Wabah pes adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini umumnya ditemukan pada hewan pengerat dan kutu yang hidup pada hewan tersebut. Di Indonesia, kasus pes tergolong sangat jarang terjadi.

Wabah pes (plague) terjadi ketika jumlah kasus pes meningkat di suatu wilayah. Manusia dapat tertular ketika digigit kutu yang membawa bakteri Yersinia pestis atau melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi. Kondisi ini perlu dikenali sejak awal, karena pengobatan dengan antibiotik akan jauh lebih efektif bila diberikan segera setelah gejala muncul.

Wabah Pes, Kenali Penularan, Gejala, dan Cara Pencegahannya - Alodokter

Isu mengenai wabah pes Rusia sempat menjadi sorotan global setelah adanya insiden kematian seorang pekerja laboratorium di wilayah Irkutsk, Siberia. Menurut laporan, pekerja tersebut tidak sengaja memecahkan tabung berisi sampel yang mengandung bakteri penyebab penyakit pes, kemudian beberapa hari setelahnya ia pun dinyatakan meninggal dunia karena pneumonia. 

Setelah kejadian ini, otoritas kesehatan setempat bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) langsung melakukan langkah-langkah pencegahan yang ketat, termasuk mengisolasi dan mengkarantina sekitar 200 orang yang sempat mengalami kontak dengan korban.

Sementara itu, pemerintah melakukan pemantauan terhadap perkembangan dan penanganan kasus tersebut guna mencegah dan mengantisipasi potensi terjadinya wabah pes Indonesia. 

Wabah Pes dan Penularannya

Secara umum, penyakit pes dibedakan menjadi pes bubonik, pes septikemik, dan pes paru (pes pneumonik). Pes bubonik merupakan jenis yang paling umum dan ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening yang nyeri.

Pes septikemik terjadi ketika bakteri menginfeksi aliran darah, sedangkan pes paru menyerang paru-paru dan dapat menular dari orang ke orang melalui percikan saluran pernapasan.

Pada jenis pes tertentu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau melalui percikan saluran pernapasan dari penderita pes paru. Berikut beberapa jalur penularan pes yang perlu diketahui:

Gigitan kutu yang terinfeksi

Kutu dapat terinfeksi bakteri Yersinia pestis setelah menggigit hewan pengerat yang membawa bakteri tersebut. Jika kutu yang terinfeksi kemudian menggigit manusia, bakteri dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka gigitan dan menyebabkan infeksi pes.

Penularan melalui gigitan kutu ini merupakan salah satu cara utama pes berpindah dari hewan ke manusia. 

Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi

Pes juga dapat menular melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jaringan hewan yang terinfeksi bakteri penyebab wabah pes, termasuk hewan peliharaan yang sering berkeliaran di luar rumah. Penularan dapat terjadi saat seseorang menangani atau memegang hewan yang sakit atau mati tanpa perlindungan yang sesuai.

Untuk mengurangi risiko penularan, hindari menyentuh hewan pengerat yang sakit atau ditemukan mati dengan tangan kosong. Jika perlu menangani hewan tersebut, gunakan sarung tangan dan perlindungan yang sesuai, lalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelahnya.

Percikan saluran pernapasan dari penderita pes paru

Pes paru merupakan jenis pes yang dapat menular dari orang ke orang. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup percikan saluran pernapasan dari penderita, terutama saat batuk atau bersin dan berada dalam jarak dekat.

Pes paru perlu segera ditangani karena dapat berkembang dengan cepat dan berisiko menular kepada orang lain. Namun, pes jenis ini sangat jarang terjadi, tingkat penularannya rendah, dan hampir tidak pernah ditemukan di Indonesia.

Kontak dengan sampel atau limbah infeksius

Risiko terjadinya wabah pes karena faktor ini sebetulnya cukup kecil. Umumnya, penularan pes yang satu ini berasal dari pekerja di laboratorium yang sering memegang sampel bakteri. 

Kasus seperti ini sangat jarang terjadi karena setiap laboratorium dan tempat kesehatan sudah memiliki aturan serta standar keamanan yang sangat ketat untuk mencegah penyebaran penyakit infeksi, termasuk wabah pes.

