Sanexon adalah obat yang bermanfaat untuk meredakan peradangan. Beberapa kondisi yang bisa diatasi dengan obat ini adalah radang sendi, radang usus, asma, dermatitis, lupus, hingga myeloblastosis. Sanexon memiliki kandungan methylprednisolone.

Sanexon termasuk dalam golongan obat kortikosteroid. Obat ini mampu mengurangi zat pemicu peradangan di dalam tubuh sehingga gejala peradangan, seperti kemerahan, bengkak, nyeri, maupun gatal-gatal, akan berangsur-angsur mereda.

Sanexon

Selain meredakan peradangan, Sanexon juga memiliki efek imunosupresif. Obat ini dapat menekan reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan. Berkat cara kerja tersebut, Sanexon bisa digunakan untuk mengatasi alergi berat, penyakit autoimun, serta reaksi penolakan dari tubuh setelah transplantasi organ.

Produk Sanexon

Berikut adalah varian produk Sanexon yang tersedia di Indonesia:

1. Sanexon tablet

Sanexon tablet terbagi dalam dua varian, yaitu:

2. Sanexon suntik

Sanexon suntik terdiri dari dua varian, yang mengandung 125 mg methylprednisolone atau 500 mg methylprednisolone.

Apa Itu Sanexon

Bahan aktif Methylprednisolone
Golongan Obat resep
Kategori Kortikosteroid
Manfaat Mengurangi peradangan, mengobati reaksi alergi berat, dan mencegah reaksi penolakan tubuh terhadap organ yang baru ditransplantasi
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak
Sanexon tablet untuk ibu hamil Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.
Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.
Sanexon tablet untuk ibu menyusui Jangan menggunakan Sanexon selama menyusui tanpa arahan dokter.
Bentuk obat style="vertical-align: top;"Tablet dan suntik

Peringatan sebelum Menggunakan Sanexon

Sebelum menggunakan Sanexon, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Sanexon tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap obat ini atau prednison.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit infeksi, seperti infeksi jamur, cacingan, abses, atau herpes. Beri tahu juga jika Anda melakukan kontak erat dengan penderita TBC, cacar, atau campak.
  • Beri tahu dokter jika Anda menderita penyakit ginjal, penyakit liver, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, osteoporosis, katarak, glaukoma, atau penyakit tiroid.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda sedang atau pernah menderita gangguan pembekuan darah, radang usus, tukak lambung, divertikulitis, myasthenia gravis, pheochromocytoma, kejang, depresi, atau psikosis.
  • Beri tahu dokter bahwa Anda sedang menggunakan Sanexon bila direncanakan menjalani vaksinasi, operasi, atau prosedur medis apa pun.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan Sanexon. Hal ini untuk mencegah terjadinya perdarahan saluran pencernaan
  • Diskusikan dengan dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau berencana untuk hamil.
  • Konsultasikan dengan dokter perihal penggunaan Sanexon jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal. Hal ini untuk mengantisipasi interaksi yang berbahaya.
  • Hindari kontak erat dengan penderita infeksi yang mudah menular, seperti flu, cacar air, atau campak, jika Anda menjalani pengobatan jangka panjang dengan Sanexon. Hal ini karena konsumsi obat tersebut dapat membuat Anda mudah tertular infeksi.
  • Segera temui dokter jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah menggunakan Sanexon.

Dosis dan Aturan Pakai Sanexon

Dosis Sanexon tergantung pada sediaan obat yang digunakan dan kondisi pasien. Secara umum, dosis Sanexon yang diberikan kepada pasien adalah:

Bentuk obat: Tablet

Tujuan: Meredakan peradangan dan mengobati reaksi alergi

  • Dewasa: 4–48 mg per hari. 
  • Anak-anak: dosis ditentukan oleh dokter berdasarkan berat badan anak. 

