Perina adalah layanan perawatan intensif neonatal yang sangat penting untuk bayi baru lahir dengan kondisi khusus, seperti lahir prematur, berat badan lahir rendah, atau gangguan pernapasan. Dukungan dari ruang perina sangat memengaruhi keselamatan serta tumbuh kembang bayi di masa-masa awal kehidupannya.
Sebagian besar bayi yang dirawat di ruang perina merupakan mereka yang lahir sebelum cukup bulan atau mengalami komplikasi serius usai persalinan. Perina juga memegang peranan penting dalam merawat bayi dengan infeksi berat, gangguan jantung bawaan, maupun masalah pernapasan lainnya.

Penting untuk diketahui, ruang perinatologi (perina) berbeda dengan NICU (neonatal intensive care unit). Perina ditujukan untuk bayi baru lahir yang membutuhkan pemantauan atau perawatan khusus dengan tingkat sedang, misalnya bayi yang butuh bantuan alat, pengaturan suhu, atau nutrisi tambahan, tetapi tetap dalam kondisi relatif stabil.
Ruang perina juga didukung oleh berbagai tenaga medis, mulai dari perawat khusus, bidan, dokter umum, hingga dokter spesialis anak.
Sementara NICU dikhususkan untuk bayi yang kondisinya kritis atau sangat berat, seperti bayi prematur ekstrem atau yang memerlukan alat bantu hidup dan pengawasan intensif selama 24 jam nonstop. Dengan adanya pembagian ini, setiap bayi akan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan dan tingkat keparahan kondisinya.
Kapan Bayi Membutuhkan Perina
Ada beberapa kondisi yang membuat bayi harus mendapatkan perawatan khusus di ruang perina, di antaranya:
1. Lahir prematur
Bayi disebut prematur jika lahir sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu. Pada usia ini, organ-organ penting, seperti paru-paru, jantung, dan sistem pencernaan biasanya belum berkembang sempurna. Bayi prematur lebih rentan mengalami masalah pernapasan, sulit mengatur suhu tubuh, dan kesulitan makan atau minum.
Di ruang perina, bayi prematur akan diawasi secara ketat, diberikan alat bantu napas jika perlu, serta dijaga suasana lingkungan agar tetap hangat dan nyaman untuk mendukung pertumbuhan dan pemulihan.
2. Berat badan lahir rendah
Bayi dengan berat badan kurang dari 2,5 kg atau berat badan lahir rendah memiliki cadangan lemak dan energi yang sedikit, sehingga tubuhnya lebih sulit menahan dingin dan lebih mudah terkena infeksi. Selain itu, bayi dengan berat badan rendah juga berisiko kekurangan zat gizi dan mengalami gangguan perkembangan.
Di perina, bayi akan dipantau kebutuhan nutrisinya, diberikan asupan makanan atau cairan melalui infus/selang bila belum mampu menyusu, dan dijaga agar suhu tubuhnya selalu stabil.
3. Bayi tidak langsung menangis setelah lahir
Bayi yang lahir dengan nilai Apgar rendah umumnya tidak segera menangis, tampak lemas, atau mengalami kesulitan bernapas setelah lahir. Kondisi ini bisa menandakan adanya gangguan pernapasan, cairan yang masih menyumbat saluran napas, infeksi, atau kelainan bawaan tertentu.
Jika tidak segera ditangani, bayi berisiko mengalami kekurangan oksigen yang dapat memengaruhi fungsi organ tubuh, termasuk otak.
Dengan perawatan di ruang perina, bayi akan langsung diberikan alat bantu napas (seperti oksigen atau ventilator), pengawasan detak jantung dan saturasi oksigen, serta tindakan lain yang dibutuhkan untuk menstabilkan kondisinya.
4. Infeksi berat
Infeksi berat pada bayi baru lahir, misalnya sepsis, bisa menyebabkan demam, napas cepat, badan lemas, hingga kejang. Infeksi bisa berasal dari ibu, lingkungan, atau proses persalinan itu sendiri.
Bayi dengan infeksi seperti ini harus mendapatkan antibiotik dan cairan infus sesegera mungkin di ruang perina. Selain itu, dokter juga akan menilai perkembangan kondisi bayi setiap saat dan memberikan tindakan tambahan jika muncul komplikasi pada organ lain.
5. Komplikasi atau kelainan bawaan
Beberapa bayi terlahir dengan kelainan jantung, kelainan saraf, masalah metabolik, atau organ tubuh yang tidak berkembang sempurna. Kondisi ini sering kali sudah diketahui sejak dalam kandungan atau terdeteksi segera setelah bayi lahir.