Gejala Wabah Pes

Gejala pes dapat muncul beberapa hari setelah seseorang terinfeksi bakteri Yersinia pestis. Masa inkubasi bakteri umumnya sekitar 2–6 hari, tetapi dapat berbeda tergantung jenis pes yang dialami.

Karena gejalanya dapat menyerupai penyakit infeksi lain, riwayat kontak dengan hewan pengerat, kutu, atau orang yang terinfeksi menjadi informasi penting bagi dokter dalam menentukan diagnosis.

Berikut ini adalah beberapa gejala pes yang perlu dikenali:

1. Demam dan menggigil yang muncul tiba-tiba

Demam dapat disertai menggigil, tubuh terasa sangat lemas, sakit kepala, dan nyeri otot. Jika keluhan ini muncul setelah kontak dengan hewan pengerat, kutu, atau hewan yang sakit atau mati, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

2. Benjolan yang nyeri dan membesar dengan cepat

Pada pes bubonik, kelenjar getah bening dapat membengkak dan membentuk benjolan yang terasa sangat nyeri. Benjolan ini disebut bubo dan paling sering muncul di lipat paha, ketiak, atau leher. Ukurannya dapat membesar dalam waktu singkat dan biasanya terasa nyeri saat disentuh.

3. Batuk, sesak napas, atau nyeri dada

Gejala ini dapat terjadi pada pes paru. Penderita juga dapat mengalami demam, sakit kepala, dan batuk yang terkadang disertai dahak atau darah. Pes paru dapat berkembang dengan cepat dan menular dari orang ke orang melalui percikan saluran pernapasan, sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

4. Mual, muntah, atau nyeri perut

Sebagian penderita pes dapat mengalami mual, muntah, atau nyeri perut. Keluhan ini dapat muncul bersamaan dengan gejala lain, seperti demam, menggigil, dan tubuh terasa lemas.

5. Perubahan warna kulit atau perdarahan

Pada kasus pes yang berat, infeksi dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan mengganggu aliran darah. Kondisi ini dapat membuat kulit berubah warna menjadi kehitaman atau muncul perdarahan. Gejala tersebut merupakan tanda serius yang membutuhkan penanganan medis segera.

Pencegahan Wabah Pes

Untuk mencegah penularan pes, penting untuk mengurangi risiko kontak dengan hewan pengerat, kutu, dan hewan yang terinfeksi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Hindari menyentuh tikus atau hewan pengerat lain yang sakit atau ditemukan mati dengan tangan kosong.
  • Jaga kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk menyimpan makanan serta sampah dalam wadah tertutup agar tidak menarik tikus.
  • Lakukan pencegahan kutu pada hewan peliharaan secara rutin, terutama jika tinggal atau bepergian ke daerah yang memiliki risiko pes.
  • Hindari membiarkan hewan peliharaan berburu atau berkontak dengan hewan pengerat.
  • Gunakan sarung tangan dan perlindungan yang sesuai jika harus menangani hewan yang sakit atau mati, kemudian cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Jika melakukan perjalanan ke daerah yang diketahui memiliki kasus pes, ikuti anjuran kesehatan setempat dan hindari kontak dengan hewan pengerat atau kutu.

Wabah pes dapat dikendalikan dengan mengenali gejala sejak dini, memberikan pengobatan segera, dan mengurangi sumber penularan di lingkungan.

Jangan menunda pemeriksaan jika mengalami gejala pes setelah berada di daerah yang banyak tikus atau melakukan kontak dengan hewan yang sakit atau mati. Pes memerlukan pengobatan dengan antibiotik dari dokter dan tidak dapat diatasi hanya dengan perawatan rumahan.

Jika ingin berkonsultasi mengenai risiko setelah kontak dengan tikus atau kutu, Anda dapat menggunakan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Namun, segera ke dokter atau IGD jika mengalami demam tinggi, benjolan yang sangat nyeri di leher, ketiak, atau lipat paha, batuk berdarah, atau sesak napas.