Bunda, Ini Cara Memulihkan Diri Setelah Keguguran

Keguguran atau kehilangan bayi yang belum lahir, dapat membawa kesedihan yang panjang bagi seorang wanita. Namun, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesedihan ya. Meski tidak mudah, ada cara untuk memulihkan diri dan kembali bangkit setelah keguguran.

Secara fisik, kamu mungkin dapat sembuh dengan cepat dari keguguran, tetapi belum tentu secara emosional. Meski belum menimang sang buah hati, tapi ikatan batin antara ibu dan bayi sejak dalam kandungan pasti telah terjalin. Wajar saja bila segala perasaan timbul campur aduk ketika mengalami keguguran. Tetapi jangan biarkan hal ini membuatmu tenggelam dalam duka berkepanjangan.

Bunda, Ini Cara Memulihkan Diri Setelah Keguguran (1)

Merasakan Berbagai Emosi

Jika kamu mengalami keguguran, kamu dapat merasakan perpaduan emosi mulai dari marah, sedih, bersalah, depresi, hingga tidak percaya. Akibatnya, kamu mungkin akan mengalami kelelahan, sulit tidur, hilang nafsu makan, sulit konsentrasi, sering menangis, hubungan yang renggang dengan keluarga dan teman, bahkan hingga ingin bunuh diri. Keluhan-keluhan ini umumnya mengarah pada depresi pasca keguguran.

Memulihkan diri dari keguguran, bukan berarti sama sekali melupakan tentang peristiwa tersebut. Namun, mengubah fokus pada hal yang lebih positif dan membangun. Sebaiknya kamu tetap optimis bahwa masih ada masa depan dan harapan yang menanti untuk kembali hamil.

Kecuali analisa dokter mengatakan lain, kamu masih memiliki kemungkinan untuk hamil kembali dan memiliki bayi lahir sehat. Meski demikian, tentu penting bagimu untuk lebih dulu pulih dan menguatkan diri sebelum hamil lagi. Kenakan kontrasepsi jika kamu memang ingin menunda memilliki bayi.

Tetap Tegar Setelah Keguguran

Keguguran dapat memadamkan semangat seorang calon bunda. Namun, jangan biarkan hal itu berlarut-larut ya. Lakukan cara-cara berikut untuk memulihkan diri setelah keguguran, sehingga dapat tetap tegar.

  • Jangan menyalahkan diri atau orang lain

Hindari menyalahkan diri sendiri atas keguguran yang kamu alami.  Kamu juga mungkin ingin menyalahkan berbagai hal di sekelilingmu, termasuk dokter, pasangan, atau situasi yang kamu alami. Tetapi menyalahkan pihak lain tidak akan bermanfaat. Mendekatkan diri pada Tuhan akan membuat kamu lebih mudah menerima kondisi dan mengelola emosi-emosi dan perasaan negatif. Berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, akan sangat membantumu untuk menjalani hidup dengan perasaan yang lebih ringan.

  • Coba untuk membuka diri

Buka diri terhadap semua perasaan negatif yang mungkin muncul. Jangan ditekan atau dihindari. Beri waktu bagi kamu dan suami untuk berduka dan saling mengungkapkan perasaan. Sebagian orang mungkin merasa enggan menceritakan pengalaman kegugurannya pada orang lain. Tetapi, sebagian lain merasa bahwa berbagi pengalaman justru dapat menyembuhkan. Jangan segan meminta bantuan psikolog atau konselor jika kamu merasa kesulitan menangani naik turunnya emosi.

  • Ambil cuti kerja dan istirahat

Jika memungkinkan, ambil cuti dari kantor meski secara fisik kamu mungkin merasa baik-baik saja. Dokter dapat membantu kamu memberikan surat izin. Kalau kamu punya anak lain, minta bantuan kerabat, teman, atau pengasuh untuk membantu mengasuhnya. Minta bantuan asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah, memasak atau mencuci.

  • Abaikan komentar orang lain

Tidak perlu mendengarkan komentar orang lain yang tidak berkenan di hati, misalnya saat seseorang mengajakmu untuk melupakan peristiwa tersebut dengan cepat. Kemungkinan orang itu hanya bermaksud untuk membantumu melewati kesedihan.

  • Beri waktu untuk kembali bersosialisasi

Tidak apa jika kamu merasa belum siap untuk bertemu orang lain, apalagi datang untuk mengunjungi kelahiran bayi lain, acara babyshower, atau acara lain yang mengingatkan kamu pada keguguran.

Keguguran merupakan peristiwa traumatis yang dapat membawa kesedihan mendalam. Tapi, jangan sampai hal itu berdampak berlebihan atau berlarut-larut pada kehidupanmu. Meski tidak mudah, tapi kamu harus tetap tegar dan kembali menjalani hidup dengan semangat ya!

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi