupun hipotiroidisme. Pasalnya, kedua kondisi tersebut bisa saja memicu ketidakseimangan hormon reproduksi yang membuat proses ovulasi tidak berjalan normal.
Nah, sel telur yang seharusnya dilepaskan dari ovarium bisa gagal keluar atau justru terperangkap di dalam folikel. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan terbentuknya kantung berisi cairan atau kista ovarium.
Jika tidak dikendalikan, gangguan tiroid yang berlangsung lama dapat membuat siklus haid menjadi tidak teratur dan meningkatkan risiko munculnya penyakit kista baru di kemudian hari.
Kista payudara
Selain kista ovarium, wanita juga bisa mengalami kista payudara. Kondisi ini terjadi ketika cairan menumpuk di dalam saluran atau jaringan payudara, membentuk benjolan yang terasa kenyal atau lembut saat disentuh. Berikut adalah penyebab kista payudara pada wanita:
1. Perubahan hormon estrogen
Salah satu penyebab utama penyakit kista pada wanita, termasuk kista payudara, adalah perubahan kadar hormon estrogen. Saat kadar hormon ini meningkat, misalnya menjelang menstruasi, jaringan payudara dapat menahan lebih banyak cairan. Nah, penumpukan cairan inilah yang kemudian membentuk kantung kecil berisi cairan atau kista payudara.
2. Penyumbatan saluran susu
Kista payudara juga bisa terjadi akibat penyumbatan pada saluran susu di payudara. Saat saluran tersebut tersumbat, cairan tidak bisa keluar dengan normal dan akhirnya menumpuk. Nah, penumpukan cairan inilah yang lama-kelamaan membentuk kantung berisi cairan atau kista payudara.
Kondisi ini ditandai dengan benjolan lunak di payudara yang bisa membesar atau terasa nyeri, terutama menjelang menstruasi saat kadar hormon estrogen meningkat. Nah, hal Inilah yang menjadi salah satu penyebab penyakit kista pada wanita yang sering muncul setelah masa menyusui.
3. Bertambahnya usia
Penyebab penyakit kista pada wanita, khususnya kista payudara adalah bertambahnya usia. Kondisi ini paling sering muncul pada wanita usia 40–50 tahun yang mendekati masa menopause.
Menjelang menopause, tubuh mengalami penurunan produksi hormon yang mengatur siklus menstruasi dan fungsi jaringan payudara. Saat kadar estrogen naik turun secara tidak stabil, jaringan payudara bisa bereaksi dengan menahan lebih banyak cairan. Cairan tersebut kemudian dapat terperangkap di dalam saluran dan membentuk kista.
Selain itu, perubahan hormon pada masa perimenopause juga bisa membuat jaringan payudara menjadi lebih sensitif, terasa nyeri, atau menebal. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terbentuknya benjolan berisi cairan.
4. Penggunaan terapi hormon
Penggunaan terapi hormon, seperti pil KB atau terapi penggantian hormon pada masa menopause, dapat menjadi salah satu penyebab terbentuknya kista payudara.
Hal ini terjadi karena terapi hormon memengaruhi keseimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita. Kadar hormon yang berubah-ubah dapat merangsang jaringan kelenjar payudara dan menyebabkan terbentuknya kantong berisi cairan atau kista.
Selain itu, paparan hormon tambahan dalam jangka panjang juga bisa menyebabkan payudara menjadi lebih sensitif dan mudah membengkak, terutama pada wanita yang sudah memiliki riwayat penyakit kista sebelumnya.
Kista vagina
Kista vagina juga kerap dialami oleh wanita. Umumnya, kondisi ini muncul akibat penyumbatan pada kelenjar atau saluran di sekitar area vagina yang menyebabkan penumpukan cairan. Berikut ini adalah beberapa penyebab penyakit kista vagina pada wanita:
1. Penyumbatan saluran kelenjar bartholin
Salah satu penyebab paling umum adalah tersumbatnya kelenjar Bartholin di kedua sisi bibir vagina. Kelenjar ini berfungsi memproduksi cairan pelumas saat berhubungan intim. Jika salurannya tersumbat, cairan menumpuk dan membentuk kista Bartholin.
2. Kebersihan area kewanitaan yang kurang terjaga
Kebersihan organ intim yang tidak dijaga dengan baik dapat meningkatkan risiko infeksi dan penyumbatan kelenjar di area vagina. Penggunaan celana dalam terlalu ketat, produk pembersih kewanitaan dengan bahan keras, atau kelembapan berlebih juga bisa memicu iritasi dan pembentukan kista.
3. Infeksi bakteri pada vagina
Infeksi bakteri, terutama akibat kebersihan area kewanitaan yang kurang terjaga, dapat memicu peradangan pada saluran atau kelenjar di sekitar vagina. Peradangan ini bisa menyumbat aliran cairan dan menimbulkan penumpukan cairan yang berujung pada kista.
4. Trauma atau cedera pada area vagina
Trauma pada area vagina, seperti akibat melahirkan, episiotomi, atau operasi di sekitar vagina, dapat menyebabkan terbentuknya kista inklusi vagina. Kista ini berasal dari jaringan yang terperangkap di bawah permukaan kulit akibat proses penyembuhan luka.
5. Kista Gartner
Kista Gartner terbentuk dari sisa saluran Gartner, yaitu saluran yang terbentuk saat masa janin di dalam kandungan. Jika bagian kecil dari saluran ini tidak menghilang setelah lahir, bisa berkembang menjadi kista di sepanjang dinding vagina.
Itulah berbagai penyebab penyakit kista pada wanita berdasarkan jenis kista yang dialami ya. Dengan mengetahui penyebabnya, Anda bisa lebih mudah mencegah dan mengenali gejalanya sejak awal.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan langkah pencegahan sejak dini, mulai dari menjaga pola makan sehat, menghindari stres berlebihan, rutin berolahraga, menjaga kebersihan organ intim, hingga melakukan pemeriksaan rutin ke dokter. Dengan cara ini, risiko terbentuknya berbagai jenis kista pada wanita bisa diminimalkan.
Namun, bila Anda merasakan gejala penyakit kista, sebaiknya jangan menunggu sampai parah. Anda bisa segera berkonsultasi dengan dokter melalui fitur Chat Bersama Dokter untuk mendapatkan penjelasan langsung dari ahlinya.
