Muntah berbusa sering kali membuat panik, apalagi jika terjadi pada anak-anak atau orang lanjut usia. Kondisi ini bisa menjadi pertanda masalah kesehatan yang ringan, tetapi ada juga beberapa kasus di mana muntah berbusa menandakan gangguan yang lebih serius. Memahami penyebab muntah berbusa membantu Anda mengambil langkah yang aman, serta mencegah komplikasi yang mungkin timbul.

Muntah berbusa umumnya terjadi saat cairan lambung bercampur dengan udara dan sisa makanan dalam lambung. Ciri khasnya adalah muntahan tampak berbuih atau bergelembung. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak, orang dewasa, maupun lansia. Meski sering kali bersifat ringan, Anda tetap perlu waspada apalagi jika muntah berbusa disertai gejala lain yang mencurigakan.

Muntah Berbusa, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya - Alodokter

Beragam Penyebab Muntah Berbusa 

Berikut beberapa penyebab muntah berbusa yang umum terjadi dan perlu Anda ketahui:

1. Infeksi saluran pencernaan

Infeksi pada saluran pencernaan, seperti gastroenteritis, terjadi akibat masuknya virus atau bakteri ke dalam lambung dan usus. Infeksi ini dapat membuat lapisan lambung dan usus iritasi, sehingga tubuh merespons dengan muntah untuk mengeluarkan zat asing. 

Pada beberapa kasus, muntahan yang keluar bisa tampak berbusa. Hal ini terjadi karena iritasi dan gerakan lambung yang berlebihan membuat muntah sering kali bercampur udara dan cairan lambung sehingga membentuk busa. Selain muntah berbusa, penderita juga biasanya mengalami diare, sakit perut, demam, lemas, dan dehidrasi jika tidak segera ditangani.

2. GERD

GERD (gastroesophageal reflux disease) merupakan kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan akibat katup lambung yang lemah. Nah, jika refluks asam lambung cukup berat, tubuh berusaha mengeluarkan asam tersebut melalui proses muntah, yang pada beberapa kasus bisa berbentuk berbusa karena campuran cairan lambung dan udara. 

Keluhan muntah berbusa akibat GERD umumnya sering kambuh, terutama setelah makan makanan berlemak, pedas, atau saat berbaring setelah makan. Selain menyebabkan muntah berbusa, naiknya asam lambung juga dapat menimbulkan iritasi pada dinding kerongkongan, memicu batuk, rasa panas di dada (heartburn), dan terkadang rasa asam di mulut. 

3. Keracunan makanan atau zat berbahaya

Ketika tubuh tidak sengaja mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi atau zat kimia, tubuh akan bereaksi cepat dengan memicu muntah untuk mengeluarkan zat berbahaya dari saluran pencernaan. Nah, proses muntah yang terjadi secara berulang, ditambah isi lambung yang tidak banyak, terkadang membuat muntahan terlihat berbusa atau berbuih. 

Selain muntah berbusa, keracunan juga bisa menyebabkan nyeri perut, diare, pusing, lemas, bahkan demam tinggi, tergantung tingkat keparahan paparan zat berbahaya tersebut. Jika muntah berbusa terjadi setelah menelan zat kimia atau racun, segera cari pertolongan medis darurat.

4. Diabetes ketoasidosis

Diabetes ketoasidosis merupakan komplikasi berat pada penderita diabetes. Dalam keadaan ini, tubuh tidak mampu memecah gula karena tubuh resisten dengan insulin atau insulin tidak mencukupi sehingga untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan energi, sel-sel tubuh membakar lemak sebagai sumber energi dan menghasilkan zat keton yang bersifat asam. 

Nah, penumpukan keton di dalam tubuh dapat menyebabkan mual hebat hingga muntah berbusa, napas yang berbau seperti buah, kelemahan ekstrem, napas cepat, hingga kebingungan atau penurunan kesadaran. Ini merupakan kondisi darurat yang memerlukan penanganan di rumah sakit secepat mungkin.

5. Mabuk perjalanan

Mabuk perjalanan terjadi karena gangguan pada sistem keseimbangan tubuh, yang dipicu oleh pergerakan kendaraan. Ini membuat otak menerima sinyal yang membingungkan dari mata dan telinga bagian dalam, sehingga menimbulkan rasa mual. 

Jika mual berlangsung lama, tubuh bisa memicu muntah, yang terkadang tampak berbusa karena lambung lebih banyak berisi cairan dan udara daripada makanan. Selain muntah, kondisi ini juga biasanya menyebabkan penderitanya tampak pucat, keringat dingin, dan kelelahan.

6. Efek samping obat-obatan

Obat-obatan tertentu, seperti antibiotik, obat golongan NSAID, atau suplemen zat besi, dapat mengiritasi dinding lambung. Iritasi ini bisa memicu rasa mual dan jika keluhan terjadi cukup berat, hal ini juga bisa menyebabkan muntah berbusa. 

Biasanya, muntah terjadi sesaat atau beberapa waktu setelah mengonsumsi obat, terutama jika dikonsumsi dalam kondisi perut kosong atau pada individu yang sensitif. Jika muncul muntah berbusa setelah konsumsi obat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Nantinya, dokter mungkin akan menyesuaikan kembali dosis obat atau meresepkan obat lain.

7. Hernia hiatus

Hernia hiatus terjadi ketika sebagian lambung terdorong ke atas melalui celah pada diafragma ke rongga dada. Nah, kondisi ini dapat melemahkan katup antara kerongkongan dan lambung, sehingga memudahkan naiknya asam lambung ke kerongkongan (refluks). Akibatnya, penderita berisiko mengalami mual, muntah berbusa, rasa penuh di perut, heartburn, atau nyeri di dada bagian bawah. 

Jika keluhan sering berulang atau memburuk, pemeriksaan medis sangat disarankan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.

Langkah Pertolongan Pertama Muntah Berbusa 

Saat muntah berbusa terjadi, ada beberapa langkah awal yang bisa Anda lakukan di rumah, berikut ini di antaranya:

1. Posisikan tubuh setengah duduk

Setelah Anda mengalami muntah berbusa dan masih mual atau berisiko muntah kembali, duduklah dengan posisi setengah tegak. Pasalnya, posisi ini dapat membantu mencegah makanan atau cairan masuk ke saluran pernapasan (aspirasi) dan mengurangi tekanan di area perut sehingga rasa tidak nyaman dan risiko timbulnya masalah kesehatan lain akibat muntah berbusa berkurang. 

2. Minum air sedikit demi sedikit

Setelah muntah berbusa, lambung biasanya masih sensitif. Oleh karena itu, minumlah air putih atau oralit sedikit demi sedikit. Untuk anak kecil, bisa menggunakan sendok teh atau sedotan agar volume cairan yang masuk tetap terkontrol. 

Pertolongan pertama muntah berbusa ini dilakukan untuk membantu mengganti cairan yang hilang akibat muntah sehingga tubuh pun tidak akan mengalami dehidrasi, terutama jika muntah berbusa terjadi berulang kali atau disertai diare. 

Agar keluhan tidak makin parah, hindari mengonsumsi minuman berkafein, minuman bersoda, atau minuman manis.

3. Pilih makanan ringan yang mudah dicerna

Jika muntah sudah berkurang dan nafsu makan mulai pulih, konsumsilah makanan yang teksturnya lembut, seperti bubur, nasi tim, atau roti tawar. Soalnya, makanan ini dapat membantu mengurangi iritasi pada lambung sekaligus menjaga tubuh kembali berenergi setelah muntah-muntah. Namun, konsumsilah makanan tersebut sedikit demi sedikit tetapi sering agar tidak membebani kerja lambung. 

4. Hindari makanan berminyak, pedas, atau berbau tajam

Makanan yang terlalu berminyak atau pedas dapat memicu produksi asam lambung dan memperparah iritasi lambung, sehingga bisa memicu mual dan muntah berbusa kembali. Begitu pula makanan berbau menyengat, yang bisa memicu rasa mual atau ingin muntah pada beberapa orang. 

Oleh karena itu, hingga kondisi benar-benar membaik, pilihlah makanan yang beraroma ringan, tidak berlemak, dan tidak terlalu pedas agar perut terasa lebih nyaman dan muntah berbusa tidak terjadi kembali.

5. Hirup udara segar atau buka jendela ruangan

Agar keluhan muntah berbusa tidak terjadi kembali, bukalah jendela ruangan dan hirup udara segar dari luar dengan menarik nafas perlahan. Pasalnya, menghirup udara segar dapat menenangkan sistem saraf sehingga rasa mual bisa berkurang.

Namun, jika tidak memungkinan, misalnya karena Anda sedang naik pesawat atau berada di gedung tinggi, nyalakanlah kipas angin portable dan arahkan angin ke diri guna menciptakan sirkulasi udara yang lebih baik.

6. Hirup minyak angin atau aromaterapi

Rasa mual setelah muntah berbusa juga bisa diredakan dengan menghirup minyak angin atau aromaterapi. Soalnya, aroma dari minyak angin atau aromaterapi dapat memberikan efek menenangkan pada tubuh sehingga rasa mual di perut pun mereda.

Jenis minyak angin atau aromaterapi yang bisa Anda gunakan untuk meredakan mual dan muntah berbusa ada beragam, mulai dari minyak kayu putih, peppermint, lemon, hingga jahe. Untuk menggunakannya, Anda bisa langsung menghirup minyak angin atau aromaterapi dari botolnya langsung atau dengan meneteskannya sedikit pada tisu atau diffuser.

Itulah penyebab dan pertolongan pertama muntah berbusa yang bisa Anda lakukan di rumah. Setelah dilakukan pertolongan pertama muntah berbusa, biasanya keluhan yang Anda alami bisa mereda. Namun, jika setelah melakukan beberapa langkah pertolongan pertama di atas, tetapi keluhan tidak membaik dalam beberapa jam dan disertai dengan gejala lain seperti:

  • Demam tinggi 
  • Lemas
  • Napas cepat atau sesak napas
  • Penurunan kesadaran
  • Muntah darah
  • Gejala dehidrasi, seperti mulut kering, mata cekung, atau jarang buang air kecil

Jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter, baik melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER atau dengan mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat. Dengan begitu, Anda bisa segera mendapat penanganan muntah berbusa yang tepat.