Ketahui Penyebab Retensi Urine yang Menyulitkan Buang Air Kecil

Retensi urine adalah gangguan pada kandung kemih sehingga kesulitan untuk mengeluarkan atau mengosongkan urine. Keadaan ini lebih banyak dialami pria, dibandingkan wanita.

Retensi urine dapat terjadi secara tiba-tiba atau terjadi dalam jangka waktu lama. Kondisi ini dapat diobati, tetapi cara pengobatannya berbeda-beda, tergantung penyebabnya. Jadi, kenalilah penyebabnya dahulu agar bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.

retensi urine - alodokter

Penyebab Terjadinya Retensi Urine

Ada dua penyebab utama terjadinya retensi urine yaitu penyumbatan uretra, yakni saluran kemih bagian bawah, yang seringkali terjadi karena adanya pembesaran prostat pada pria atau gangguan sistem saraf yang terkait dengan saluran kemih. Gangguan saraf tersebut membuat antara otak dengan otot pada saluran kemih tidak memiliki komunikasi yang baik untuk mengeluarkan urin. Seringkali dialami oleh penderita diabetes, stroke, multiple sclerosis atau cedera panggul.

Selain itu, ada pula beberapa penyebab seseorang mengalami rentensi urine, seperti:

  • Pernah menjalani operasi
Pasien yang menjalani pembedahan kandung kemih atau prostat memiliki risiko untuk mengalami retensi urine. Sebab, luka pada operasi terkadang meninggalkan jaringan parut. Hal ini menyebabkan terjadinya striktur (penyempitan) uretra, sehingga terjadi retensi urine.
  • Adanya infeksi
Adanya infeksi juga dapat menyebabkan terjadinya retensi urine. Infeksi tidak hanya di daerah sekitar kandung kemih tapi juga bisa di sekitar sumsum tulang belakang. Infeksi pada area sumsum tulang belakang dapat menyebabkan pembengkakan yang mungkin menekan bagian saraf yang mengatur keluarnya urin, sehingga terjadi retensi. Selain itu, infeksi yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada saluran kemih juga dapat menyebabkan uretra tertekan, yang memungkinkan terjadinya retensi urine.
  • Batu kandung kemih
Kandungan mineral pada urine yang mengkristal dapat menyebabkan terbentuknya batu pada kandung kemih, yang kerap terjadi akibat kondisi atau kebiasaan yang menyebabkan urine tidak sepenuhnya keluar dari kandung kemih, seperti pembesaran prostat maupun kebiasaan menahan buang air kecil. Apabila proses pengendapan ini terjadi berkepanjangan, batu dapat berukuran cukup besar, sehingga menghalangi aliran urine dan menyebabkan retensi urine.
  • Prolaps uteri
Pada wanita, kondisi rahim turun dari lokasi yang semestinya akibat berbagai hal, seperti proses persalinan yang sulit maupun penambahan usia, dapat menekan saluran kemih dan mengakibatkan retensi urine.
  • Obat-obatan tertentu
Beberapa jenis obat, termasuk obat pelemas otot, antidepresan, pelega pernapasan dan obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan kandung kemih, mungkin memicu terjadinya retensi urine.

Bisa Terjadi Secara Kronis atau Akut

Berdasarkan lama terjadinya, retensi urine dapat dibagi menjadi dua, yaitu retensi urine akut dan kronis. Pada kondisi akut gejala yang sering dikeluhkan adalah rasa ingin buang air kecil yang mendesak, tetapi urine tidak bisa keluar. Akibatnya, terasa sangat mengganggu, nyeri, bahkan dapat tampak pembengkakan pada area di bawah perut sekitar kandung kemih. Biasanya berlangsung secara tiba-tiba atau dalam waktu singkat.

Sementara, retensi urine kronis umumnya terjadi dengan proses dalam jangka waktu yang lama. Keluhan umumnya berupa timbul rasa ingin buang air kecil, namun sesampainya di toilet, sulit untuk memulai buang air kecil. Sekalipun bisa, pancaran air seninya pun lemah. Setelah buang air kecil, rasanya tidak tuntas, sehingga merasa tidak nyaman karena terus ingin buang air kecil, meski baru saja melakukannya.

Penanganan Retensi Urine

Pengobatan pada retensi urine pada umumnya tergantung penyebabnya. Ketika memeriksakan diri untuk mendapatkan penyembuhan pada retensi urine, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Misalnya, terhadap riwayat gejala dan obat yang pernah Anda konsumsi.

Untuk menentukan penyebab kondisi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, dengan memeriksa area kandung kemih hingga organ kelamin dan saluran kemih. Pada pasien pria, dokter mungkin juga akan memeriksa kelenjar prostat. Pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan urine, fungsi ginjal serta pemeriksaan darah. Kemudian, untuk menunjang penegakan diagnosa, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan penunjang lain, seperti USG maupun foto Rontgen.

Ketika Anda merasa mengalami retensi urine, segeralah memeriksakan diri ke dokter umum atau dokter spesialis urologi untuk penanganan lebih lanjut.