Anuria adalah gangguan pada ginjal yang menyebabkan tubuh tidak mampu memproduksi urine. Seseorang disebut mengalami anuria jika ia tidak buang air kecil dalam waktu 12 jam terakhir. Anuria merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang perlu ditangani oleh dokter.

Umumnya, ginjal yang sehat dan bekerja dengan normal dapat menghasilkan urine hingga kurang lebih 1–2 liter setiap harinya. Urine mengandung zat sisa metabolisme dan cairan berlebih di dalam tubuh yang perlu dibuang.

Ketahui Penyebab Anuria dan Cara Mengobatinya - Alodokter

Jika urine tidak dikeluarkan oleh tubuh, zat dan cairan tersebut dapat menumpuk dan menimbulkan masalah kesehatan.

Berbagai Macam Penyakit Penyebab Anuria

Kondisi anuria atau ketidakmampuan tubuh dalam menghasilkan urine bisa disebabkan oleh beberapa penyakit atau kondisi medis, seperti:

1. Gagal ginjal

Gagal ginjal adalah kondisi ketika ginjal tidak dapat berfungsi, sehingga urine tidak dapat dihasilkan. Gagal ginjal bisa terjadi secara mendadak (gagal ginjal akut) atau secara bertahap dan perlahan-lahan, sehingga menyebabkan kerusakan ginjal dalam jangka panjang (gagal ginjal kronis).

Kondisi anuria atau tidak adanya urine yang diproduksi menandakan bahwa ginjal sudah tidak dapat berfungsi sama sekali. Gagal ginjal, baik akut maupun kronis, merupakan kondisi yang perlu ditangani langsung oleh dokter.

2. Batu ginjal

Batu ginjal merupakan kondisi ketika zat mineral di dalam urine mengendap dan menumpuk, sehingga membentuk batu. Ukuran batu ginjal ada yang kecil dan dapat keluar dengan sendirinya melalui saluran kemih.

Namun, batu ginjal yang berukuran besar bisa menyumbat saluran kemih atau kandung kemih dan menghalangi keluarnya urine.

3. Penyakit ginjal kronis

Penyakit ginjal kronis adalah kondisi yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Jika penyakit ginjal kronis mencapai tahap lanjut, dapat terjadi gagal ginjal yang menyebabkan penumpukan cairan, elektrolit, dan zat sisa metabolisme di dalam tubuh.

4. Tumor ginjal

Tumor atau kanker ginjal dapat mengganggu fungsi ginjal dalam menghasilkan urine. Selain itu, tumor yang tumbuh di ginjal juga dapat menekan dan menghambat saluran tempat keluarnya urine. Kondisi inilah yang membuat tumor ginjal dapat menyebabkan anuria.

5. Diabetes

Jika diabetes tidak dikendalikan atau dibiarkan tanpa penanganan, seiring waktu kondisi tersebut bisa membuat pembuluh darah di ginjal menjadi rusak. Hal ini dapat mengganggu aliran darah pada ginjal, sehingga ginjal tidak dapat menghasilkan urine dengan baik.

Kondisi diabetes yang tidak terkontrol dan sudah menimbulkan komplikasi berupa kerusakan ginjal disebut sebagai nefropati diabetik.

6. Darah tinggi

Ginjal dikelilingi oleh banyak pembuluh darah. Jika seseorang mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi), kondisi ini lama-kelamaan dapat menyebabkan pembuluh darah di sekitar ginjal menyempit, melemah, atau mengeras.

Pembuluh darah yang rusak ini akhirnya tidak mampu memberikan cukup darah ke jaringan ginjal, sehingga ginjal kehilangan fungsinya dan tidak dapat menghasilkan urine.

7. Retensi urine

Retensi urine adalah gangguan pada kandung kemih yang membuat penderitanya kesulitan untuk mengeluarkan urine.

Ada beberapa penyebab retensi urine, di antaranya penyumbatan pada saluran kemih akibat pembesaran batu prostat atau kandung kemih, infeksi pada saluran atau kandung kemih, gangguan saraf atau otot yang mengatur proses buang air kecil, dan efek samping obat-obatan.

Beberapa Cara untuk Mengobati Anuria

Anuria bisa disebabkan oleh banyak hal. Oleh karena itu, agar dapat ditangani dengan tepat, kondisi ini perlu didiagnosis terlebih dahulu oleh dokter.

Untuk mendiagnosis anuria dan menentukan penyebabnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, tes urine, biopsi ginjal, dan pemeriksaan radiologi, seperti USG, foto Rontgen, pielografi, dan MRI atau CT scan ginjal.

Setelah penyebab anuria yang dialami oleh penderita diketahui, dokter dapat memberikan penanganan atau pengobatan untuk mengobati anuria berupa:

Pemberian obat-obatan

Pemberian obat-obatan akan disesuaikan dengan penyebab terjadinya anuria. Misalnya, untuk mengobati anuria yang disebabkan oleh diabetes dan hipertensi, dokter dapat meresepkan obat-obatan untuk mengurangi kadar gula darah dan tekanan darah serta menjaganya tetap stabil.

Cuci darah

Anuria cukup sering terjadi pada penderita penyakit ginjal yang parah atau gagal ginjal. Oleh karena itu, untuk mengganti fungsi ginjal yang rusak, dokter dapat melakukan prosedur dialisis atau cuci darah untuk mengeluarkan cairan dan zat sisa metabolisme dari dalam tubuh.

Operasi

Untuk menangani anuria yang disebabkan oleh tumor atau batu ginjal, dokter dapat melakukan tindakan operasi. Untuk menghancurkan batu ginjal yang menghambat saluran kemih, dokter juga dapat melakukan tindakan ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy) untuk memecah batu ginjal.

Pada kasus anuria akibat gagal ginjal stadium akhir atau kondisi ketika ginjal sudah rusak secara permanen dan tidak lagi dapat berfungsi, dokter mungkin akan menyarankan operasi transplantasi ginjal untuk mengembalikan fungsi ginjal.

Sementara itu, untuk kondisi tumor ginjal, dokter dapat merekomendasikan kemoterapi atau terapi radiasi, di samping pembedahan. Namun, hal ini tergantung pada ukuran dan jenis tumor. Transplantasi ginjal dianggap sebagai pilihan terakhir untuk mengatasi gangguan ginjal.

Pemasangan kateter urine

Anuria yang disebabkan oleh penyumbatan atau gangguan dalam proses pembuangan urine, misalnya akibat retensi urine, dapat ditangani dengan pemasangan kateter urine. Setelah kateter terpasang, aliran urine dari tubuh penderita akan keluar secara otomatis.

Untuk mencegah terjadinya anuria, Anda perlu menjaga kesehatan ginjal dengan cara menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bernutrisi, membatasi konsumsi garam dan gula berlebihan, rutin berolahraga, banyak minum air putih, serta hindari kebiasaan sering menahan buang air kecil.

Anuria merupakan masalah kesehatan yang tidak boleh dianggap enteng. Ketika mengalami anuria, Anda perlu segera berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang tepat.