Sakit perut dan perubahan berat badan yang terjadi secara bersamaan sebaiknya tidak dianggap sepele. Soalnya, kedua kondisi ini bisa menandakan adanya masalah kesehatan, salah satunya gangguan pada saluran cerna. Oleh karena itu, penyebabnya perlu diketahui, agar penanganan bisa segera dilakukan.
Sakit perut dan perubahan berat badan memang sama-sama termasuk keluhan yang umum terjadi. Namun, bila keduanya dialami bersamaan, hal ini menandakan adanya masalah kesehatan yang perlu ditangani. Selain itu, perlu diketahui bahwa perubahan berat badan bukan hanya karena perubahan pola makan, tetapi karena ada gangguan di dalam tubuh.

Penyebab Sakit Perut dan Perubahan Berat Badan
Banyak kondisi medis yang bisa menyebabkan sakit perut dan perubahan berat badan terjadi bersamaan. Berikut ini adalah beberapa penyebab yang perlu diwaspadai:
1. Gangguan saluran pencernaan
Gangguan saluran pencernaan, seperti gastritis (radang lambung), tukak lambung, infeksi saluran cerna akibat bakteri atau parasit, penyakit radang usus, serta kanker saluran cerna bisa menyebabkan sakit perut sekaligus perubahan berat badan, baik penurunan maupun kenaikan.
Gejala lain yang sering menyertai gangguan saluran pencernaan, antara lain mual, muntah, diare, sembelit, atau BAB berdarah.
2. Kanker saluran cerna
Kanker saluran cerna bisa terjadi di bagian saluran cerna mana pun, seperti lambung atau usus. Kanker ini bisa menyebabkan sakit perut yang tidak kunjung reda dan penurunan berat badan yang drastis, meski nafsu makan masih terasa normal.
Tidak hanya sakit perut dan perubahan berat badan, kanker saluran cerna juga bisa menimbulkan gejala lain, seperti mual, muntah, lemas, susah makan, BAB berdarah, atau feses berwarna hitam.
3. Gangguan metabolisme dan hormon
Penyakit tiroid, seperti tiroid terlalu aktif (hipertiroid), bisa memicu berat badan turun dengan cepat meski nafsu makan meningkat. Kondisi ini juga disertai sakit perut, diare, atau jantung berdebar. Sebaliknya, hipotiroid menyebabkan berat badan naik tiba-tiba, serta sering disertai perut kembung dan sembelit.
4. Diabetes
Diabetes yang tidak terkontrol bisa menyebabkan berbagai masalah, termasuk sakit perut dan perubahan berat badan. Pada diabetes tipe 1, berat badan biasanya turun karena tubuh tidak bisa memanfaatkan gula darah sebagai sumber energi, sehingga lemak dan otot ikut terpakai.
Pada diabetes tipe 2, kenaikan berat badan bisa terjadi akibat tubuh menyimpan lebih banyak lemak. Sementara itu, sakit perutnya bisa terjadi karena komplikasi, seperti gastroparesis, yaitu kondisi saat lambung lambat mengosongkan makanan.
Selain sakit perut, gastroparesis bisa menimbulkan gejala lain, seperti sering haus, sering buang air kecil, mudah lapar, mudah lelah, mual, atau muntah.
5. Efek samping obat-obatan tertentu
Konsumsi obat, terutama kortikosteroid dan beberapa antidepresan, bisa menyebabkan sakit perut, perubahan nafsu makan, serta kenaikan berat badan karena cairan tertahan di dalam tubuh. Beberapa obat lain dapat mengiritasi lambung sehingga menyebabkan nyeri atau rasa tidak nyaman di perut.
6. Infeksi dan penyakit kronis
Infeksi kronis, seperti tuberkulosis usus (TB usus), HIV, atau penyakit hati kronis, sering menimbulkan sakit perut, mual, tubuh lemas, serta penurunan berat badan yang signifikan. Kondisi ini biasanya juga terkait dengan gangguan penyerapan nutrisi tubuh, sehingga berat badan semakin sulit dipertahankan.
7. Gangguan penyerapan gizi
Penyakit yang mengganggu penyerapan nutrisi, seperti malabsorpsi, penyakit celiac, atau intoleransi laktosa, menyebabkan nutrisi dari makanan tidak terserap dengan baik. Akibatnya, berat badan menurun meski pola makan normal. Biasanya, gejala lain seperti perut kembung, sering buang air besar, diare, atau feses berminyak juga dapat terjadi.
8. Penyakit liver
Penyakit liver atau hati, seperti sirosis, juga bisa menyebabkan sakit perut dan perubahan berat badan, baik naik maupun turun. Biasanya, sakit perut terasa di bagian kanan atas perut. Penurunan berat badan bisa terjadi karena nafsu makan berkurang, tubuh sulit mencerna lemak, atau nutrisi tidak terserap dengan baik. Sementara itu, kenaikan berat badan terjadi karena adanya cairan yang menumpuk di perut (asites).
9. Tipes
Tipes merupakan infeksi bakteri Salmonella typhi yang menyerang saluran pencernaan. Karena menyerang saluran pencernaan, infeksi ini menyebabkan sakit perut dengan disertai demam tinggi. Selain itu, tipes juga bisa menyebabkan penurunan berat badan karena nafsu makan hilang dan nutrisi tidak terserap dengan baik.
Cara Mengatasi Sakit Perut dan Perubahan Berat Badan
Mengalami sakit perut yang disertai perubahan berat badan memang bisa membuat cemas, apalagi jika penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah tidak panik dan mulai memperhatikan pola hidup sehari-hari dan gejala yang dialami.
Saat mengalami sakit perut dan perubahan berat badan, sebaiknya segera ke dokter agar penanganan tepat bisa diberikan sesuai penyebabnya. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan, bila perlu, melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, USG, atau endoskopi, agar sumber masalah bisa diketahui.
Selain pemeriksaan ke dokter, ada beberapa cara yang bisa mempercepat pemulihan serta mencegah kondisi menjadi parah. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan di rumah:
- Usahakan makan dalam porsi tetapi lebih sering.
- Pilih makanan yang mudah dicerna, serta perbanyak konsumsi sayur, buah segar, dan sumber protein yang rendah lemak.
- Hindari makanan atau minuman yang memicu iritasi saluran cerna, seperti makanan pedas, asam, tinggi lemak, dan minuman bersoda.
- Minum air putih yang cukup setiap hari untuk mencegah dehidrasi, terutama bila sering mengalami muntah atau diare.
- Kelola stres dengan mencoba teknik relaksasi sederhana, seperti meditasi, napas dalam, atau melakukan hobi yang menyenangkan.
- Istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
Itulah berbagai penyebab dan cara mengatasi sakit perut dan perubahan berat badan. Selain penyebab yang telah dijelaskan di atas, sakit perut dan perubahan berat badan juga bisa disebabkan kondisi emosional, seperti stres atau depresi. Ada yang berat badannya turun karena tidak nafsu makan, ada juga yang malah bertambah karena makan berlebihan (stress eating).
Namun, yang pasti, sakit perut dan perubahan berat badan bukanlah keluhan yang boleh diabaikan, terlebih bila berlangsung lama atau disertai gejala berat lainnya. Jadi, untuk memastikan kondisi, konsultasikan ke dokter melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER, sehingga Anda bisa mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap.
Apabila keluhan makin buruk, muncul tanda bahaya, atau berat badan menurun drastis, segera buat janji konsultasi dengan dokter untuk memastikan diagnosis serta mendapatkan penanganan yang optimal.