Asma pada anak adalah penyakit kronis yang menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran napas, sehingga anak bisa mengalami sesak napas, batuk, atau mengi. Kondisi ini dapat muncul sejak usia dini dan dapat kambuh sewaktu-waktu. 

Asma pada anak perlu mendapatkan perhatian khusus. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat mengganggu aktivitas dan menghambat tumbuh kembang anak, bahkan bisa menimbulkan komplikasi serius. 

Asma pada Anak

Gejala asma pada anak sering kali berbeda dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, penting untuk mengenali tanda-tanda khas serta faktor pencetusnya agar cepat ditangani. Penanganan yang tepat sejak dini dapat menurunkan risiko kekambuhan dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Penyebab Asma pada Anak

Penyebab asma pada anak diduga dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Anak yang saluran napasnya lebih sensitif akan lebih mudah mengalami peradangan ketika terpapar zat pemicu. Hal ini dapat membuat gejala asma muncul atau kambuh sewaktu-waktu.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko asma pada anak antara lain:

1. Riwayat keluarga atau faktor genetik

Anak yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan asma, rhinitis alergi, atau eksim lebih berisiko untuk terkena asma. 

2. Paparan asap rokok, polusi udara, atau bahan kimia tertentu

Zat iritan ini dapat merusak lapisan saluran napas anak dan memicu peradangan yang menyebabkan gejala asma muncul atau kambuh.

3. Infeksi saluran napas berulang

Pilek, bronkitis, atau infeksi virus yang sering terjadi ketika bayi atau usia balita bisa membuat saluran napas menjadi lebih sensitif terhadap pemicu asma.

4. Berat badan lahir rendah atau kelahiran prematur 

Kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan paru-paru anak sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan pernapasan, termasuk asma.

5. Paparan alergen

Alergen seperti debu, bulu hewan, tungau, atau jamur dapat memicu reaksi alergi yang menyebabkan peradangan pada saluran napas.

6. Obesitas pada anak

Berat badan berlebih dapat menekan paru-paru dan meningkatkan peradangan di tubuh, sehingga memperburuk risiko terjadinya asma.

Gejala Asma pada Anak

Pada anak yang menderita asma, saluran napas cenderung lebih sensitif dibandingkan anak tanpa asma. Saat terpapar pemicu asma, otot di sekitar saluran pernapasan bisa menegang dan menyebabkan saluran tersebut menyempit. Akibatnya, aliran udara menjadi terhambat.

Gejala asma pada anak bisa bervariasi dan sering kali muncul secara tiba-tiba, terutama ketika ia terpapar pemicunya. Beberapa gejala utama yang biasanya muncul meliputi:

  • Batuk, terutama pada malam atau dini hari
  • Mengi (napas berbunyi “ngik-ngik”) saat mengembuskan napas
  • Sesak napas atau napas terasa pendek-pendek
  • Nyeri dada
  • Mudah lelah saat bermain atau beraktivitas

Gejala-gejala tersebut dapat makin parah bila anak mengalami infeksi saluran napas, terpapar udara dingin, melakukan aktivitas fisik berat, atau sedang stres. Waspadalah bila anak sering menunjukkan tanda-tanda tersebut, terutama jika disertai kesulitan bicara, bibir atau kuku tampak kebiruan, atau napas menjadi sangat cepat maupun lambat. Kondisi ini bisa menandakan serangan asma berat yang perlu cepat ditangani.

Kapan Harus ke Dokter

Jika gejala asma anak masih ringan dan dapat dikendalikan dengan inhaler atau obat rutin, kondisinya bisa dipantau di rumah. Namun, bila gejala makin sering kambuh, tidak membaik dengan pengobatan, atau justru memburuk, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.

Segera bawa anak ke IGD terdekat bila menunjukkan tanda serangan asma berat, seperti kesulitan bernapas, tidak mampu berbicara, tidur terganggu akibat sesak, atau bibir dan kuku tampak kebiruan.

