Diagnosis malaria bertujuan untuk memastikan penyebab demam dan keluhan lain yang dialami pasien, serta membedakannya dari penyakit infeksi lain yang memiliki gejala serupa, seperti demam tifoid, demam berdarah, atau infeksi virus. 

Penegakan diagnosis yang cepat dan tepat sangat penting agar pengobatan dapat segera diberikan dan risiko komplikasi dapat dicegah.

Wawancara Medis

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan terkait:

  • Waktu mulai munculnya gejala, terutama demam dan menggigil
  • Pola demam, apakah terjadi secara berkala atau terus-menerus
  • Riwayat perjalanan atau tinggal di daerah endemis malaria
  • Riwayat transfusi darah atau penggunaan jarum suntik bersama
  • Riwayat malaria sebelumnya

Informasi mengenai riwayat perjalanan dalam beberapa minggu hingga bulan terakhir sangat penting, karena gejala malaria dapat muncul setelah masa inkubasi tertentu atau akibat kekambuhan pada jenis tertentu.

Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai kondisi umum pasien, antara lain:

  • Pengukuran suhu tubuh
  • Pemeriksaan tanda anemia, seperti pucat
  • Pembesaran limpa atau hati
  • Tanda dehidrasi atau gangguan kesadaran pada kasus berat

Pada malaria berat, dokter juga akan menilai adanya gangguan pernapasan, penurunan kesadaran, atau tanda komplikasi lainnya.

Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis malaria, diperlukan pemeriksaan darah. Beberapa metode yang umum digunakan, meliputi:

1. Pemeriksaan darah tepi (mikroskopis)

Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat sediaan apus darah di bawah mikroskop. Metode ini merupakan standar utama (gold standard) untuk mendiagnosis malaria karena dapat:

  • Mendeteksi keberadaan parasit Plasmodium
  • Mengidentifikasi spesies penyebab malaria
  • Menilai tingkat kepadatan parasit dalam darah

Pada kondisi tertentu, pemeriksaan dapat diulang setiap 12–24 jam bila hasil awal negatif tetapi kecurigaan klinis masih tinggi.

2. Rapid Diagnostic Test (RDT)

RDT adalah tes cepat yang mendeteksi antigen dari parasit malaria dalam darah. Hasilnya dapat diketahui dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan laboratorium. Namun, hasil RDT tetap perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan mikroskopis bila memungkinkan.

3. Pemeriksaan darah tambahan

Dokter dapat melakukan pemeriksaan darah lain untuk menilai kondisi pasien secara menyeluruh, seperti:

  • Hitung darah lengkap untuk menilai anemia dan jumlah trombosit
  • Pemeriksaan fungsi hati
  • Pemeriksaan fungsi ginjal
  • Pemeriksaan kadar gula darah

Pemeriksaan tambahan ini penting untuk mendeteksi komplikasi, terutama pada kasus malaria berat.

Pada kasus tertentu atau di fasilitas rujukan, pemeriksaan molekuler, seperti PCR, dapat dilakukan untuk memastikan spesies parasit, terutama bila hasil pemeriksaan sebelumnya meragukan.

Diagnosis malaria yang akurat memungkinkan dokter menentukan jenis pengobatan yang sesuai dengan spesies parasit dan tingkat keparahan penyakit.