Gangguan Somatoform, Sakit Karena Stres

Gangguan somatoform merupakan kelainan psikologis yang ditandai dengan sekumpulan gejala fisik yang tidak menentu dan tidak tampak pada pemeriksaan fisik. Stres bisa menimbulkan sakit dada atau punggung, lelah, pusing, atau tidak enak badan yang tidak diketahui penyebabnya. Hal ini kemungkinan merupakan tanda gangguan somatoform.

Gangguan somatoform adalah sekelompok gangguan kejiwaan di mana kita bisa merasakan adanya gejala sakit fisik yang nyata di tubuh kita, namun setelah diperiksakan ke dokter, ternyata tidak ditemukan kelainan secara fisik. Walau tidak ada sumber penyakit yang bisa ditemukan, rasa sakit yang dirasa tersebut nyata dan bukan imajinasi. Gangguan somatoform ini dapat terjadi saat kita sedang stres atau banyak pikiran. Untuk mendiagnosis gangguan somatoform, dokter perlu melakukan pemeriksaan medis yang lengkap dan teliti guna mencari penyebab yang mendasari keluhan tersebut.

Gangguan Somatoform Sakit Karena Stres - alodokter

Penyebab Gangguan Somatoform

Hubungan antara tubuh dan pikiran sejauh ini belum sepenuhnya dipahami. Hingga saat ini, tidak ada yang tahu secara pasti mengapa gangguan somatoform bisa terjadi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena ada masalah dengan impuls saraf yang mengirim sinyal rasa sakit, stres, dan sensasi tidak menyenangkan lainnya ke otak.

Gangguan somatoform cenderung hilang timbul dari waktu ke waktu dan menurun dalam keluarga. Gangguan ini lebih sering terjadi pada orang yang menyalahgunakan alkohol dan narkoba, juga pada mereka yang memiliki kecenderungan berpikir negatif, sensitif terhadap nyeri baik secara fisik maupun emosional, memiliki riwayat pelecehan seksual atau pernah menjadi korban kekerasan fisik.

Jenis-jenis Gangguan Somatoform

Jika dirinci lebih lanjut, gangguan somatoform bisa dibagi menjadi lima jenis, yaitu:

  • Gangguan somatisasi
    Gangguan ini umumnya terjadi pada usia 18-30 tahun dan berlangsung selama bertahun-tahun. Penderitanya memiliki banyak gejala fisik di berbagai bagian tubuh, seperti gangguan pencernaan, sakit perut, mual, sakit kepala, kelelahan, masalah seksual, hingga masalah seputar menstruasi.

    Gangguan somatisasi tidak diketahui apa penyebabnya. Yang pasti, kelainan ini bisa sangat berdampak atau memengaruhi kehidupan sehari-hari dan lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria. Penderita gangguan ini pun sering mendapat rujukan ke berbagai spesialis dan menjalani banyak tes, karena tidak ada kelainan fisik yang ditemukan untuk menjelaskan gejalanya.

  • Hipokondriasis
    Penderita hipokondriasis selalu khawatir jika mereka memiliki penyakit serius. Mereka percaya jika gejala yang mereka derita merupakan tanda-tanda penyakit medis yang sangat serius. Misalnya, percaya menderita tumor otak karena merasa sakit kepala, atau curiga terkena kanker kulit ketika ada ruam kecil di kulitnya.
  • Gangguan konversi
    Pada gangguan konversi, penderitanya memiliki gejala yang menunjukkan adanya penyakit serius pada otak atau saraf, namun tidak dapat ditelusuri penyebab medisnya. Gangguan somatoform yang satu ini cenderung terjadi pada usia 18-30 tahun dan bisa berulang dari waktu ke waktu.

    Berbagai gejala gangguan konversi antara lain mati rasa, pendengaran terganggu atau tidak dapat mendengar, buta, gerak tubuh abnormal seperti tremor atau gontai ketika berjalan, atau bahkan lumpuh. Tanda-tanda tersebut bisa bertambah parah jika sedang stres. Gejalanya berlangsung selama beberapa minggu, tapi ada juga yang gejalanya menetap untuk jangka waktu yang lebih lama.

  • Gangguan dismorfik tubuh
    Apabila kita menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan penampilan tubuh, mungkin kita menderita gangguan dismorfik tubuh. Penderita gangguan somatoform ini merasa memiliki cacat fisik, padahal sebenarnya tidak. Misalnya, penderita merasa memiliki bentuk telinga yang aneh, padahal bentuk telinganya normal. Atau memang memiliki kecacatan kecil, tapi cenderung terlalu membesar-besarkan kekhawatiran akan cacat tersebut.
  • Gangguan rasa sakit
    Gangguan rasa sakit merupakan suatu kondisi di mana kita merasakan rasa sakit terus-menerus yang tidak ada hubungannya dengan penyakit fisik. Gejala utama gangguan somatoform yang satu ini adalah nyeri. Faktor psikologis berkontribusi terhadap serangan, tingkat keparahan, dan lama penyakit berlangsung.

Pengobatan Gangguan Somatoform

Menjalin hubungan baik antara dokter dan pasien merupakan salah satu kunci utama dalam penanganan gangguan somatoform. Tujuan pengobatan pada gangguan somatoform adalah untuk membantu penderita agar mereka dapat menjalani hidup dengan normal dan membantu mengurangi gejala. Untuk menangani gejala akibat gangguan somatoform, dianjurkan untuk mengatasi terlebih dahulu masalah kesehatan mental yang mendasarinya. Jika masalah dasar tersebut sudah teratasi, maka gejala penyakit yang dirasakan akan berkurang dan membaik.

Dokter bisa menganjurkan psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif guna membuat pasien mengerti alasan utama timbulnya gejala penyakit yang dia rasakan, dan memberikan obat-obatan antidepresan. Pemberian obat-obatan pada gangguan somatoform umumnya jika penderitanya mengalami kondisi psikologis tertentu seperti depresi atau gangguan kecemasan. Selain itu, dianjurkan agar pasien hanya berkonsultasi dengan satu dokter agar membantu mengurangi tes dan perawatan serta biaya pengobatan.

Jika Anda sedang stres atau banyak pikiran, disarankan untuk mengalihkannya dengan melakukan hal-hal yang Anda sukai, bermeditasi, olahraga, atau curhat pada teman atau keluarga. Pada saat beban pikiran dan stres hilang, gangguan somatoform pun akan lenyap.

Ditinjau oleh : dr. Kevin Adrian

Referensi