Diagnosis Asma pada Anak

Untuk memastikan apakah anak benar-benar menderita asma, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Langkah ini bertujuan menilai tingkat keparahan dan mencari kemungkinan pemicu gejala

Pemeriksaan yang dilakukan bisa meliputi:

  • Wawancara terkait keluhan dan riwayat keluarga, untuk mengetahui gejala yang dirasakan serta apakah ada anggota keluarga yan g memiliki asma atau alergi.
  • Pemeriksaan fisik, terutama pada sistem pernapasan, guna mendeteksi suara mengi atau tanda-tanda sesak napas.
  • Tes fungsi paru (spirometri), yang umumnya dilakukan pada anak usia 5 tahun ke atas, untuk mengukur kemampuan paru-paru dalam menghirup dan mengembuskan udara.
  • Pemeriksaan penunjang lain, seperti tes alergi atau Rontgen dada, bila dokter mencurigai adanya kondisi lain yang memicu gejala serupa.

Pengobatan Asma pada Anak

Tujuan utama pengobatan asma pada anak adalah untuk mengendalikan gejala, mencegah serangan kambuh, dan menjaga kualitas hidup anak. Penanganan asma pada anak meliputi:

  • Pemberian obat inhalasi, seperti agonis beta (Suprasma Inhaler) dan kortikosteroid inhalasi (Seretide Inhaler). Obat asma anak ini berguna untuk melegakan pernapasan, serta mengurangi gejala dan kekambuhan.
  • Obat minum, seperti Astharol dengan kandungan salbutamol atau obat yang mengandung leukotriene receptor antagonist. Obat dengan kandungan salbutalmol dapat membantu melegakan saluran napas, sementara leukotriene receptor antagonist berperan menghambat zat penyebab peradangan agar saluran napas tidak menyempit.
  • Edukasi kepada orang tua dan anak mengenai cara menggunakan inhaler dengan benar, mengenali tanda perburukan gejala, serta menghindari faktor pencetus asma.
  • Vaksinasi rutin, untuk mencegah infeksi saluran napas yang bisa memperburuk kondisi asma.

Pada kasus asma ringan, penggunaan obat inhalasi hanya digunakan ketika gejala muncul. Namun, pada asma sedang hingga berat, anak mungkin perlu menggunakan obat pengontrol setiap hari agar gejala tetap terkendali dan serangan asma tidak mudah kambuh.

Komplikasi Asma pada Anak

Jika tidak ditangani dengan baik, asma pada anak dapat menimbulkan berbagai komplikasi di bawah ini:

  • Serangan asma berat yang berisiko mengancam jiwa
  • Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
  • Kesulitan beraktivitas, termasuk saat sekolah atau berolahraga
  • Infeksi paru berulang
  • Kebutuhan perawatan intensif, termasuk penggunaan ventilator pada kasus berat

Pencegahan Asma pada Anak

Meskipun belum ada cara pasti untuk mencegah asma, upaya-upaya berikut dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan dan menjaga kondisi anak tetap stabil:

  • Hindari paparan asap rokok, polusi udara, serta alergen di lingkungan rumah.
  • Pastikan anak mendapatkan vaksinasi influenza dan pneumonia sesuai anjuran dokter.
  • Ajarkan anak dan keluarga untuk mengenali serta menghindari faktor pencetus asma.
  • Lakukan kontrol rutin ke dokter dan patuhi penggunaan obat sesuai petunjuk medis.

Dengan pengelolaan dan edukasi yang tepat, sebagian besar anak yang menderita asma tetap dapat menjalani aktivitas seperti biasa, tumbuh sehat, dan terhindar dari komplikasi serius.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar asma pada anak atau ingin mengetahui pengobatan yang paling sesuai, jangan ragu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter melalui layanan Chat Bersama Dokter. Konsultasi bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun.