Stroke berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dampak stroke dapat meluas dan berlangsung lama. Untuk dapat benar-benar pulih, penderita harus melakukan rehabilitasi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Namun, sebagian besar penderita stroke sulit untuk bisa pulih sepenuhnya.

Proses rehabilitasi tergantung pada gejala yang dialami dan seberapa parah gejala tersebut. Selama melalui masa rehabilitasi, pasien akan didampingi dan dibantu oleh sejumlah ahli yang meliputi dokter, psikolog, terapis bicara, fisioterapis, dan perawat.

Berikut ini adalah dampak-dampak yang dapat ditimbulkan stroke:

1. Dampak fisik serangan stroke

Ada beberapa dampak fisik yang dapat terjadi akibat serangan stroke, antara lain kelumpuhan pada salah satu anggota gerak tubuh dan terganggunya koordinasi serta keseimbangan tubuh.

Kelumpuhan anggota gerak, seperti pada lengan atau tungkai, sebaiknya diperiksa oleh dokter spesialis rehabilitasi medis yang nantinya akan menyusun rencana fisioterapi. Fisioterapi biasanya akan dimulai setelah kondisi kesehatan pasien stabil.

Postur tubuh dan keseimbangan adalah hal utama yang akan diperbaiki. Pasien akan menjalani sesi fisioterapi secara rutin dengan durasi yang semakin meningkat seiring pulihnya kendali dan kekuatan otot pasien.

Umumnya, ada dua target dalam fisioterapi, yaitu target jangka pendek dan target jangka panjang. Dalam target jangka pendek, pasien akan dilatih untuk melakukan gerakan sederhana, seperti mengambil sebuah benda. Sementara untuk target jangka panjang, pasien akan dilatih untuk berdiri dan berjalan.

Dalam prosesnya, dokter rehabilitasi medis dan fisioterapis tidak hanya bekerja sendiri. Anggota keluarga pasien pun bisa dilibatkan. Hal ini dilakukan agar anggota keluarga pasien mampu melatih pasien saat berada di rumah.

Waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan fisik cenderung relatif. Fisioterapi bisa berlangsung beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan biasanya terapi dihentikan jika kondisi pasien tidak lagi menunjukkan kemajuan.

2. Dampak kognitif serangan stroke

Stroke juga dapat mengganggu fungsi kognitif penderita. Fungsi kognitif sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan otak mengolah informasi. Fungsi kognitif yang dimaksud meliputi:

  • Daya ingat
  • Konsentrasi
  • Komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan
  • Kemampuan melakukan aktivitas fisik, seperti mandi atau makan
  • Kemampuan mengambil keputusan, seperti memecahkan masalah, membuat rencana, dan mempertimbangkan situasi

Sebelum rencana rehabilitasi dan pengobatan dibuat, seluruh fungsi kognitif pasien akan diperiksa.

Selama rehabilitasi, pasien akan diajarkan berbagai teknik pemulihan fungsi kognitif. Salah satunya adalah terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi ini bertujuan membantu pasien beradaptasi dengan keadaan yang ada. Sebagian fungsi kognitif akan pulih setelah rehabilitasi, meskipun tidak 100%.

Kerusakan otak akibat stroke juga bisa meningkatkan risiko terjadinya demensia vaskular. Demensia vaskular bisa terjadi langsung atau beberapa waktu setelah serangan stroke.

3. Dampak psikologis serangan stroke

Setelah seseorang terserang stroke, ia mungkin akan mengalami gangguan psikologis, seperti depresi atau gangguan kecemasan. Gangguan psikologis ini ditandai dengan rasa marah, cemas, bingung, dan frustrasi.

Psikolog dapat memberikan nasihat dan motivasi agar stroke tidak terlalu berdampak pada kehidupan pasien, terutama dalam kehidupan keluarga.

Selain terapi dari psikolog, dukungan orang-orang terdekat juga sangat penting untuk mengembalikan kondisi jiwa pasien seperti semula.

4. Masalah pada kemampuan berkomunikasi

Gangguan pada kemampuan berbicara, memahami, membaca, dan menulis adalah masalah yang banyak dihadapi penderita stroke. Kondisi ini disebut afasia.

Afasia terjadi akibat rusaknya bagian otak yang mengatur kemampuan bicara atau rusaknya otot-otot yang mendukung kemampuan tersebut. Untuk memulihkan kemampuan berkomunikasi, pasien akan menjalani terapi bicara.

