Pada umumnya, dokter akan menegakkan diagnosis herpes genitalis dengan mengajukan pertanyaan seputar gejala yang dialami dan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian tubuh yang terkena. Selain itu, dokter mungkin akan mengambil sampel cairan dari luka melepuh yang muncul. Untuk mengetahui apakah kita menderita herpes genitalis, sampel ini akan dibawa dan diteliti di laboratorium.

Selain tes dengan menggunakan sampel cairan luka herpes, keberadaan antibodi terhadap virus herpes juga bisa diperiksa melalui tes darah.

PCR atau tes reaksi berantai polimerase juga bisa dilakukan untuk mendiagnosis keberadaan virus herpes genital. Tes ini dapat memeriksa keberadaan dan tipe HSV yang telah menjangkiti tubuh melalui sampel darah atau cairan tubuh.

Jika Anda mengalami kondisi kesehatan tertentu selain herpes genital ini, Anda mungkin perlu menemui dokter spesialis untuk menerima perawatan khusus. Infeksi yang terjadi bisa berdampak kepada bagian tubuh yang lain.

Bagi wanita hamil yang terinfeksi herpes genital, terutama mereka yang merencanakan atau sedang hamil, sebaiknya segera menemui dokter spesialis kandungan. Infeksi yang terjadi pada wanita hamil bisa menulari bayi yang sedang dikandungnya.

Pasien herpes genital yang memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh juga perlu menemui dokter spesialis, sama halnya dengan para penyandang HIV/AIDS dan penderita kanker. Kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh penderita herpes genital sangat berpengaruh terhadap lama tidaknya infeksi berlangsung dan juga tingkat keparahannya.