Sianosis pada anak adalah kondisi ketika bibir, lidah, atau kuku anak menjadi membiru sehingga kerap membuat orang tua khawatir. Namun, tidak semua sianosis berarti bahaya. Penting bagi orang tua dan pengasuh untuk memahami apa saja penyebab sianosis pada anak dan kapan perlu memeriksakan Si Kecil ke dokter.
Sianosis adalah perubahan warna kulit atau selaput lendir menjadi kebiruan akibat tubuh anak tidak mendapatkan kadar oksigen yang cukup. Pada anak, kondisi ini sering membuat panik karena bisa muncul mendadak, misalnya setelah anak menangis, sesak, atau tampak kelelahan.

Hal ini bisa timbul karena berbagai hal, mulai dari paparan udara dingin hingga masalah pada jantung atau paru-paru. Oleh karena itu, penting sekali mengenali penyebab dan tanda-tanda sianosis pada anak sejak dini agar Bunda dan Ayah dapat segera memberikan pertolongan yang tepat.
Penyebab Sianosis pada Anak
Seperti yang telah disebutkan, sianosis dapat terjadi karena kadar oksigen dalam darah anak menurun. Saat tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen, darah yang seharusnya berwarna merah terang menjadi lebih gelap.
Akibatnya, bagian-bagian tubuh yang banyak mengandung pembuluh darah kecil, seperti bibir, kuku, dan lidah akan tampak berwarna kebiruan atau keunguan. Dengan demikian, sianosis menjadi tanda penting yang perlu diperhatikan orang tua, karena bisa menandakan tubuh anak kekurangan oksigen.
Lantas, apa yang bisa menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah anak? Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya sianosis pada anak:
1. Paparan suhu dingin ekstrem
Pada sebagian anak, berada di lingkungan yang sangat dingin bisa menyebabkan bibir atau kuku membiru sementara. Hal ini biasanya terjadi karena pembuluh darah di kulit mengecil untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat.
Biasanya, sianosis pada anak akibat suhu dingin akan hilang dengan sendirinya setelah anak dibawa ke tempat yang lebih hangat, diselimuti, atau diberikan pakaian tebal, maupun diberikan makanan hangat. Kondisi ini jarang kali berbahaya, tetapi tetap perlu dipantau agar tidak berisiko terjadi hipotermia.
2. Sumbatan jalan napas atau tersedak
Kondisi lain yang bisa menyebabkan terjadinya sianosis pada anak yaitu tersedak makanan atau benda asing yang kemudian menyumbat saluran pernapasan. Apabila suplai oksigen ke paru-paru terhambat, bibir dan kuku anak akan tampak kebiruan dalam waktu singkat.
Tersumbatnya saluran pernapasan ini merupakan kondisi darurat yang memerlukan pertolongan segera. Oleh karena itu, orang tua perlu waspada jika anak menunjukkan tanda tersedak, seperti tiba-tiba sulit bernapas, batuk, tidak bisa menangis atau berbicara, dan tampak membiru.
3. Penyakit jantung bawaan
Sianosis pada anak mungkin saja terjadi karena adanya penyakit jantung bawaan. Ini terjadi ketika struktur atau fungsi jantung anak tidak normal sejak lahir. Akibatnya, darah kaya oksigen dan darah kurang oksigen dapat tercampur di dalam jantung, sehingga ini dapat menyebabkan kadar oksigen dalam aliran darah turun.
Anak yang menderita gangguan jantung bawaan biasanya akan menunjukkan tanda sianosis sejak bayi atau baru terlihat ketika ia sedang aktif, menangis, atau sakit.
4. Infeksi saluran napas
Infeksi saluran napas, seperti bronkitis, bronkiolitis, atau pneumonia bisa membuat paru-paru anak kesulitan menyalurkan oksigen ke darah. Saat hal ini terjadi, tubuh tidak mendapat cukup oksigen, sehingga muncul warna kebiruan pada kulit atau kuku.
Nah, sianosis pada anak dengan infeksi pernapasan bisa saja ditandai dengan beberapa gejala lain yang harus Bunda waspadai, seperti napas cepat dan tidak teratur, sesak napas, demam, dan batuk-batuk.
Jika anak mengalami sianosis yang disertai keluhan tersebut, penanganan sangat penting dilakukan segera agar kondisi anak tidak semakin berat.
5. Asma
Asma adalah penyakit kronis atau menahun yang kerap menyebabkan saluran napas meradang dan menyempit. Ini merupakan salah satu penyebab sianosis pada anak yang cukup umum.
