Self-injury adalah perilaku menyakiti dan melukai diri sendiri yang dilakukan secara sengaja. Ini merupakan salah satu bentuk dari gangguan perilaku yang terkait dengan sejumlah penyakit kejiwaan. Yuk, pahami lebih jauh tentang gejala, penyebab, serta penangannya dalam ulasan berikut ini.

Self-injury dapat berupa tindakan melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul, seperti menyayat atau membakar kulit, memukul tembok, membenturkan kepala, dan mencabuti rambut. Penderita self-injury juga dapat dengan sengaja menelan sesuatu yang berbahaya, seperti cairan deterjen atau obat nyamuk, bahkan menyuntikkan racun ke dalam tubuh.

Self-Injury, Gangguan Psikologis Menyakiti Diri Sendiri - Alodokter

Berbagai Alasan Seseorang Menyakiti Diri Sendiri

Self-injury dilakukan untuk melampiaskan atau mengatasi emosi berlebih yang tengah dihadapi, misalnya stres, marah, cemas, benci pada diri sendiri, sedih, kesepian, putus asa, mati rasa, atau rasa bersalah. Bisa juga sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari pikiran yang mengganggu.

Berbagai emosi tersebut bisa muncul akibat dari:

Masalah sosial

Perilaku self-injury rentan terjadi pada orang yang sedang mengalami kesulitan hidup dan masalah sosial, misalnya menjadi korban bully (perundungan) di sekolah, atau tertekan dengan tuntutan dari orang tua dan guru.

Bisa juga karena sedang konflik dengan keluarga, pasangan, dan teman, atau mengalami krisis identitas yang menyangkut orientasi seksual.

Trauma psikologis

Kehilangan orang yang dicintai dan menjadi korban kekerasan emosional, fisik, atau seksual bisa membuat seseorang merasa hampa, mati rasa, dan rendah diri. Mereka menganggap dengan menyakiti diri sendiri bisa mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup dan merasakan sesuatu layaknya orang lain.

Gangguan mental

Self-injury ini juga bisa muncul sebagai gejala dari beberapa penyakit mental, seperti gangguan mood, depresi, gangguan makan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan penyesuaian, atau gangguan kepribadian ambang.

Ciri-Ciri Pelaku Self-Injury

Orang yang memiliki tendensi untuk menyakiti diri sendiri sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas. Perilaku self-injury tersebut biasanya dilakukan pada saat mereka sendirian, dan tidak di tempat umum.

Namun, beberapa ciri berikut mungkin menandakan seseorang memiliki kecendurungan untuk menyakiti diri sendiri:

  • Memiliki sejumlah luka di tubuhnya, seperti luka sayat di pergelangan tangan, luka bakar di lengan, paha, dan badan, atau memar di buku jari-jari tangan. Umumnya mereka akan menyembunyikan luka tersebut dan akan menghindar bila ditanya apa penyebabnya.
  • Memperlihatkan gejala depresi, seperti suasana hati yang buruk, sering merasa sedih, menangis, dan tidak memiliki motivasi dalam hidup.
  • Sulit bersosialisasi, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Mereka lebih suka menyendiri dan enggan berbicara dengan orang lain.
  • Cenderung tidak percaya diri atau menyalahkan diri sendiri atas masalah apa pun yang terjadi.
  • Sering mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, untuk menyembunyikan luka.

Perilaku mencederai diri sendiri berisiko menimbulkan luka fisik yang fatal, serta meningkatkan risiko bunuh diri. Lantaran aksi nekatnya, tak jarang pelaku self-injury harus dirawat di rumah sakit atau bahkan berakhir dengan kecacatan permanen hingga kematian.

Penanganan Self-Injury

Pelaku self-injury perlu mendapatkan perawatan khusus dari ahli kejiwaan, baik psikolog ataupun psikiater. Psikolog atau psikiater akan melakukan pemeriksaan untuk mendiagnosis perilaku self-injury dan menentukan penyebabnya. Penanganan akan diberikan sesuai penyebab munculnya perilaku ini.

Secara umum beberapa langkah penanganan pada penderita self-injury meliputi:

Perawatan medis

Penderita self-injury yang mengalami luka atau masalah kesehatan lain, perlu segera mendapat pertolongan medis, baik berupa rawat jalan maupun rawat inap.

Terapi dan konseling

Terapi dan konseling dengan psikiater atau psikolog bertujuan untuk mencari tahu penyebab tindakan self-injury, sekaligus menemukan cara terbaik untuk mencegah pasien melakukan tindakan ini lagi. Jenis terapi yang bisa dilakukan antara lain psikoterapi, terapi perilaku kognitif, terapi kelompok, dan terapi keluarga.

Selain menjalani terapi dan pengobatan di atas, orang yang memiliki tendensi untuk menyakiti diri sendiri juga disarankan untuk:

  • Tidak menyendiri. Carilah dukungan sosial dan psikologis dari teman, keluarga, atau kerabat dekat.
  • Menyingkirkan benda-benda tajam, zat kimia, atau obat-obatan yang bisa digunakan untuk melukai diri sendiri.
  • Bergabung dengan kegiatan-kegiatan positif, misalnya klub olahraga atau fotografi.
  • Mendalami hobi, seperti bermain musik atau melukis, guna membantu mengekspresikan emosi dengan cara yang positif.
  • Menghindari konsumsi minuman keras dan narkoba.
  • Mengalihkan perhatian ketika ada keinginan untuk melakukan self-injury.
  • Rutin berolahraga, mencukupi waktu tidur dan istirahat, serta mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang.

Menyakiti diri sendiri (self-injury) adalah salah satu bentuk gangguan perilaku yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Perilaku self-injury membutuhkan penanganan dari psikolog atau psikiater, terlebih jika kondisi ini berhubungan dengan gangguan mental tertentu.