Hati-hati saat Mengonsumsi Obat Pencahar

Susah buang air besar atau konstipasi dapat mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari. Tidak sedikit penderitanya yang memutuskan untuk menggunakan obat pencahar sebagai solusi. Namun konsumsi obat  ini perlu dilakukan dengan cermat untuk menghindari risiko dan efek samping.

Terdapat berbagai jenis pencahar yang bekerja dengan cara berbeda. Efektivitasnya pun bisa berbeda. Berikut ini tiga di antaranya yang paling umum:

  • Obat pencahar osmotik: merangsang tubuh untuk meningkatkan jumlah cairan dalam usus sehingga tinja dilunakkan dan didorong keluar tubuh. Contoh: laktulosa dan macrogol.
  • Obat pencahar pembentuk tinja: membuat tinja menyerap cairan dan menjadi lunak sehingga dapat dikeluarkan dengan mudah. Contoh: sekam ispaghula dan metilselulosa.
  • Obat pencahar stimulan: merangsang dan membantu otot yang melapisi saluran pencernaan untuk mendorong tinja dalam usus besar menuju anus. Contoh: senna, bisacodyl, dan sodium picosulphate.
Hati-hati saat Mengonsumsi Obat Pencahar, Alodokter

Pada umumnya obat pencahar osmotik dan pembentuk tinja lebih ringan cara kerjanya dibandingkan obat pencahar stimulan. Namun penggunaan semua obat pencahar sebaiknya dilakukan dengan cermat dan lebih dulu dikonsultasikan dengan dokter.

Panduan Konsumsi Obat Pencahar

Umumnya obat pencahar tersedia dalam berbagai bentuk, antara lain serbuk yang dilarutkan dalam air minum, kapsul atau tablet oral, kapsul yang dimasukkan ke anus hingga mencair, dan cairan atau gel yang dioleskan pada anus. Meski termasuk obat bebas, namun Anda disarankan untuk tetap membaca petunjuk penggunaannya untuk mengurangi risiko. Berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi panduan.
  • Sebagian obat pencahar sebaiknya dikonsumsi pada waktu tertentu, seperti saat bangun tidur di pagi hari atau saat sebelum tidur di malam hari. Perhatikan aturan pemakaian obat pencahar pilihan Anda.
  • Konsumsi obat pencahar jenis osmotik dan pembentuk tinja dapat menyebabkan risiko dehidrasi. Pastikan mengonsumsi cukup air minum saat menggunakan obat ini.
  • Mengonsumsi pencahar dengan dosis lebih tinggi dari yang dianjurkan atau terlalu sering dapat membahayakan kesehatan dan berisiko memicu diare, ketidakseimbangan kadar mineral dan garam dalam tubuh, serta gangguan usus berupa penumpukan kotoran tubuh.
  • Perhatikan kemungkinan efek samping yang dapat diakibatkan dari konsumsi obat ini. Efek tersebut dapat berbeda-beda pada jenis obat yang berbeda pula. Beberapa efek samping umum meliputi mual, perut kembung, kram dan nyeri pada perut, buang angin, dan dehidrasi. Kondisi dehidrasi dapat menyebabkan sakit kepala dan warna air urine lebih gelap dari biasanya.
  • Obat pencahar tidak untuk digunakan terus-menerus. Segera hentikan penggunaan jika konstipasi Anda telah sembuh. Pemakaian jangka panjang berisiko menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit (potasium, sodium, klorida, dan magnesium) yang mengatur sejumlah fungsi tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan lemas, kebingungan, kejang, dan detak jantung yang tidak normal.
  • Hindari penggunaan beberapa jenis obat pencahar secara bersamaan. Selain mendatangkan efek samping yang tidak kecil, penggunaan obat pencahar ganda tidak akan lebih efektif.
Jika konstipasi tidak juga sembuh dalam waktu lebih dari seminggu, sebaiknya hentikan penggunaan dan konsultasikan diri Anda ke dokter.

Obat Pencahar Tidak Direkomendasikan untuk Pengidap Sebagian Penyakit

Pada umumnya, efek samping dan risiko penggunaan obat pencahar sangat bergantung pada riwayat penyakit dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Pencahar dapat berinteraksi dengan obat pengencer darah, sebagian obat-obatan untuk tulang dan jantung, serta sebagian antibiotik. Pencahar oral dapat berpengaruh pada penyerapan nutrisi dan obat-obatan tertentu dalam tubuh.