Bentuk: Suntik

Dosis Sanexon bentuk suntik ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi yang diderita pasien, antara lain:

  • Asma berat (status asmatikus)
  • Multiple sclerosis
  • Reaksi penolakan tubuh selama transplantasi organ
  • Penyakit autoimun
  • Radang sendi yang berat (suntikan langsung ke sendi), termasuk osteoarthritis, rheumatoid arthritis, atau bursitis
  • Kondisi peradangan berat pada kulit (suntikan langsung ke bagian kulit yang sakit), seperti alopecia areata, gejala lupus pada kulit, lichen planus, plak psoriasis, lichen simplex, dan granuloma annulare

Cara Menggunakan Sanexon dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan bacalah informasi yang tertera pada label kemasan obat sebelum menggunakan Sanexon. Hindari menambah atau mengurangi dosis tanpa persetujuan dokter.

Pada penggunaan Sanexon bentuk tablet, perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Konsumsilah Sanexon bersama makanan atau susu untuk mencegah sakit maag.
  • Pastikan untuk mengonsumsi Sanexon pada waktu yang sama setiap harinya agar hasil pengobatan maksimal. Jika Anda lupa, segera konsumsi obat ini begitu teringat. Namun, bila waktu minum obat berikutnya sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
  • Jangan menghentikan pengobatan tanpa seizin dokter karena bisa memperburuk gejala yang dialami atau menyebabkan gejala putus obat. Jika memang obat ini perlu dihentikan, dokter akan menggantinya dengan obat lain atau menurunkan dosis secara bertahap.
  • Jika Anda mengonsumsi Sanexon dalam jangka panjang, ikuti jadwal kontrol yang diberikan dokter. Hal ini agar kondisi dan hasil terapi dapat terpantau dengan baik.
  • Simpan Sanexon di tempat bersuhu ruangan dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Sementara itu, Sanexon bentuk suntik akan diberikan langsung oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Obat ini disuntikkan ke dalam pembuluh darah, otot, persendian, atau langsung ke area kulit yang sakit.

Interaksi Sanexon dengan Obat Lain

Penggunaan Sanexon bersama obat lain dapat menyebabkan efek interaksi, seperti:

  • Penurunan efektivitas vaksin atau peningkatan risiko terjadinya infeksi dari vaksin hidup, seperti vaksin BCG
  • Penurunan efektivitas dari obat isoniazid dalam mengobati TBC
  • Penurunan efektivitas obat antikolinesterase, seperti pyridostigmine, dalam mengobati myasthenia gravis
  • Penurunan efektivitas Sanexon jika digunakan bersama rifampicin, phenytoin, atau phenobarbital
  • Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika digunakan bersama antikoagulan, seperti warfarin
  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping Sanexon jika digunakan dengan tacrolimus, ketoconazole, atau cimetidine
  • Peningkatan risiko terjadinya perdarahan saluran cerna jika digunakan dengan obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen
  • Peningkatan terjadinya hipokalemia jika digunakan dengan amphotericin B atau diuretik

Untuk mencegah terjadinya efek interaksi obat, diskusikan dengan dokter jika Anda berencana menggunakan Sanexon bersama obat, produk herbal, atau suplemen apa pun.

Efek Samping dan Bahaya Sanexon 

Mengingat Sanexon mengandung methylprednisolone, ada efek samping yang mungkin terjadi setelah minum obat ini, antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Panas di dada 
  • Sulit tidur
  • Nafsu makan bertambah
  • Muncul jerawat
  • Keringat berlebih
  • Pusing atau sensasi seperti berputar
  • Sakit kepala
  • Siklus haid tidak teratur
  • Nyeri otot 
  • Tangan atau kaki membengkak akibat penumpukan cairan di area tersebut

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika efek samping di atas tidak kunjung reda atau malah memburuk. Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter melalui chat untuk mendapatkan penanganan awal.

Segera ke dokter bila muncul reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Sesak napas, bahkan ketika beraktivitas ringan
  • Berat badan naik drastis
  • Kulit menipis atau mudah memar
  • Luka yang tidak kunjung sembuh
  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan buram, nyeri pada mata, atau penyempitan lapang pandang (tunnel vision)
  • Perubahan perilaku atau depresi berat
  • Nyeri yang baru muncul di lengan, kaki, atau punggung
  • Kejang
  • BAB berdarah
  • Batuk berdarah atau muntah yang berwarna seperti kopi
  • Kekurangan kalium (hipokalemia), yang ditandai dengan detak jantung tidak teratur, tubuh terasa lemah, atau kram di kaki