Pes pneumonik adalah penyakit infeksi yang terjadi ketika bakteri Yersinia pestis menyerang paru-paru. Penyakit ini dapat menyebabkan peradangan pada paru-paru yang ditandai dengan batuk, demam, sesak napas, dan nyeri dada. Pes pneumonik termasuk bentuk pes yang paling berat sehingga perlu segera mendapatkan penanganan medis.
Pes pneumonik (pneumonic plague) berbeda dari jenis pes lainnya karena bakteri Yersinia pestis menyerang paru-paru. Kondisi ini dapat terjadi ketika bakteri menyebar ke paru-paru dari infeksi pes yang sebelumnya sudah terjadi di bagian tubuh lain. Pes pneumonik juga dapat muncul setelah seseorang menghirup percikan ludah (droplet) yang mengandung bakteri dari penderita atau hewan yang terinfeksi.
Penyakit ini kembali menjadi perhatian setelah munculnya laporan mengenai pes Rusia. Meski demikian, pes pneumonik bukan hanya berkaitan dengan satu negara. Wabah pes dapat terjadi ketika penularan penyakit meningkat di suatu wilayah.
Di Indonesia, pes juga pernah ditemukan di beberapa daerah sehingga kewaspadaan terhadap penyakit ini tetap diperlukan. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara penularan dan gejalanya agar pes pneumonik dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.
Penyebab Pes Pneumonik
Penyebab pes pneumonik adalah infeksi bakteri Yersinia pestis yang menyerang paru-paru. Bakteri ini umumnya hidup dan berkembang biak pada hewan pengerat, seperti tikus, marmot, serta kelinci liar.
Pes pneumonik dapat terjadi ketika seseorang menghirup percikan atau partikel pernapasan yang mengandung Yersinia pestis. Penularan ini terutama dapat terjadi melalui kontak dekat dengan penderita pes pneumonik yang belum mendapatkan pengobatan. Bakteri yang terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan dan berkembang biak di paru-paru.
Selain itu, penyakit ini juga dapat terjadi sebagai akibat penyebaran infeksi dari bagian tubuh lain. Misalnya, pada pes bubonik, bakteri yang awalnya masuk melalui gigitan kutu dapat menyebar melalui aliran darah hingga mencapai paru-paru. Kondisi ini disebut pes pneumonik sekunder.
Sementara itu, kontak dengan hewan yang terinfeksi atau gigitan kutu lebih sering menyebabkan bentuk pes lainnya. Namun, infeksi tersebut dapat berkembang menjadi pes pneumonik apabila bakteri kemudian menyebar ke paru-paru.
Dengan demikian, pes pneumonik tidak hanya berkaitan dengan paparan langsung pada paru-paru, tetapi juga dapat terjadi ketika infeksi bakteri Yersinia pestis dari bagian tubuh lain menyebar ke organ tersebut.
Faktor risiko pes pneumonik
Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena pes pneumonik, antara lain:
- Tinggal di daerah padat, memiliki sanitasi yang buruk, atau banyak populasi hewan pengerat
- Bepergian ke area yang banyak terjadi infeksi pes pneumonik
- Melakukan kontak dengan penderita pes pneumonik
- Melakukan kontak dengan hewan yang mati atau hewan yang sakit
- Beraktivitas di alam terbuka, seperti mendaki gunung atau berkemah
- Berprofesi sebagai dokter atau perawat
- Merawat penderita pes pneumonik
Gejala Pes Pneumonik
Gejala pes pneumonik biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat berkembang dengan cepat. Keluhan umumnya berkaitan dengan infeksi pada paru-paru, tetapi penderita juga dapat mengalami gejala umum akibat infeksi bakteri. Secara umum, gejala akan muncul antara 1–3 hari setelah terpapar bakteri.
Berikut ini adalah gejala pes pneumonik yang dapat terjadi:
- Demam tinggi yang dapat muncul secara tiba-tiba
- Menggigil
- Sakit kepala
- Tubuh terasa lemas
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Batuk yang disertai dahak dan darah
- Napas terasa lebih cepat dan terasa berat
Gejala pes pneumonik dapat muncul beberapa jam setelah terinfeksi dan memburuk dalam waktu singkat. Pada kasus yang berat, penyakit ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, atau sepsis akibat bakteri menyebar ke aliran darah.
Bila Anda mengalami gejala yang mengarah ke pes pneumonik, segera periksakan diri ke dokter. Anda dapat menggunakan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk berkonsultasi mengenai keluhan yang dialami dan mendapatkan arahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kapan harus ke dokter
Segera temui dokter bila mengalami demam yang muncul secara tiba-tiba dan disertai batuk, sesak napas, nyeri dada, atau dahak yang bercampur darah. Terlebih lagi, pemeriksaan perlu dilakukan bila keluhan tersebut muncul setelah tinggal atau bepergian ke daerah yang memiliki kasus pes atau setelah melakukan kontak dengan hewan yang diduga terinfeksi.
Selain itu, lakukan pemeriksaan ke dokter bila memiliki kontak dekat dengan penderita pes pneumonik, meskipun belum mengalami gejala. Dokter dapat menilai risiko paparan dan menentukan apakah diperlukan pemantauan atau pemberian antibiotik untuk mencegah berkembangnya infeksi.
