Pemeriksaan kadar PSA untuk memastikan diagnosis kanker prostat masih menjadi perdebatan dan juga kontroversi. Kadar PSA dalam darah bisa meningkat karena berbagai penyebab, baik itu kanker maupun penyebab yang tidak bersifat kanker, seperti inflamasi dan pembengkakan kelenjar prostat.

Ketika tingkat PSA seseorang tinggi, dia akan perlu menjalani proses pemeriksaan biopsi kelenjar prostat untuk mengonfirmasi diagnosis kanker prostat. Ini berarti, ada kemungkinan orang itu menjalani biopsi  yang umumnya menyakitkan dan tidak nyaman, dan hasilnya ternyata bukan kanker prostat.

Selain itu, pendeteksian kanker melalui kadar PSA juga menjadi kontroversi. Karena ada sebagian kasus kanker prostat yang masih berada di tahap sangat awal dengan perkembangannya minimal, membuat penderitanya tidak perlu menjalani pengobatan. Pengobatan kanker prostat dianggap lebih berisiko pada kasus-kasus tersebut dibandingkan jika dibiarkan, karena postensi efek samping pengobatannya yang sangat besar, contohnya kehilangan kendali untuk buang air kecil.

Menurut studi, memang terdapat penurunan sebesar 20 persen pada kematian akibat kanker prostat yang melakukan pemeriksaan dini. Tapi, hanya satu orang lebih yang bisa diselamatkan dari 48 orang yang menerima penanganan kanker prostat. Oleh karena itu, penganjuran untuk melakukan pemeriksaan kanker prostat masih menjadi perdebatan.

Jika ingin melakukan pemeriksaan dini, disarankan agar pria berisiko tinggi berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan skrining kanker prostat dengan tes PSA dan pemeriksaan colok dubur. Konsultasi ini sebaiknya dilakukan pada:

  • Usia 50 tahun bagi pria yang memiliki risiko kecil mengidap kanker prostat.
  • Usia 45 tahun bagi pria yang berisiko tinggi terkena kanker prostat.
  • Usia 40 tahun bagi pria yang sangat berisiko mengidap kanker prostat.