Anosmia adalah kondisi indra penciuman tidak mampu berfungsi normal. Sebagian besar kasus anosmia bisa sembuh, namun sebagian lainnya, bisa saja menjadi pertanda adanya masalah serius terkait kesehatan.

Ketika Anda mencium bau, sel saraf penciuman akan memberikan sinyal ke otak. Lalu otak akan mengidentifikasi dan mengenali bau. Namun, indra penciuman penderita anosmia tidak bisa berfungsi secara semestinya, sehingga tidak dapat membedakan bau.

Memahami Penyebab dan Cara Tepat Mengatasi Anosmia - Alodokter

Beragam Penyebab Anosmia

Pada umumnya anosmia yang disebabkan hidung tersumbat oleh lendir yang melapisi bagian dalam hidung. Misalnya, karena pilek, flu, sinusitis, reaksi alergi atau reaksi sistem pernapasan pada kualitas udara yang buruk.

Selain itu, anosmia juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi seperti polip yang menghambat saluran pernapasan, kelainan bentuk tulang hidung dan cedera pada hidung akibat trauma kepala atau operasi, atau bahkan gangguan pada saraf hingga sistem saraf pusat.

Ada pula obat dan tindakan medis yang dapat menyebabkan anosmia, termasuk obat antibiotik, antiperadangan, antidepresan, antihipertensi, obat untuk penyakit jantung, pengobatan radiasi untuk kanker di leher dan kepala. Selain itu, penyalahgunaan obat terlarang seperti kokain dapat menyebabkan seseorang tidak dapat mencium bau.

Beberapa kondisi medis lain sebagai penyebab anosmia, antara lain:

  • Proses penuaan (usia diatas 60 tahun)
  • Penyakit Alzheimer
  • Parkinson
  • Diabetes
  • Aneurisma dan tumor otak
  • Multiple sclerosis
  • Gangguan nutrisi
  • Kelainan bawaan
  • Riwayat operasi hidung (rhinoplasty)
  • Riwayat operasi otak
  • Paparan zat kimia beracun.

Bahaya yang Mengintai Penderita Anosmia

Ketidakmampuan mencium bau tertentu, membuat penderita anosmia harus lebih waspada karena dapat membahayakan kesehatan penderita anosmia meskipun berada di rumah sendiri, seperti:

  • Tidak dapat mencium bau busuk pada makanan yang sudah kedaluarsa. Penderita anosmia disarankan untuk lebih memerhatikan kondisi bahan pangan dan memeriksa tanggal kedaluarsa pada makanan yang dikonsumsi. Penting untuk menandai makanan yang sudah dikonsumsi atau makanan sisa yang akan disimpan kembali dengan label tanggal kedaluarsa. Hal ini dapat mencegah keracunan.
  • Tidak dapat mencium asap kebakaran yang mungkin saja bisa terjadi di rumah. Untuk mengatasi hal ini, penderita anosmia disarankan untuk memasang alarm kebakaran atau pendeteksi asap, terutama di sekitar area dapur. Sehingga keamanan menjadi lebih terjaga.
  • Tidak dapat mencium bau gas. Hal ini tentu berbahaya bila terjadi kebocoran gas di dapur rumah. Disarankan untuk mempertimbangkan mengganti perangkat rumah tangga yang menggunakan gas dengan perangkat elektrik.
  • Tidak mencium bau bahan kimia atau bau bahan berbahaya lain, membuat penderita anosmia harus jeli dalam membeli setiap produk yang mengandung bahan kimia. Baca label peringatan produk secara seksama. Misalnya, saat membeli cairan pembersih kamar mandi atau dapur dan insektisida. Pastikan Anda mengetahui apa saja bahan-bahan kimia yang terkandung didalamnya.
  • Sebagian penderita anosmia juga mengalami penurunan nafsu makan yang cukup berarti. Untuk menyikapinya, upayakan agar tetap menjaga dan memerhatikan keseimbangan asupan nutrisi harian. Menimbang bobot tubuh secara rutin dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai kondisi gizi tubuh.

Cara Mengatasi Anosmia

Untuk mengetahui anosmia yang diderita dan penyebabnya, dokter mungkin akan menanyakan riwayat kesehatan pasien. Jika pemeriksaan fisik sudah dilakukan, dokter dapat meminta pemeriksaan pencitraan penunjang, seperti endoskopi hidung, foto Rontgen, CT scan, atau MRI pada bagian tengkorak kepala atau untuk mengetahui penyebab dari anosmia yang diderita mungkin akan dilakukan.

Jika anosmia yang dialami disebabkan karena alergi, sinus, ataupun flu biasanya akan sembuh dalam sendirinya dalam waktu beberapa hari. Namun jika tak kunjung sembuh, segera konsultasikan kepada dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Pada anosmia yang disebabkan karena iritasi hidung tersebut, dokter mungkin akan memberi resep obat berupa:

  • Semprotan hidung steroid
  • Antibiotik, jika terdapat infeksi bakteri
  • Antihistamin, jika disebabkan oleh alergi
  • Dekongestan

Selain itu, dokter juga kemungkinan akan meminta untuk mengurangi paparan terhadap iritasi dan alergen hidung, serta berhenti merokok.

Pada kasus yang lebih serius seperti polip, dokter mungkin akan memberi saran dilakukan tindakan operasi. Tindakan ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi indra penciuman para penderita anosmia. Jika anosmia kemungkinan disebabkan obat yang Anda konsumsi, maka konsultasi dokter mengenai obat yang tidak akan mengganggu daya penciuman Anda.

Anosmia adalah kondisi yang tidak bisa disepelekan, karena dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, sekaligus memicu komplikasi seperti depresi dan penurunan kualitas gizi.  Tak jarang, penderita anosmia lebih banyak mengonsumsi garam atau gula untuk meningkatkan rasa dari makanan,  sehingga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan diabetes.

Jadi, jika Anda mengalami gejala anosmia, segera konsultasi kepada dokter guna mendapatkan penanganan dan solusi yang tepat.