Serangan asma yang berat dapat membuat aliran udara menjadi sangat terbatas, sehingga tubuh kekurangan oksigen. Selain sianosis, anak bisa mengalami gejala napas berbunyi (mengi), sesak, batuk, dan tampak lemas. Serangan asma pada anak harus segera ditangani agar tidak membahayakan keselamatan anak.
6. Methemoglobinemia
Methemoglobinemia adalah kondisi langka ketika tubuh membentuk terlalu banyak methemoglobin, yaitu bentuk hemoglobin yang tidak bisa membawa oksigen secara efektif. Akibatnya, meski jumlah oksigen di dalam tubuh sekitar cukup, jaringan tubuh tetap kekurangan oksigen dan muncul sianosis. Penyebabnya bisa karena bawaan lahir atau paparan bahan kimia tertentu.
7. Anemia berat
Anemia berat, terutama pada anak, dapat membuat jumlah hemoglobin sebagai pembawa oksigen dalam darah berkurang drastis. Jika oksigen tidak cukup diangkut ke seluruh tubuh, bibir, kuku, atau kulit menjadi kebiruan. Selain sianosis, anemia berat biasanya juga disertai lemas, mudah capek, dan pucat.
8. Asfiksia
Asfiksia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen secara mendadak dan parah, misalnya akibat tenggelam, tercekik, kecelakaan, atau tersumbatnya jalan napas karena benda asing. Sianosis bisa muncul cepat dan harus segera ditangani karena sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa.
9. Kejang dan epilepsi
Pada beberapa kasus, anak yang mengalami kejang, terutama kejang karena epilepsi, bisa mengalami gangguan aliran oksigen ke otak dan tubuh sehingga timbul sianosis. Hal ini juga bisa terjadi pada anak dengan epilepsi yang serangannya melibatkan gangguan napas.
10. Gagal napas
Gagal napas adalah kondisi ketika paru-paru tidak mampu melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dengan baik. Ini bisa terjadi akibat penyakit, cedera, atau kerusakan berat pada paru-paru. Sianosis pada gagal napas adalah tanda bahaya yang perlu ditangani secepatnya.
11. Keracunan atau paparan zat berbahaya
Beberapa obat atau bahan kimia tertentu dapat menyebabkan turunnya kadar oksigen dalam darah anak. Misalnya, konsumsi obat tanpa resep dokter, terhirupnya asap bahan kimia, atau paparan zat-zat berbahaya di lingkungan sekitar. Hal ini bisa membuat tubuh anak kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup.
Jika kadar oksigen berkurang, sianosis pada anak bisa muncul, disertai gejala lain seperti lemas atau mual.
Penting bagi orang tua untuk selalu memantau aktivitas anak, menjauhkan obat dan bahan kimia dari jangkauan, serta segera berkonsultasi ke dokter jika Si Kecil menunjukkan tanda sianosis setelah terpapar zat yang tidak biasa.
Penanganan Tepat Sianosis pada Anak
Mendapati tanda sianosis pada anak memang bisa membuat orang tua dan keluarga khawatir. Namun, orang tua diharapkan untuk tetap tenang karena panik dapat membuat anak semakin cemas. Usahakan Bunda atau Ayah tetap tenang agar bisa mengambil keputusan tepat dan memberikan rasa aman pada Si Kecil.
Selain itu, lakukanlah beberapa cara berikut sebagai langkah penanganan dini guna:
- Bawa anak ke tempat terang, lalu perhatikan bibir, kuku, dan lidahnya. Amati apakah anak tampak sesak napas, sulit bicara, atau tampak lemas.
- Periksa apakah ada makanan, benda asing, atau cairan yang menghalangi pernapasan anak.
- Apabila anak sesak napas atau sianosis karena tersedak, coba menepuk punggung anak secara perlahan (Heimlich maneuver) atau segera bawa anak ke IGD atau puskesmas terdekat.
- Longgarkan pakaian dan bawa anak ke ruangan dengan udara segar.
- Pada sianosis karena udara dingin, hangatkan tubuh anak dengan selimut atau pakaian tebal. Berikan pelukan hingga anak hangat kembali.
Jika sianosis hanya muncul sesaat dan anak tampak sehat serta aktif, Anda bisa memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut. Konsultasi juga penting jika ada riwayat keluarga dengan masalah jantung atau paru, agar mendapat arahan medis yang tepat sesuai kondisi anak.
Namun, jangan tunda membawa anak ke IGD jika sianosis disertai dengan napas cepat, sesak berat, kejang, lemas, hingga kehilangan kesadaran. Penanganan medis yang cepat sangat penting untuk mencegah risiko yang lebih serius.