Pes pneumonik dapat berkembang dengan cepat dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius. Oleh karena itu, jangan menunda pemeriksaan atau mencoba mengobati kondisi ini sendiri. Pastikan untuk selalu menggunakan masker saat memeriksakan diri ke dokter.
Diagnosa Pes Pneumonik
Untuk memastikan diagnosis pes pneumonik, pemeriksaan harus dilakukan secepatnya agar pengobatan bisa segera dimulai. Pertama-tama, dokter akan melakukan tanya jawab mengenai gejala yang dialami, kapan keluhan mulai muncul, serta riwayat paparan yang mungkin meningkatkan risiko infeksi.
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Jika dari hasil tanya jawab dan tes fisik pasien diduga terserang penyakit pes pneumonik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:
- Pemeriksaan dahak, untuk mencari bakteri Yersinia pestis
- Tes darah, untuk mendeteksi bakteri Yersinia pestis di dalam darah
- Aspirasi (biopsi jarum halus), yaitu pengambilan sampel cairan dari kelenjar getah bening yang membengkak, untuk mendeteksi bakteri di dalam cairan getah bening, terutama bila pes pneumonik terjadi setelah infeksi pes bubonik
- Rontgen dada atau CT Scan, untuk melihat kondisi paru-paru apakah ada infeksi atau peradangan
Hasil pemeriksaan penunjang mungkin baru keluar setelah 1–2 hari. Namun, dokter dapat memulai pengobatan pada pasien yang diduga terserang pes pneumonik, bahkan sebelum diagnosis dipastikan. Tujuannya adalah untuk mencegah penyakit ini berkembang cepat dan untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Pengobatan Pes Pneumonik
Pengobatan pes pneumonik harus dilakukan sesegera mungkin. Soalnya, penyakit ini dapat berkembang dengan cepat dan menyebabkan komplikasi serius. Oleh karena itu, pemberian antibiotik perlu dimulai sedini mungkin untuk mengatasi infeksi dan mencegah kondisi semakin parah.
Perlu diingat, pemberiaan antibiotik untuk pes pneumonik ini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, tingkat keparahan infeksi, usia, dan faktor lainnya.
Beberapa antibiotik yang dapat diresepkan oleh dokter untuk mengobati pes pneumonik, yaitu:
- Gentamicin
- Streptomycin
- Doxycycline
- Ciprofloxacin
- Levofloxacin
- Chloramphenicol
- Moxifloxacin
Pada kondisi berat, dokter dapat memilih antibiotik yang diberikan melalui pembuluh darah agar obat dapat bekerja dengan cepat. Pengobatan pes pneumonik biasanya perlu dilanjutkan sesuai durasi yang ditentukan dokter, meskipun gejala sudah mulai membaik. Pasalnya, menghentikan antibiotik terlalu cepat dapat membuat infeksi belum sepenuhnya teratasi.
Selain pemberian obat pes, penderita umumnya memerlukan perawatan di rumah sakit, terutama bila mengalami sesak napas atau kondisi yang cukup berat. Selama perawatan, dokter akan memantau kondisi pasien dan memastikan infeksi tidak berkembang menjadi komplikasi.
Karena pes pneumonik dapat menular melalui percikan saluran pernapasan, pasien juga dapat ditempatkan dalam ruang isolasi dengan tindakan pencegahan penularan melalui droplet. Langkah ini bertujuan melindungi tenaga kesehatan, keluarga, dan orang lain yang berada di sekitar pasien.
Bila infeksi menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun atau pasien mengalami kesulitan bernapas, dokter dapat memberikan terapi oksigen. Pada kondisi yang sangat berat, pasien mungkin membutuhkan bantuan alat untuk mempertahankan fungsi pernapasan.
Komplikasi Pes Pneumonik
Pes pneumonik yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:
- Gagal napas
- Sepsis
- Syok septik
- Gangguan fungsi organ
- Perdarahan di paru-paru
- Kerusakan paru-paru
- Kematian, jika pasien terlambat ditangani
Pencegahan Pes Pneumonik
Pencegahan pes pneumonik dapat dilakukan dengan menghindari berbagai sumber penularan bakteri Yersinia pestis dan membatasi paparan dengan penderita. Hal ini berguna untuk menekan risiko infeksi, terutama ketika terjadi wabah pes yang dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit.
Beberapa langkah pencegahan pes pneumonik yang dapat dilakukan, antara lain:
- Menghindari kontak dekat dengan penderita yang diduga atau telah terdiagnosis pes pneumonik
- Menghindari kontak langsung dengan hewan yang sakit atau mati
- Menggunakan sarung tangan saat sedang kontak dengan hewan yang diduga telah terinfeksi
- Menggunakan pembasmi serangga jika sedang berada di area yang banyak hewan pengerat
- Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker, saat merawat penderita pes pneumonik
- Menjaga kebersihan lingkungan rumah yang berpotensi menjadi sarang hewan pengerat
- Mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir
- Memeriksakan diri ke dokter sesegera mungkin setelah melakukan kontak dengan penderita pes pneumonik atau hewan yang terinfeksi
Penting untuk diingat, ketika terjadi wabah pes, masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya mengikuti informasi dan anjuran dari otoritas kesehatan setempat. Hindari daerah atau aktivitas yang berisiko menimbulkan paparan, terutama kontak dengan hewan pengerat, kutu, atau penderita yang terinfeksi.
