Kolesistitis

Pengertian Kolesistitis

Ditinjau oleh: dr. Marianti

Kolesistitis adalah peradangan yang terjadi pada kantong empedu. Kantong empedu merupakan organ tubuh tempat penyimpanan cairan empedu, yaitu cairan yang memiliki peran penting dalam pencernaan lemak di dalam tubuh.

Kolesistitis bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) atau dalam jangka panjang (kronis). Sebagian besar kasus kolesistitis akut terjadi karena penyumbatan di saluran empedu. Sedangkan kolesistitis kronis merupakan peradangan yang terjadi setelah seseorang mengalami kolesistitis akut berulang kali.

alodokter-kolesistitis

Gejala Kolesistitis

Gejala utama kolesistitis adalah kemunculan rasa sakit yang sangat parah pada perut bagian kanan atas dan dapat bertahan selama beberapa jam. Rasa sakit ini cenderung muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu, terutama makanan berlemak dan bisa menjalar hingga ke punggung atau tulang belikat kanan.

Selain rasa sakit di perut, kolesistitis terkadang juga disertai gejala-gejala berikut:

  • Rasa sakit bertambah parah saat menarik napas panjang
  • Mual, muntah, dan nafsu makan hilang.
  • Demam dan berkeringat.
  • Kulit dan mata menjadi kuning.

Penyebab Kolesistitis

Sebagian besar kolesistitis disebabkan oleh penyumbatan pada saluran empedu, sehingga membuat cairan empedu terperangkap di dalam kantong empedu. Penyumbatan saluran empedu ini sendiri dapat diakibatkan oleh batu, tumor, maupun saluran yang menyempit. Penyumbatan tersebut memicu terjadinya iritasi dan tekanan pada kantong empedu, yang kemudian mengakibatkan pembengkakan dan infeksi.

Selain karena penyumbatan saluran empedu, ada beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan kolesistitis. Di antaranya adalah sepsis, AIDS, malnutrisi berat, luka bakar, dan diabetes .

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kolesistitis, antara lain:

  • Berjenis kelamin wanita
  • Kehamilan.
  • Sedang menjalani terapi hormon.
  • Lanjut usia.
  • Obesitas.
  • Berat badan naik atau turun terlalu cepat.

Diagnosis Kolesistitis

Metode Murphy’s sign akan dilakukan oleh dokter terhadap seorang pasien yang dicurigai menderita kolesistitis dari nyeri perut hebat yang dialaminya. Tes ini dilakukan dengan cara menekan perut di bagian bawah tulang iga kanan pasien. Saat pasien menarik napas, kantong empedu akan bergeser dan menyentuh tekanan tangan dokter. Bila pasien menderita kolesistitis, pasien akan merasakan nyeri saat pemeriksaan dilakukan.

Dokter kemungkinan juga akan menyarankan metode-metode pemeriksaan berikut ini guna memastikan diagnosis. Di antaranya meliputi:

  • Tes darah untuk memeriksa adanya tanda-tanda radang, infeksi, atau masalah lain di dalam kantong empedu.
  • USG, foto Rontgen, MRI, atau CT scan guna memeriksa ada atau tidaknya gangguan pada kantong empedu atau sumbatan saluran empedu.

Pengobatan Kolesistitis

Langkah penanganan kolesistitis meliputi:

  • Berpuasa atau diet rendah lemak agar beban kerja kantong empedu berkurang.
  • Pemberian cairan melalui infus untuk menghindari dehidrasi.
  • Penggunaan obat-obatan, seperti obat pedera rasa sakit serta antibiotik untuk menangani infeksi.

Selain pengobatan di atas, dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani operasi pengangkatan kantong empedu atau kolesistektomi. Prosedur ini bertujuan untuk mengurangi risiko komplikasi serius pada penderita kolestitis, sekaligus mencegah agar kolesistitis tidak kembali lagi.

Ada dua jenis kolesistektomi yang bisa dijalani oleh pasien, yaitu kolesistektomi laparoskopik dan kolesistektomi sayatan terbuka. Kolesistektomi laparoskopik adalah upaya pengangkatan kantong empedu yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil di perut, dan menggunakan alat bedah khusus yang dilengkapi dengan kamera video.

Efek yang dapat dirasakan setelah pengangkatan kantong empedu adalah diare setelah mengonsumsi makanan tertentu. Tubuh manusia tetap bisa bertahan tanpa organ ini. Hati akan tetap mengeluarkan cairan empedu untuk membantu pencernaan lemak meski kantong empedu sudah diangkat.

Komplikasi Kolesistitis

Kolesistitis yang tidak ditangani berpotensi memicu komplikasi serius, bahkan dapat berakibat fatal. Jaringan kantong empedu yang mati dan membusuk, serta pecahnya kantong empedu merupakan komplikasi utama yang bisa terjadi. Keduanya dapat menyebabkan infeksi yang serius pada rongga perut, yaitu peritonitis. Oleh karena itu, pengobatan yang segera sangat penting dilakukan.

Pencegahan Kolesistitis

Kolesistitis tidak bisa dicegah sepenuhnya, terutama kolesistitis akut. Risiko kolesistitis bisa dikurangi dengan beberapa cara di bawah ini:

  • Menerapkan pola makan sehat. Membiasakan diri mengonsumsi makanan yang kaya akan serat dan rendah lemak, misalnya buah-buahan atau sayuran, dapat meminimalkan risiko terjadinya kolesistitis.
  • Menjaga berat badan ideal. Berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kolesistitis. Untuk mempertahankan berat badan ideal bisa dilakukan dengan disiplin berolahraga dan menerapkan pola makan sehat.
  • Menurunkan berat badan secara bertahap. Penurunan berat badan secara drastis dapat meningkatkan risiko terkena kolesistitis. Jika Anda termasuk orang yang memiliki berat badan berlebih, disarankan untuk menguranginya secara bertahap, yaitu setengah atau satu kilogram tiap minggunya.

 

Referensi