Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria ditandai dengan demam yang muncul secara berkala, menggigil, sakit kepala, serta lemas beberapa hari hingga minggu setelah terinfeksi.
Walaupun mudah menular melalui gigitan nyamuk, malaria bisa sembuh secara total bila diatasi dengan tepat. Sebaliknya, jika tidak ditangani, penyakit ini bisa berakibat fatal dari menyebabkan anemia berat, gagal ginjal, hingga kematian.

Di Indonesia, jumlah penderita malaria cenderung menurun dari tahun ke tahun. Namun, masih banyak yang menderita malaria di beberapa provinsi di wilayah timur, seperti Papua dan Papua Barat. Sementara itu, provinsi DKI Jakarta dan Bali sudah masuk kategori provinsi bebas malaria.
Penyebab Malaria
Malaria disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Setelah masuk ke aliran darah, parasit akan menuju hati dan berkembang biak sebelum menginfeksi serta merusak sel darah merah.
Ada beberapa jenis Plasmodium yang dapat menginfeksi manusia, yaitu:
- Plasmodium falciparum (paling sering menyebabkan malaria berat dan berisiko fatal)
- Plasmodium vivax
- Plasmodium ovale
- Plasmodium malariae
- Plasmodium knowlesi
Di Indonesia, infeksi Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax merupakan yang paling sering ditemukan.
Selain melalui gigitan nyamuk, malaria juga dapat menular melalui transfusi darah yang terkontaminasi, penggunaan jarum suntik bersama, atau dari ibu hamil ke janin (malaria kongenital), meskipun kasus ini lebih jarang terjadi.
Faktor Risiko Malaria
Seseorang lebih berisiko terkena malaria bila:
- Tinggal atau bepergian ke daerah endemis malaria
- Tidak menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk
- Memiliki daya tahan tubuh rendah, seperti pada anak kecil, lansia, atau penderita gangguan kekebalan tubuh
- Sedang hamil
Gejala Malaria
Gejala malaria umumnya muncul 10–15 hari setelah gigitan nyamuk. Namun, pada beberapa kasus, gejala baru timbul setelah beberapa bulan. Hal ini karena parasit penyebab malaria bisa bertahan dalam keadaan tidak aktif di dalam tubuh.
Gejala malaria umumnya, meliputi:
- Demam tinggi yang muncul secara berkala
- Menggigil hebat
- Sakit kepala
- Nyeri otot dan sendi
- Mual dan muntah
- Berkeringat banyak setelah demam turun
- Tubuh terasa lemas
Pada malaria berat, dapat muncul gejala berikut:
- Penurunan kesadaran atau kejang
- Sesak napas
- Kulit dan mata tampak kuning (ikterus)
- Urine berwarna gelap
- Tanda-tanda anemia berat
Malaria pada anak-anak dapat disertai rewel, nafsu makan menurun, atau kejang demam. Sementara pada ibu hamil, malaria dapat meningkatkan risiko anemia berat, keguguran, kelahiran prematur, atau bayi dengan berat badan lahir rendah.
Kapan Harus ke Dokter
Bila Anda tinggal atau baru bepergian dari daerah endemis malaria dan mengalami demam, kondisi ini perlu diwaspadai. Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu melalui Chat Bersama Dokter atau segera buat janji temu dengan dokter melalui fitur booking di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan penilaian awal dan saran yang sesuai.
Pemeriksaan langsung ke dokter atau fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan bila Anda mengalami:
- Demam tinggi yang muncul setelah bepergian ke daerah dengan banyak kasus malaria
- Demam yang disertai menggigil hebat dan keringat berlebihan
- Sakit kepala berat, muntah, atau tubuh sangat lemas
- Penurunan kesadaran, kejang, atau sesak napas
Selain itu, konsultasikan ke dokter sebelum bepergian ke daerah endemis malaria, terutama bila Anda sedang hamil, membawa anak kecil, atau memiliki daya tahan tubuh lemah, agar dapat memperoleh saran pencegahan yang tepat.
Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius akibat malaria.
Diagnosis Malaria
Diagnosis malaria ditegakkan melalui pemeriksaan darah untuk mendeteksi keberadaan parasit Plasmodium. Pemeriksaan yang umum dilakukan, meliputi:
- Pemeriksaan mikroskopis darah tebal dan tipis
- Rapid diagnostic test (RDT) untuk malaria
Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai adanya anemia atau gangguan fungsi organ.
Pengobatan Malaria
Malaria perlu segera diobati untuk mencegah komplikasi. Jenis dan lama pengobatan ditentukan berdasarkan:
- Jenis Plasmodium penyebab infeksi
- Tingkat keparahan malaria (ringan atau berat)
- Kondisi pasien, termasuk usia dan kehamilan
- Wilayah tempat terjadinya infeksi (terkait kemungkinan resistensi obat)
Pengobatan malaria umumnya menggunakan obat antimalaria kombinasi berbasis artemisinin (ACT/Artemisinin-based Combination Therapy) untuk Plasmodium falciparum. Pada infeksi Plasmodium vivax atau Plasmodium ovale, dapat diperlukan obat tambahan untuk membasmi bentuk parasit yang menetap di hati guna mencegah kekambuhan, sesuai evaluasi dokter.
Pada malaria berat, pasien perlu dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan obat antimalaria melalui infus serta pemantauan ketat terhadap fungsi organ vital.
Komplikasi Malaria
Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, malaria dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:
- Anemia berat akibat penghancuran sel darah merah
- Malaria serebral (infeksi yang menyerang otak)
- Gagal ginjal
- Edema paru atau gangguan pernapasan
- Gangguan pembekuan darah
- Kematian
Risiko komplikasi lebih tinggi pada anak-anak, ibu hamil, serta penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Pencegahan Malaria
Hingga saat ini, pencegahan malaria terutama dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan mengendalikan populasi nyamuk. Upaya yang dapat dilakukan, antara lain:
- Menggunakan kelambu saat tidur
- Memakai pakaian berlengan panjang dan celana panjang, terutama pada malam hari
- Menggunakan losion atau semprotan antinyamuk
- Memasang kawat kasa pada ventilasi rumah
- Menghindari aktivitas di luar ruangan pada malam hari di daerah endemis
Bagi orang yang akan bepergian atau tinggal di daerah dengan risiko tinggi malaria, dokter dapat meresepkan obat profilaksis (pencegahan) yang diminum sebelum, selama, dan setelah perjalanan sesuai anjuran.
Beberapa jenis vaksin malaria telah dikembangkan dan mulai digunakan secara terbatas di beberapa negara dengan angka kasus tinggi. Namun, vaksin tidak menggantikan langkah pencegahan utama berupa perlindungan dari gigitan nyamuk.