Demam berdarah hingga menimbulkan dengue shock syndrome dapat dicegah dengan pemberian vaksin dengue. Vaksin ini diberikan pada anak usia 9-16 tahun, sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan. Pemberian vaksin tidak disarankan pada anak di bawah usia 9 tahun, karena bisa meningkatkan risiko dengue berat, terutama pada kelompok usia 2-5 tahun.

Vaksin dengue mengandung 4 serotipe virus. Karena itu, vaksin tetap diberikan pada anak yang sudah pernah terinfeksi. Hal ini untuk membentuk kekebalan tubuh anak terhadap tipe virus Dengue berbeda.

Selain dengan vaksin, demam dengue dapat dicegah melalui kegiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk). PSN dilakukan dalam dua kali pengasapan insektisida atau fogging. Pengasapan kedua akan dilakukan satu minggu setelah pengasapan pertama, untuk membunuh jentik nyamuk yang tidak dapat dibasmi saat pengasapan pertama.

Metode PSN lain adalah dengan rutin menjalankan 3M-Plus, terutama pada musim hujan. Langkah 3M, yaitu:

  • Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi atau toren, minimal tiap pekan.
  • Menutup rapat tempat penampungan air.
  • Mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Selain itu, lakukan pula langkah Plus untuk membantu pencegahan. Langkah Plus antara lain dengan mengatur cahaya yang cukup di dalam rumah, memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras, menggunakan kelambu saat tidur, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, dan menghentikan kebiasaan menggantung pakaian. Cara lain untuk mencegah gigitan nyamuk adalah dengan menghindari area yang rentan terjadi infeksi.

Perlu diketahui, gigitan nyamuk dapat menembus pakaian yang ketat. Karena itu, disarankan agar mengenakan pakaian longgar. Sebagai perlindungan tambahan, gunakan losion antinyamuk, terutama yang mengandung N-diethylmetatoluamide (DEET). Akan tetapi, meski tergolong efektif, jangan gunakan DEET pada bayi di bawah usia 2 tahun.