Skrining Sifilis dan Hal-hal Penting yang Ada di Dalamnya

Skrining sifilis adalah metode pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab sifilis. Dalam mendeteksi bakteri tersebut, dokter memeriksa keberadaan antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi sifilis. Skrining dilakukan sebelum gejala sifilis nampak jelas pada seseorang.

Test-tube with blood sample for SYPHILIS

Sifilis adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Bakteri ini menyebabkan infeksi jika masuk ke tubuh melalui luka terbuka di kulit atau lapisan dalam yang terdapat pada kelamin. Sifilis paling sering menular melalui hubungan seksual, namun bisa juga tertular dari ibu hamil ke bayinya.

Jika tidak ditangani segera, sifilis bisa menyebabkan kerusakan pada otak, jantung, dan pembuluh darah. Selain itu, sifilis juga bisa menyebabkan kebutaan, kelumpuhan, hingga kematian. Apabila terjadi pada ibu hamil, sifilis bisa menyebabkan bayi lahir tidak normal, bahkan kematian saat lahir. Karena itu, penting bagi orang yang berisiko tinggi terkena sifilis untuk menjalani deteksi dini, mengingat tingkat akurasi skrining sifilis tahap awal bisa mencapai 75% hingga 85%.

Indikasi Skrining Sifilis

Karena sifilis menular melalui hubungan seksual, dokter akan menyarankan skrining sifilis pada pekerja seks komersial, penderita HIV yang masih aktif melakukan hubungan seksual, seseorang yang berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tidak mengenakan kondom, serta pada lelaki seks lelaki. Pada kelompok berisiko, disarankan untuk melakukan skrining sifilis paling tidak setahun sekali. Bila dirasa sangat berisiko, pemeriksaan dapat dilakukan lebih sering, yaitu 3-6 bulan sekali.

Sifilis juga diketahui bisa menular dari wanita hamil ke janin yang dikandungnya, karena itu dokter juga akan menyarankan wanita hamil untuk menjalani skrining sifilis. Langkah ini untuk mencegah bayi lahir tidak normal atau meninggal saat dilahirkan. Pemeriksaan pada ibu hamil disarankan pada saat pertama kali kontrol ke dokter kandungan, serta diulang saat trimester ketiga dan saat menjelang persalinan.

Peringatan Skrining Sifilis

Hasil dari skrining sifilis bisa dipengaruhi oleh beberapa kondisi, seperti:

  • Penggunaan narkoba suntik
  • Kehamilan
  • Malaria
  • Penyakit Lyme
  • Pneumonia
  • Tuberkulosis
  • Lupus

Jenis Skrining Sifilis

Skrining sifilis dilakukan dengan tes serologi, yaitu tes yang mendeteksi antibodi dalam darah. Tes serologi untuk mendeteksi sifilis ini terbagi menjadi dua macam, yakni tes nontreponema dan tes treponema. Pelaksanaan tes yang satu harus diikuti dengan tes yang lain untuk menguatkan hasil pemeriksaan.

  • Tes nontreponema

Tes ini mendeteksi antibodi yang tidak secara spesifik terkait dengan bakteri Treponema pallidum. Disebut tidak spesifik, karena antibodi yang dideteksi bisa dihasilkan oleh tubuh saat terinfeksi T. pallidum, atau bisa juga dihasilkan pada kondisi lain. Tes ini sensitif untuk melihat ada atau tidaknya infeksi sifilis, namun karena sifatnya yang tidak spesifik, hasil positif belum berarti sedang menderita sifilis.

Jenis tes nontreponema ada dua, yaitu rapid plasma reagin (RPR) test, dan venereal disease research laboratory (VDRL) test.

  • Tes treponema

Tes treponema mendeteksi antibodi yang secara spesifik terkait dengan bakteri penyebab sifilis. Meski lebih spesifik, tes treponema harus tetap dikombinasi dengan tes nontreponema. Hal tersebut untuk membedakan apakah infeksi pada pasien adalah infeksi yang aktif, atau infeksi yang terjadi di masa lalu namun sudah berhasil disembuhkan.

Beberapa macam tes treponema antara lain FTA-ABS (fluorescent treponemal antibody absorption), TP-PA (treponema pallidum particle agglutination assay), MHA-TP (microhemagglutination assay), dan IA (immunoassays).

Persiapan dan Prosedur Skrining Sifilis

Skrining sifilis tidak memerlukan persiapan khusus, seperti puasa. Pada skrining sifilis, sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena, yang dilakukan dalam beberapa tahapan berikut:

  • Dokter akan meminta pasien duduk atau berbaring di ruang pemeriksaan.
  • Tali pengikat elastis akan dipasang mengelilingi lengan atas pasien, agar darah di dalam pembuluh darah vena terbendung dan menonjol.
  • Dokter akan membersihkan area yang akan ditusuk jarum dengan cairan antiseptik, lalu memasukkan jarum ke pembuluh darah vena. Beberapa pasien mungkin merasa sakit saat jarum masuk ke pembuluh darah, namun hanya sementara.
  • Setelah darah terkumpul di tabung isap, dokter akan melepas tali pengikat, mencabut jarum, menekan kapas pada area bekas tusukan jarum, dan menempelkan plester.
  • Sampel darah yang diambil akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.

Setelah Skrining Sifilis

Dokter akan memberi tahu hasil skrining sifilis dalam 3 hingga 5 hari. Kombinasi pemeriksaan skrining sifilis tersebut dapat menentukan apakah pasien sedang menderita sifilis aktif dan perlu diobati, pernah menderita sifilis namun sudah tidak aktif, atau tidak menderita sifilis. Hasil negatif terkadang perlu diwaspadai, terutama bila pemeriksaan dilakukan pada tahap yang masih terlalu awal. Pasien akan disarankan untuk kembali menjalani tes setelah beberapa waktu, jika pasien diduga kuat menderita sifilis. Bila memang pasien tidak menderita sifilis, namun masih berisiko terkena sifilis, dianjurkan untuk melakukan skrining sifilis secara rutin.

Efek Samping Skrining Sifilis

Efek samping yang timbul dari pemeriksaan sifilis adalah akibat prosedur pengambilan darah, namun jarang terjadi. Efek samping tersebut antara lain adalah:

Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi