Apakah Bunda sering merasakan tangan mati rasa, kesemutan, dan sakit saat hamil? Hal itu bisa jadi gejala carpal tunnel syndrome (CTS).  Meski umumnya tidak berbahaya, tapi kondisi ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan mengganggu. Yuk, kenali lebih dekat mengenai CTS.

CTS pada ibu hamil terjadi akibat penumpukan cairan pada jaringan pergelangan tangan sehingga menyebabkan pembengkakan, yang umum terjadi pada ibu hamil. Gejala ini biasanya lebih terasa saat Bunda bangun pagi, setelah tangan menekuk sepanjang malam.

[caption id="attachment_1143232" align="aligncenter" width="650"]Tangan Sering Sakit Saat Hamil, Mungkin Gejala Carpal Tunnel Syndrome - Alodokter Cropped image of businesswoman suffering from wrist pain with computer keyboard on office desk[/caption]

Apakah Bunda Lebih Berisiko?

CTS biasanya terjadi pada kehamilan trimester kedua dan ketiga. Selain rasa sakit, CTS sering ditandai cengkeraman tangan melemah dan jari-jari sulit digerakkan. Bunda dapat merasakannya pada seluruh tangan, tapi terutama pada tangan yang sering digunakan, terutama pada jari tengah dan telunjuk.

Walaupun dapat terjadi pada semua ibu hamil, tetapi ada sebagian ibu hamil yang lebih berisiko mengalaminya. Beberapa kondisi dapat membuat ibu hamil lebih berisiko mengalami CTS :

  • Ada anggota keluarga (misalnya orangtua) yang pernah mengalami CTS.
  • Pernah mengalami gangguan atau cedera pada leher, punggung, dan bahu.
  • Mengalami kenaikan berat badan berlebih saat hamil, termasuk karena hamil kembar. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan pada pundak, lengan, dan tulang iga.
  • Jika pada kehamilan sebelumnya, ibu hamil mengalami CTS.

Tidak hanya saat hamil, CTS juga dapat terjadi setelah bayi lahir, yang lebih dipengaruhi oleh aktivitas saat mengurus bayi, di mana banyak dibutuhkan kekuatan tangan. Meski demikian, biasanya gejala CTS reda setelah persalinan, seiring hilangnya penumpukan cairan tubuh dan kadar hormon yang kembali normal.

Jika Bunda merasakan gejala-gejala CTS sebaiknya memeriksakan diri ke dokter untuk penanganan yang tepat.

Cara Mengatasi CTS pada Kehamilan

Jika gejala yang dirasakan tidak parah, maka dokter mungkin akan menyarankan perawatan tanpa operasi, antara lain:

  • Memanfaatkan alat bantu

Menggunakan penyangga pergelangan tangan di malam hari. Dokter dapat merekomendasikan bebat penyangga pergelangan tangan untuk meredakan rasa sakit.

  • Sering mengambil jeda saat melakukan aktitivitas berulang

Misalnya, kegiatan menggendong balita atau mengetik. Jika mengetik adalah kegiatan sehari-hari Bunda, cobalah untuk menempatkan bantalan pada alas mouse untuk menyangga pergelangan tangan, atau lakukan peregangan tubuh untuk merelaksasi otot-otot dan persendian yang kaku karena aktivitas.

  • Batasi konsumsi garam

Bunda dapat membatasi konsumsi garam untuk mengurangi penumpukan cairan tubuh.

Tips Mencegah CTS

Bunda yang masih merencanakan kehamilan, ada cara yang dapat dicoba untuk mencegah CTS.

  • Mengonsumsi makanan bergizi

Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, dapat menjaga berat badan tidak berlebih. Minumlah air putih, batasi asupan gula, garam dan lemak. Selain itu, cukupi kebutuhan sayur dan buah hingga setidaknya 5 porsi sehari. Konsumsi makanan kaya vitamin B6 untuk menjaga kesehatan sistem saraf, seperti brokoli, biji bunga matahari, daging tanpa lemak, avokad, atau ikan salmon.

  • Mengenakan bra khusus hamil

Bra ini dapat mengurangi tekanan pada tulang dada dan tulang rusuk, yang juga dapat mengurangi tekanan pada jaras saraf yang mempersarafi bagian tangan.

  • Melakukan peregangan pergelangan tangan

Caranya, kepalkan jari dan tekuk pergelangan tangan ke dalam. Setelah itu, luruskan jari dan arahkan pergelangan tangan ke arah luar. Ulangi gerakan ini 10 kali, setidaknya sekali sehari.

Selain cara-cara di atas, Bunda dapat meminta pasangan atau teman untuk memijat tangan, pergelangan tangan, hingga pundak, leher, dan punggung atas. Bunda juga dapat mempertimbangkan akupunktur untuk  mengurangi gejala CTS.

Jika rasa sakit atau tidak nyaman pada tangan tidak segera reda atau terasa semakin mengganggu, konsultasi dapat dilakukan ke dokter atau dokter spesiaslis saraf untuk mendapat penanganan yang dibutuhkan.