Anamnesa gejala dan pemeriksaan fisik adalah hal utama yang perlu dilakukan dokter untuk mengetahui penyebab pembengkakan kelenjar getah bening.

Pemeriksaan akan diawali dengan dokter menanyakan gejala yang menyertai di samping rasa sakit pada benjolan, misalnya demam, nyeri tenggorokan, penurunan berat badan, dan rasa lelah. Selain itu, dokter juga perlu mengetahui riwayat kesehatan pasien, misalnya riwayat sakit kanker, obat-obatan yang dikonsumsi, riwayat vaksin, dan aktivitas seksualnya.

Kemudian, dokter akan mengecek sifat benjolan, misalnya keras atau lembek, kecil atau besar, dapat bergeser atau tidak dapat digeser, dan apakah terasa sakit atau tidak sakit. Benjolan kelenjar getah bening yang sakit, lembek, dan dapat bergeser biasanya disebabkan oleh infeksi. Sedangkan benjolan kelenjar getah bening yang tidak sakit, keras, dan tidak dapat digeser biasanya disebabkan oleh kanker yang menyebar ke kelenjar tersebut.

Untuk bisa memastikan penyebab pembengkakan kelenjar getah bening, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Pemeriksaan darah lengkap. Metode ini dapat membantu dokter dalam mengevaluasi kesehatan pasien secara menyeluruh. Sejumlah kondisi (termasuk infeksi dan leukemia) bisa terdeteksi melalui pemeriksaan darah lengkap.
  • CT Scan dan pemeriksaan X-ray. Melalui kedua metode pemindaian ini, lokasi infeksi atau tumor yang menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening bisa terdeteksi.
  • Biopsi. Metode ini biasanya dilakukan jika dokter mencurigai kanker sebagai penyebab pembengkakan kelenjar getah bening. Dokter akan mengambil sampel kelenjar dan menelitinya di laboratorium.