Produk herbal lama dipercaya sebagai pendukung pengobatan untuk menangani sejumlah penyakit dan menjaga tubuh tetap sehat. Produk herbal dapat berupa obat-obatan atau suplemen yang berasal tumbuhan seperti daun, akar, bunga, serta bagian dari tumbuhan lainnya.

Namun, tidak semua produk herbal yang dipasarkan aman digunakan. Sebaiknya, pahami kandungan di dalam produk herbal agar Anda terhindar dari masalah kesehatan. Jika perlu, konsultasi ke dokter sebelum menggunakan produk herbal jenis apa pun.

Harus Cermat Memanfaatkan Produk Herbal Sebagai Pendukung Pengobatan - Alodokter

Manfaat Produk Herbal

Produk herbal dapat tersedia dalam bentuk sediaan bubuk, kapsul, ekstrak cair, bagian tanaman yang dikeringkan atau bentuk lain. Cara mengonsumsi bisa diminum sebagai pil atau bubuk, diseduh seperti teh, dicampur ke dalam air untuk diminum, dioleskan pada kulit atau ditambahkan pada air untuk mandi.

Pada umumnya penggunaan produk herbal bertujuan mendukung proses penyembuhan dan mengembalikan sistem kekebalan tubuh. Misalnya, pasak bumi yang dianggap sebagai produk herbal yang mampu meningkatkan kadar testosteron, energi dan ketahanan terhadap beban aktivitas fisik. Ada pula produk herbal yang kaya akan antioksidan seperti saripati dari mengkudu, jambu biji, tomat, apel, dan nanas, sehingga banyak digunakan untuk mengatasi kondisi yang berhubungan dengan penuaan dan daya tahan tubuh.

Selain itu, produk herbal dengan ekstrak manggis memiliki kandungan xanthone, yang berfungsi sebagai antioksidan dan dipercaya memiliki potensi untuk mencegah kanker.

Pada sebagian penderita kanker, produk herbal memang umum digunakan sebagai pelengkap atau terapi alternatif. Beberapa penelitian menunjukkan 60 dari 100 penderita kanker menggunakan obat-obatan herbal secara bersamaan dengan metode penanganan kanker konvensional. Kemudian, ada pula produk herbal yang dianggap dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

Seberapa Aman Produk Herbal bagi Kesehatan?

Produk obat-obatan herbal sebenarnya memiliki kandungan yang hampir mirip dengan obat medis yang dijual di apotek. Namun, yang menjadikan produk herbal berbeda dengan obat medis adalah proses eksktraksi yang dilakukan. Produk herbal seringkali dicampur agar memperoleh keseimbangan, sementara sebagian besar obat medis hanya berkonsentrasi pada satu bahan aktif.

Selain itu, Anda juga harus berhati-hati karena tidak semua obat herbal mendapatkan izin dan terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Produk herbal tidak termasuk kategori obat, melainkan suplemen, sehingga standarisasi dan peraturan yang diterapkan untuk proses perizinan oleh BPOM berbeda dengan obat medis. Anda dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dulu kepada dokter sebelum memakai produk herbal.

Penggunaan produk herbal, mungkin saja menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang. Produk herbal juga kemungkinan dapat berinteraksi dengan obat medis, sehingga menimbulkan efek samping. Sehingga, bila menggunakan produk herbal, maka pastikan Anda memerhatikan keterangan dosis, aturan pakai, serta efek samping dan kontraindikasi yang tertera pada kemasan, Bila perlu, konsultasikan dengan layanan konsumen produk atau pun dengan dokter Anda.

Penggunaan produk herbal pun harus diperhatikan menjelang tindakan operasi. Sebagian kandungan herbal mungkin dapat menyebabkan perdarahan pada waktu pemberian anestesi atau pembiusan. Hentikan pemakaian produk herbal sekurang-kurangnya dua minggu sebelum jadwal operasi.

Selain itu, bagi anak-anak, lansia, ibu hamil dan/atau menyusui, serta yang sedang mengonsumsi obat-obtan tertentu (pengencer darah seperti aspirin, dan obat penambah atau penurun tekanan darah), disarankan untuk memastikan penggunaan obat herbal kepada dokter terlebih dahulu.

Tips Memilih Produk Herbal

Berikut sejumlah tips dalam memilih produk herbal yang tepat:

  • Baca petunjuk obat herbal dan dosis yang tertera pada label kemasan. Ada kondisi-kondisi tertentu yang tidak diperbolehkan untuk menggunakan produk herbal.
  • Perhatikan risiko efek samping pada label kemasan. Kurangi dosis atau hentikan penggunaan jika muncul sejumlah gejala efek samping.
  • Kumpulkan informasi dari sumber terpercaya. Anda dapat memastikan produk herbal telah terdaftar di situs web BPOM atau memeriksa kandungan di dalamnya.
  • Konsultasi kepada dokter atau apoteker yang dapat memberikan petunjuk produk herbal secara jelas, baik manfaat maupun risikonya.

Jangan langsung percaya label kemasan "alami" yang berarti aman dan baik untuk kesehatan. Ingat bahwa proses produk herbal tidak sama dengan obat. Teliti kandungan produk herbal dan konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya, terutama jika Anda memiliki kondisi kesehatan khusus.