Bisitopenia adalah kondisi ketika dua dari tiga jenis sel darah utama jumlahnya menurun secara bersamaan. Kondisi ini merupakan tanda adanya gangguan kesehatan tertentu. Keluhannya pun beragam, mulai dari mudah lelah, infeksi berulang, hingga perdarahan tanpa sebab yang jelas.
Bisitopenia umumnya baru diketahui setelah seseorang menjalani pemeriksaan darah lengkap. Tidak jarang hasil ini membuat pasien merasa cemas. Namun, perlu dipahami bahwa bisitopenia tidak selalu berarti penyakit serius. Meski begitu, pemeriksaan lanjutan tetap penting untuk mencari tahu penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.

Bisitopenia dan Gejalanya
Gejala bisitopenia bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis sel darah yang berkurang dan seberapa berat penurunannya. Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
- Mudah lelah dan lemas
- Sering mengalami infeksi
- Mudah memar atau perdarahan
- Napas terasa pendek atau jantung berdebar
- Sakit kepala atau pusing
- Luka sulit sembuh
Bisitopenia dan Penyebabnya
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bisitopenia adalah keadaan ketika dua jenis sel darah menurun secara bersamaan. Untuk memahaminya lebih jelas, penting untuk mengetahui jenis dan fungsi utama dari masing-masing sel darah berikut:
- Sel darah merah, berperan membawa oksigen ke seluruh tubuh.
- Sel darah putih, membantu melawan infeksi.
- Trombosit, berfungsi membantu proses pembekuan darah saat terjadi luka.
Bisitopenia terjadi ketika dua sel darah di antaranya berkurang bersamaan, sehingga tubuh bisa lebih mudah merasa lelah, rentan infeksi, atau mengalami perdarahan.
Berikut ini adalah beberapa kondisi yang dapat menyebabkan bisitopenia:
1. Gangguan sumsum tulang
Sumsum tulang adalah tempat produksi semua sel darah. Jika bagian ini terganggu, pembentukan sel darah bisa menurun secara bersamaan.
Pada kondisi seperti anemia aplastik atau leukemia, sumsum tulang tidak mampu menghasilkan sel darah dalam jumlah yang cukup sehingga memicu bisitopenia.
2. HIV/AIDS
Infeksi HIV dapat menyerang sistem kekebalan tubuh sekaligus memengaruhi fungsi sumsum tulang. Pada stadium lanjut (AIDS), produksi sel darah bisa terganggu atau sel darah lebih cepat dihancurkan, sehingga memicu penurunan dua jenis sel darah sekaligus.
Selain itu, infeksi oportunistik dan efek samping obat antiretroviral tertentu juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya bisitopenia pada penderita HIV/AIDS.
3. Infeksi berat
Infeksi berat dapat memengaruhi kerja sumsum tulang dan mempercepat penghancuran sel darah di dalam tubuh. Akibatnya, jumlah dua jenis sel darah bisa turun sekaligus.
Beberapa infeksi, seperti tuberkulosis, hepatitis, atau infeksi menyeluruh pada tubuh (sepsis) diketahui dapat memicu terjadinya bisitopenia, terutama bila tidak segera ditangani.
4. Efek samping obat atau terapi tertentu
Obat-obatan tertentu dapat menekan proses pembentukan sel darah, terutama jika digunakan dalam jangka panjang atau dosis tinggi. Kondisi ini perlu dipantau melalui pemeriksaan darah rutin.
Kemoterapi dan radioterapi juga dapat menyebabkan bisitopenia karena terapi tersebut bekerja dengan menekan sel yang aktif membelah, termasuk sel pembentuk darah di sumsum tulang.
5. Penyakit autoimun
Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel darah sebagai ancaman. Akibatnya, sel darah justru diserang dan dihancurkan oleh tubuh sendiri.
Jika proses ini terjadi terus-menerus, jumlah dua jenis sel darah dapat menurun dan menyebabkan bisitopenia dengan berbagai keluhan yang menyertainya.
6. Kekurangan nutrisi
Tubuh membutuhkan vitamin dan mineral tertentu untuk membentuk sel darah yang sehat. Kekurangan vitamin B12 atau asam folat dapat menghambat proses ini. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan lebih dari satu jenis sel darah dan akhirnya memicu bisitopenia.
7. Gangguan limpa
Limpa berperan dalam menyaring dan menghancurkan sel darah yang sudah tua atau rusak. Namun, jika limpa membesar, penghancuran sel darah bisa terjadi secara berlebihan.
Akibatnya, jumlah sel darah di dalam sirkulasi menurun dan dapat menyebabkan bisitopenia, terutama bila disertai gangguan fungsi hati.
8. Kanker
Beberapa jenis kanker, seperti limfoma dan leukemia, dapat mengganggu produksi sel darah di sumsum tulang. Selain itu, kanker dari organ lain yang telah menyebar (metastasis) ke sumsum tulang juga dapat menekan pembentukan sel darah.
Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan dua jenis sel darah atau lebih, tergantung pada luasnya gangguan di sumsum tulang.
Karena penyebab bisitopenia cukup beragam, pemeriksaan menyeluruh sangat diperlukan agar penanganannya sesuai dengan kondisi yang mendasarinya.
Apabila bisitopenia tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjaidnya infeksi berat, perdarahan yang sulit berhenti, bahkan gangguan pada organ penting. Untuk itu, evaluasi medis yang tepat sangat diperlukan agar komplikasi dapat dicegah sejak dini.
Oleh karena itu, bisitopenia sebaiknya tidak diabaikan, terutama bila disertai demam tinggi, perdarahan yang tidak kunjung berhenti, atau tanda infeksi yang memburuk. Dalam kondisi seperti ini, pemeriksaan langsung di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan agar penyebabnya bisa segera diketahui.
Jika Anda mengalami keluhan yang dicurigai akibat bisitopenia, jangan ragu untuk mengonsultasikannya ke dokter. Anda bisa melakukannya secara praktis dan cepat melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Nantinya, Anda akan mendapatkan informasi mengenai penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisi yang mendasarinya.