Di ruang perina, bayi akan mendapatkan pemeriksaan lanjutan, tindakan medis awal, pengawasan intensif, dan bahkan dapat dilakukan operasi darurat. Semua ini bertujuan agar bayi dapat bertahan dan berkembang sebaik mungkin meskipun memiliki kondisi medis khusus.
Prosedur dan Fasilitas di Ruang Perina
Di ruang perina, terdapat berbagai fasilitas dan prosedur medis yang dirancang untuk mendukung kesehatan dan keselamatan bayi dengan kondisi khusus. Berikut di antaranya:
1. Inkubator dan alat penghangat
Inkubator adalah alat khusus berbentuk kotak transparan yang dapat mengatur suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara sesuai kebutuhan bayi. Fungsinya untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil dan melindungi bayi dari udara dingin, kuman, atau paparan luar.
Alat penghangat lain, seperti radiant warmer, juga dapat digunakan untuk memberikan kehangatan pada bayi yang sangat kecil atau prematur, terutama saat bayi perlu dipantau secara langsung setelah lahir.
2. Alat bantu napas (ventilator atau CPAP)
Bayi yang belum mampu bernapas sendiri atau mengalami gangguan pernapasan memerlukan alat bantu napas, seperti ventilator atau CPAP. Ventilator adalah alat yang membantu bayi bernapas secara otomatis, sedangkan CPAP (continuous positive airway pressure) memberikan aliran udara bertekanan agar saluran napas bayi tetap terbuka.
Dengan bantuan alat ini, kadar oksigen dalam darah bayi bisa dipertahankan dalam batas normal, sehingga organ-organ vital dapat bekerja optimal.
3. Pemberian nutrisi khusus
Tidak semua bayi di ruang perina bisa langsung menyusu dari ibu karena kondisi tubuh yang masih lemah atau refleks menelan yang belum sempurna. Oleh sebab itu, bayi di ruang perina akan mendapatkan asupan nutrisi melalui infus atau selang makan yang dimasukkan ke mulut atau hidung (nasogastric tube).
Nutrisi yang diberikan bisa berupa cairan atau ASI perah sesuai kebutuhan dan rekomendasi dokter.
4. Monitoring ketat
Semua bayi di ruang perina akan dipantau secara terus-menerus selama 24 jam. Alat monitor akan mencatat detak jantung, laju napas, kadar oksigen darah (saturasi), suhu tubuh, dan tekanan darah bayi. Jika ada perubahan pola napas, detak jantung, atau kadar oksigen, tim medis bisa segera melakukan tindakan.
Pemantauan ini sangat penting karena kondisi bayi baru lahir bisa berubah dengan sangat cepat.
5. Penanganan infeksi dan komplikasi lainnya
Jika bayi didiagnosis mengalami infeksi, dokter akan memberikan antibiotik lewat infus serta melakukan tes darah dan pemeriksaan lain yang diperlukan. Untuk komplikasi lain, seperti gangguan jantung, masalah gula darah, atau perdarahan, dokter akan memberikan obat-obatan, transfusi darah, atau bahkan tindakan bedah jika memang dibutuhkan.
Semua keputusan terapi akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap bayi.
Lama perawatan di ruang perina sangat bervariasi, mulai dari beberapa hari hingga berminggu-minggu, sesuai kondisi dan perkembangan bayi. Biasanya, orang tua tetap diberi kesempatan untuk mendampingi, memberikan sentuhan, serta ASI secara bertahap jika kondisi bayi mendukung.
Dukungan emosional dari keluarga sangat penting selama proses perawatan di ruang perina. Jangan ragu bertanya atau berdiskusi dengan dokter tentang perkembangan dan kebutuhan bayi. Adanya informasi yang jelas bisa membantu orang tua beradaptasi dan menenangkan perasaan di masa sulit ini.
Jika Anda mendapat informasi bahwa bayi harus dirawat di ruang perina, pastikan untuk memahami alasan, prosedur, dan tahapan perawatan yang akan dijalani. Perhatikan selalu tanda bahaya, seperti bayi tampak semakin lemah, tidak mau minum, atau tampak sesak. Bila muncul perubahan mencurigakan, segera konsultasikan ke dokter.
Perawatan perina memang tidak mudah bagi keluarga. Namun, layanan ini sangat penting untuk memberikan bayi peluang tumbuh kembang serta keselamatan yang optimal.
Jika Anda membutuhkan penjelasan lebih detail atau ingin mendiskusikan kondisi bayi Anda, gunakan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Anda dapat bertanya secara langsung dan mendapatkan informasi yang tepat dari dokter tepercaya.