Kontaminasi makanan yang disebabkan oleh organisme menular tertentu bisa terjadi pada tahap apa pun, misalnya saat proses produksi, penyimpanan, pengiriman, atau  saat mempersiapkannya. Makanan yang paling mudah terkontaminasi adalah jenis makanan mentah dan makanan siap saji.

Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan makanan terkontaminasi:

  • Makanan yang tidak dimasak hingga matang.
  • Menyimpan makanan tidak di dalam kulkas dan malah membiarkannya di suhu udara biasa terlalu lama.
  • Adanya risiko kontaminasi silang.
  • Mengonsumsi makanan yang tersentuh orang yang sedang sakit atau orang yang tangannya

Berikut ini adalah beberapa jenis bakteri yang dapat mengontaminasi makanan:

  • Campylobacter. Bakteri jenis ini biasa ditemukan di dalam daging mentah atau kurang matang, susu, dan air yang tidak diolah dengan benar. Masa inkubasi yang disebabkan oleh bakteri ini adalah antara 2-5 hari. Gejala biasanya berlangsung kurang dari 7 hari.
  • Salmonella. Bakteri ini sering ditemukan di dalam daging mentah atau kurang matang, telur, susu, dan produk olahan susu lainnya. Masa inkubasi akibat salmonella adalah 12-72 jam. Gejala berlangsung selama 4-7 hari.
  • Escherichia coli (E. coli). Kasus infeksi bakteri ini kebanyakan terjadi setelah mengonsumsi daging yang kurang matang, seperti pada daging cincang dan E. coli bisa juga ditemukan pada susu yang tidak dipasteurisasi dan air yang kotor. Masa inkubasi bakteri ini adalah 1-7 hari. Gejala berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
  • Clostridium botulinum (C. botulinum). Bakteri ini bisa ditemukan pada makanan kaleng dengan tingkat keasaman yang rendah, seperti asparagus, kacang hijau, buah bit, dan jagung. Selain itu, bakteri ini juga dapat ditemukan di potongan bawang berminyak, lada, tomat, kentang rebus yang dibungkus dengan kertas aluminium, hingga ikan kalengan. Bakteri ini menyebabkan konstipasi hingga kelumpuhan otot-otot tubuh karena adanya racun terhadap saraf. Masa inkubasi botulinum adalah 18-36 jam.
  • Listeria. Bakteri ini bisa ditemukan di dalam makanan siap saji (misalnya roti isi yang dikemas) dan keju. Wanita hamil harus berhati-hati dengan infeksi akibat bakteri ini karena berisiko menyebabkan keguguran dan komplikasi kehamilan serius lainnya. Masa inkubasi mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Gejalanya akan selesai dalam waktu tiga hari.
  • Shigella. Bakteri ini bisa muncul pada makanan apa pun yang dicuci dengan air yang kotor. Gejalanya biasanya muncul tujuh hari setelah bakteri masuk ke dalam tubuh dan berlangsung sekitar satu minggu. Bakteri ini dapat menyebabkan disentri.

Berikut ini adalah beberapa jenis parasit yang dapat mengontaminasi makanan:

  • Entamoeba histolytica. Parasit ini bisa menyebabkan ameobiasis dan disentri.
  • Giardia intestinalis. Parasit ini bisa menyebabkan giardiasis.
  • Cryptosporidium. Parasit ini bisa menyebabkan cryptosporidiosis.

Parasit yang mengakibatkan keracunan makanan umumnya akan menimbulkan gejala dalam sepuluh hari setelah Anda mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi. Jika tidak segera ditangani, gejala bisa bertahan hingga berbulan-bulan.

Berikut ini adalah dua jenis virus yang dapat mengontaminasi makanan:

  • Norovirus. Virus ini menyebabkan muntah-muntah dan diare. Masa inkubasi adalah 1-2 hari. Gejala biasanya akan hilang dalam dua hari.
  • Rotavirus. Virus ini menjadi penyebab keracunan makanan yang umumnya menimpa anak-anak melalui makanan mentah atau cepat saji. Gejalanya muncul sekitar 3 hari setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi dan berlangsung antara 6-7 hari.

Faktor Risiko

Setelah Anda mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi, terdapat beberapa faktor yang menentukan kemunculan dan tingkat keparahan gejala, yaitu:

  • Jumlah makanan terkontaminasi yang dikonsumsi.
  • Usia.
  • Jenis organisme penyebab infeksi.
  • Kondisi kesehatan secara umum.

Berikut ini adalah beberapa orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita sakit setelah mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi, diantaranya:

Orang yang menderita penyakit kronis

Penyakit seperti diabetes, AIDS, gangguan hati, radang usus, epilepsi serta menjalani kemoterapi, steroid dan terapi radiasi pada penyakit kanker bisa menurunkan respons sistem kekebalan tubuh seseorang.

Wanita hamil

Perubahan metabolisme dan sirkulasi semasa hamil akan meningkatkan risiko keracunan makanan. Reaksi yang terjadi akan lebih serius pada masa ini. Meski jarang terjadi, bayi bisa turut mengalami sakit.

Bayi dan anak-anak

Risiko keracunan makanan akan meningkat karena pada masa ini mereka belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang berkembang.

Orang lanjut usia

Sistem kekebalan mungkin tidak mampu merespons dengan cepat dan secara efektif terhadap organisme yang menginfeksi ketika seseorang telah memasuki usia senja.