Obat ini juga tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh pengidap gangguan kesehatan tertentu di bawah ini. Jika memang dirasa sangat membutuhkan, konsumsi obat pencahar pada orang dengan kondisi-kondisi berikut ini memerlukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, yaitu:

  • Gangguan usus, seperti penyakit Crohn, ulcerative colitis, dan sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome/IBS).
  • Memiliki riwayat gangguan ginjal dan/atau hati.
  • Kesulitan menelan.
  • Mengidap diabetes, karena sebagian jenis obat pencahar dapat memicu naiknya kadar gula darah.
  • Memiliki intoleransi laktosa, bahan yang terdapat dalam beberapa obat pencahar.
  • Sedang mengonsumsi obat pereda nyeri opioid, seperti morfin atau kodein.
  • Mengalami kelainan genetis yang sangat jarang, yaitu fenilketonuria. Kondisi ini ditandai dengan tubuh yang tidak dapat memecah substansi fenilalanin yang terkandung dalam beberapa jenis pencahar.
Segera periksakan diri ke dokter jika saat menggunakan obat pencahar Anda mengalami nyeri, lemas, pusing, pendarahan pada anus, kelelahan yang tidak normal, kram parah, atau terdapat darah pada tinja. Terlalu sering mengonsumsi obat pencahar juga dapat menyebabkan ketergantungan. Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk menangani kondisi ini.

Utamakan Obat Pencahar Alami untuk Anak serta Ibu Hamil & Menyusui

Obat pencahar bisa didapatkan dengan mudah di apotek dan toko obat. Namun perlu diingat bahwa kecuali diresepkan oleh dokter, obat pencahar tidak direkomendasikan untuk anak-anak serta ibu hamil dan menyusui.

Tekanan pada usus menyebabkan ibu hamil lebih berpeluang mengalami konstipasi sehingga cenderung merasa membutuhkan obat pencahar. Namun hindari konsumsi obat ini tanpa berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter. Begitu juga untuk ibu yang sedang menyusui. Beberapa kandungan obat pencahar dapat mengontaminasi ASI dan menyebabkan diare pada bayi. Obat pencahar jenis pembentuk dan pelunak tinja umumnya lebih aman untuk digunakan ibu hamil dibandingkan obat pencahar stimulan.

Sementara pada balita, obat pencahar sebaiknya tidak diberikan kepada bayi yang masih menyusu atau kurang dari enam bulan. Konstipasi pada balita dapat coba diatasi dengan cara-cara berikut ini.

  • Kekurangan cairan adalah penyebab utama konstipasi, termasuk pada bayi.  Redakan dengan memberikan lebih banyak ASI, air mineral, atau buah dengan kandungan air yang tinggi seperti semangka dan pepaya.
  • Konstipasi pada bayi juga dapat dilancarkan dengan pijatan perlahan-lahan pada perut bayi dan menggerakkan kakinya seperti gerakan orang mengayuh sepeda.
  • Lebih baik untuk memberikan ASI dibandingkan susu formula. Tinja pada bayi dengan susu formula cenderung lebih padat dan keras dibandingkan pada bayi yang diberi ASI.
  • Hindari terlalu banyak memberikan makanan padat pada bayi yang mulai mengonsumsi MPASI (makanan pendamping ASI).
Terkadang dokter akan merekomendasikan glycerin suppositories untuk dimasukkan ke dalam dubur bayi. Namun hindari penggunaan cara ini tanpa resep dokter. Pemberian obat pencahar pada bayi yang sudah mulai mengonsumsi makanan padat juga perlu dikonsultasikan terlebih dahulu. Sementara konstipasi pada anak-anak dapat diatasi dengan perubahan pola makan dan konsumsi obat pencahar osmotik atau stimulan. Namun pemberiannya sebaiknya dengan resep dari dokter.

Di atas semuanya, sebelum terburu-buru mengonsumsi obat pencahar, sebenarnya ada beberapa cara alami dan sehat untuk mengatasi dan mencegah konstipasi, yaitu lakukan olahraga secara teratur, konsumsi cukup air mineral, konsumsi cukup buah dan sayur yang kaya dengan serat untuk melancarkan buang air besar. Setelah konstipasi membaik, Anda dapat terus membantu melancarkan buang air besar dengan cara-cara tersebut untuk mencegah konstipasi datang kembali.