Kafein atau caffeine adalah zat yang digunakan untuk meredakan rasa kantuk, sehingga seseorang dapat tetap terjaga. Selain itu, kafein juga sering ditemukan di dalam obat untuk meredakan migrain.

Walaupun dapat mengurangi rasa kantuk, perlu diingat bahwa kafein tidak bisa menggantikan waktu tidur yang hilang.

kafein

Kafein memiliki efek stimulan yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Kafein juga bisa digunakan dalam pengobatan henti napas (apnea) pada bayi baru lahir (neonatal apnea). Kondisi ini sering ditemukan pada bayi prematur.

Secara alami, kafein bisa ditemukan pada kopi, teh, kakao (coklat), atau minuman kola

Merek dagang kafein: Alfidon, Bimagen, Bodrex migra, Cafmosol, Copara, Ericaf, Fasidol Plus, Hemaviton Drink, Kuku Bima Ener-G, Mirasic Plus, Mixalgin, Paramex, Oskadon, Panadol Extra, Paracaf Extra, Pat Po Tjin Tju San, Saridon

Apa Itu Kafein

Golongan Obat bebas dan resep
Kategori  Stimulan sistem saraf pusat
Manfaat Meredakan kantuk atau meredakan sakit kepala migrain
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak
Kafein untuk ibu hamil dan menyusui Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.

Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Kafein dapat terserap ke dalam ASI. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Bentuk obat Kaplet, tablet, serbuk, dan suntik

Peringatan Sebelum Menggunakan Kafein

Kafein tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Berikut ini adalah hal yang perlu Anda perhatikan sebelum menggunakan kafein:

  • Jangan menggunakan obat ini jika Anda alergi terhadap kafein. Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit jantung, gangguan irama jantung (aritmia), hipertensi, tukak lambung, atau gangguan mental, termasuk gangguan cemas.
  • Penggunaan kafein dalam pengobatan neonatal apnea harus berada di bawah pengawasan dokter. Jangan memberikan minuman atau makanan yang mengandung kafein pada anak usia kurang dari 12 tahun.
  • Jangan mengonsumsi kafein jika Anda sedang menjalani pengobatan dengan obat golongan xanthine, seperti teofilin. Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.
  • Ber iathu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Segera ke dokter jika Anda mengalami overdosis, reaksi alergi obat, atau efek samping yang lebih serius setelah menggunakan kafein.

Dosis dan Aturan Pakai Kafein

Dosis kafein ditentukan berdasarkan usia, kondisi pasien, dan respons tubuh pasien terhadap obat. Berikut ini adalah pembagian dosis kafein berdasarkan tujuan penggunaannya:

Tujuan: Meredakan kantuk

  • Dewasa: 50–200 mg, tiap 3–4 jam.

Tujuan: Meredakan migrain atau sakit kepala tipe tension

  • Dewasa: 100–250 mg per hari. Obat ini juga seringdikombinasikan dengan ergotamine  atau paracetamol.

Tujuan: Mengobati neonatal apnea pada bayi prematur

  • Bayi baru lahir: Sebagai kafein sitrat, dosisnya10–20 mg/kgBB melalui infus IV (intravena) sekali sehari. Dosis pemeliharaan 5 mg/kgBB per

Dosis maksimal kafein pada umumnya adalah 400 mg per hari. Jumlah ini setara dengan 4–5 gelas kopi. Namun, efek kafein dalam dosis tertentu bisa berbeda-beda pada setiap orang, karena sensitivitas kafein pada setiap orang bisa berbeda.

Cara Menggunakan Kafein dengan Benar

Konsumsi kafein sesuai anjuran dokter dan jangan lupa untuk membaca keterangan pada kemasan obat. Jangan menambah atau mengurangi dosis, serta jangan menggunakan obat melebihi jangka waktu yang dianjurkan.

Kafein dapat diminum sebelum atau sesudah makan. Minumlah kafein tablet atau kaplet dengan segelas air putih untuk menelan tablet atau kaplet kafein. Telan obat secara utuh, jangan mengunyah atau menghancurkannya.

Untuk kafein dalam bentuk serbuk, obat ini harus dilarutkan terlebih dahulu ke dalam air putih sebanyak 120–240 ml. Setelah dilarutkan, obat ini dapat diminum seperti larutan pada umumnya.

Jika Anda lupa mengonsumsi kafein, segera minum obat ini jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Kafein dalam bentuk suntik hanya boleh diberikan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Dokter akan menyuntikkan kafein sesuai dengan kondisi pasien.

Simpan kafein kaplet, tablet, dan serbuk di dalam wadah tertutup pada suhu ruangan, di tempat yang kering, dan terhindar dari sinar matahari. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Kafein dengan Obat Lain

Penggunaan kafein bersamaan dengan obat-obatan lain dapat menimbulkan interaksi antarobat. Interaksi tersebut dapat berupa:

  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping dari teofilin, seperti mual, muntah, tremor, insomnia, atau kejang
  • Peningkatan kadar kafein di dalam darah jika digunakan bersama obat golongan MAOI, seperti isocarboxazid
  • Penurunan efek pelebaran pembuluh darah (vasodilator) dari obat adenosine atau dipyridamole
  • Peningkatan denyut jantung jika digunakan bersama phenylpropanolamine
  • Penurunan efektivitas dari obat penenang atau obat golongan penghambat beta

Efek Samping dan Bahaya Kafein

Ada beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah penggunaan kafein, yaitu mual, muntah, sakit perut, susah tidur, atau sering pipis.

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika efek samping tersebut tidak kunjung mereda atau semakin memberat.

Selain itu, jika digunakan dalam dosis yang berlebihan, kafein bisa menyebabkan efek samping tertentu, seperti:

  • Muntah yang berat
  • Diare yang tidak kunjung mereda
  • Nyeri dada
  • Pusing yang berat
  • Tremor
  • Dehidrasi
  • Detak jantung terasa cepat atau tidak teratu
  • Palpitasi atau jantung berdebar
  • Tekanan darah meningkat

Segera ke dokter jika Anda mengalami keluhan tersebut atau reaksi alergi obat setelah menggunakan kafein.