5. Masalah pada daya penglihatan

Sebagian penderita stroke mengalami gangguan penglihatan pascastroke, seperti hilangnya penglihatan (buta) pada salah satu mata. Kondisi ini disebabkan oleh rusaknya bagian otak yang menerima, mengolah, dan menerjemahkan informasi yang dikirim oleh mata.

6. Masalah buang air kecil

Stroke dapat menyerang bagian otak yang mengendalikan saluran kemih atau sistem urinaria. Oleh karena itu, orang yang pernah terserang stroke dapat mengalami inkontinensia urine.

Kehidupan seks pascastroke

Berhubungan intim tidak membuat penderita lebih berisiko terkena stroke lagi, jadi penderita tidak dilarang untuk berhubungan intim.

Meski beberapa bagian tubuh mengalami kelumpuhan, penderita masih bisa menikmati saat-saat intim bersama pasangan. Penderita juga dapat mencoba sejumlah posisi yang sesuai dengan keadaan.

Beberapa obat stroke dapat menurunkan libido. Oleh karena itu, diharapkan penderita berkonsultasi dengan dokter jika mengalami masalah tersebut.

Mengemudi kendaraan pascastroke

Setelah terserang stroke, penderita biasanya tidak dianjurkan untuk mengemudi. Cepat atau lambatnya penderita boleh mengemudi kembali tergantung pada kerusakan jangka panjang yang dialaminya.

Jika penderita memiliki rencana untuk berkendara, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Berdasarkan kondisi kesehatan penderita, dokter akan memutuskan apakah penderita boleh mengemudi atau tidak.

Panduan untuk Keluarga dan Kerabat Pasien

Untuk anggota keluarga atau kerabat penderita stroke, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memberikan dukungan dan semangat, agar penderita dapat melalui proses rehabilitasi dengan cepat, antara lain:

  • Memotivasi penderita dalam mencapai target jangka panjang
  • Beradaptasi dengan kondisi penderita, seperti berbicara perlahan jika penderita mengalami masalah komunikasi
  • Ikut terlibat dalam latihan fisioterapi
  • Memberikan dukungan moril dan keyakinan bahwa kondisi penderita akan pulih seiring waktu

Rasa frustrasi dan kesepian kerap dialami oleh mereka yang merawat penderita pascastroke. Oleh karena itu, beberapa saran yang diuraikan di bawah ini diharapkan bisa membantu:

  • Siapkan hati untuk menghadapi perubahan perilaku
    Kepribadian orang yang pernah terserang stroke kerap mengalami perubahan dan kadang-kadang perilakunya bisa tidak rasional. Contohnya, penderita stroke bisa menjadi pemarah dan pembenci. Hal tersebut disebabkan oleh dampak psikologis dan kognitif.
    Meski menjengkelkan, cobalah untuk mengerti kondisi mereka. Ingat bahwa kepribadian asli penderita akan kembali setelah rehabilitasi yang dijalaninya mengalami kemajuan.
  • Berusaha untuk tetap sabar dan berpikiran positif
    Sikap sabar dan pikiran positif sangat dibutuhkan untuk mendukung pemulihan orang yang pernah terserang stroke. Sering kali rehabilitasi berjalan lama dan membuat frustrasi. Namun, percayalah, akan ada waktu di mana kemajuan tercapai.
    Berusahalah untuk menyemangati dan memuji sekecil apa pun kemajuan yang ada. Karena dengan begitu, penderita akan terus termotivasi untuk mencapai target jangka panjang mereka.
  • Tetap meluangkan waktu untuk diri sendiri
    Jangan abaikan kesehatan fisik maupun psikologis diri sendiri, meski sedang merawat orang yang pernah mengalami stroke. Bersosialisasi dengan teman-teman atau rekreasi dapat menjernihkan pikiran dan membantu diri mengatasi situasi dengan lebih baik.

Peluang penderita stroke untuk dapat hidup normal kembali

Walaupun penderita telah menjalani pengobatan, stroke tidak bisa pulih sepenuhnya. Secara umum, berikut ini adalah peluang yang dimiliki oleh penderita stroke:

  • Sekitar 33% penderita stroke dapat pulih sepenuhnya meski harus terus didukung untuk dapat menjalani hidup secara normal.
  • Sekitar 33% penderita stroke dapat pulih tetapi mengalami kelumpuhan, mulai dari kelumpuhan ringan, seperti perlu dibantu saat mandi, hingga kelumpuhan berat, seperti tidak bisa bangun sama sekali.
  • Sekitar 33% penderita stroke tidak pulih sama sekali dan meninggal dalam kurun waktu 1 tahun, bahkan sebagian besar dari penderita meninggal di rumah sakit pada beberapa minggu awal.