Vagina bau merupakan kondisi yang umum terjadi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal. Meski terkesan ringan, kondisi yang kerap membuat wanita tidak percaya diri ini juga bisa menjadi tanda adanya masalah dengan kesehatan vagina.

Vagina dapat dikatakan memiliki bau yang normal bila tidak mengeluarkan aroma yang menyengat atau tercium bau asam. Namun, bau vagina akan sedikit tajam selama menstruasi, menopause, dan saat hamil.

Vagina Bau, Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya - Alodokter

Meski begitu, Anda perlu waspada bila vagina berbau tidak sedap disertai dengan gejala lain, seperti gatal, nyeri, atau keputihan. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya infeksi atau masalah kesehatan lain pada area kewanitaan.

Kenali Penyebab Vagina Bau

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa vagina bau dapat disebabkan oleh banyak hal. Nah, berikut ini adalah beberapa masalah kesehatan yang dapat memicu vagina bau:

1. Perubahan hormon

Fluktuasi hormon secara alami dapat menyebabkan perubahan bau pada vagina. Misalnya, saat menstruasi, kadar hormon estrogen dan progesteron berubah sehingga pH vagina meningkat dan aroma bisa menjadi lebih tajam atau menyerupai logam karena bercampur dengan darah haid.

Perubahan hormon juga terjadi saat hamil atau menopause. Di masa ini, pelumas alami vagina berkurang dan bakteri baik sedikit menurun. Pada beberapa wanita, penggunaan pil KB atau terapi hormonal juga dapat memengaruhi aroma area intim.

2. Makanan tertentu

Apa yang Anda konsumsi sehari-hari dapat memengaruhi aroma alami vagina. Beberapa makanan dengan bau yang kuat, seperti bawang putih, bawang merah, durian, asparagus, dan ikan laut, dapat membuat aroma vagina terasa lebih menyengat.

Hal ini terjadi karena kandungan zat tertentu di dalam makanan tersebut, misalnya sulfur pada bawang atau senyawa trimethylamine pada ikan, dapat diserap tubuh lalu dikeluarkan kembali melalui cairan tubuh, termasuk keringat dan cairan vagina.

Selain itu, minuman beralkohol, kopi, serta makanan atau minuman dengan pemanis buatan juga dapat menyebabkan perubahan bau vagina yang bersifat sementara. Namun, aroma ini biasanya akan kembali normal dalam waktu 1–2 hari setelah konsumsi makanan atau minuman tersebut dikurangi atau dihentikan.

3. Vaginosis bakterialis

Normalnya, di vagina terdapat bakteri baik yang berperan penting dalam menjaga tingkat keasaman area tersebut. Namun, untuk beberapa kondisi, jumlah bakteri baik bisa berkurang sehingga keasaman vagina menurun dan justru memicu pertumbuhan bakteri jahat.

Akibatnya, terjadilah infeksi yang dikenal juga dengan vaginosis bakterialis. Vagina bau merupakan salah satu gejala yang muncul dari kondisi ini. Ciri bau vagina yang disebabkan vaginosis bakterialis adalah bau amis yang menyerupai bau ikan, terutama setelah melakukan hubungan intim.

Selain itu, vagina akan mengeluarkan keputihan berwarna abu-abu atau putih, berbuih, dan teksturnya encer.

4. Trikomoniasis

Kondisi ini disebabkan oleh infeksi parasit Trichomonas vaginalis dan merupakan salah satu dari penyakit menular seksual. Penularan penyakit trikomoniasis dapat terjadi melalui hubungan seks yang melibatkan penetrasi penis ke vagina.

Penyakit ini terkadang tidak bergejala, tetapi infeksi yang terjadi sering kali menyebabkan vaginan berbau amis atau busuk.

5. Fistula vagina

Fistula vagina adalah kondisi ketika terbentuk saluran abnormal yang menghubungkan vagina dengan organ lain di sekitarnya, seperti kandung kemih atau rektum. Akibat adanya saluran ini, urine atau tinja dapat keluar melalui vagina. Kondisi tersebut dapat menimbulkan bau yang sangat tidak sedap.

Fistula vagina umumnya terjadi akibat komplikasi persalinan, cedera pada area panggul, prosedur operasi, atau infeksi berat. Selain bau tidak sedap, penderitanya juga dapat mengalami infeksi saluran kemih berulang, iritasi pada vagina, serta rasa tidak nyaman yang menetap.

6. Kanker

Pada kasus yang lebih berat, vagina bau bisa menjadi tanda adanya kanker serviks atau kanker vagina. Kedua jenis kanker ini sering kali menyebabkan luka terbuka atau jaringan yang mati di area organ intim, sehingga menimbulkan bau busuk yang khas.

Biasanya, bau ini disertai dengan perdarahan di luar siklus haid, keluar cairan yang tidak normal atau bernanah, nyeri panggul, hingga penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Bau yang muncul pada kasus ini sulit hilang meski sudah membersihkan vagina secara rutin.

Cara Mencegah Vagina Bau

Kurang menjaga kebersihan daerah kewanitaan merupakan penyebab utama munculnya bau pada vagina. Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan agar kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaan tetap terjaga, di antaranya:

1. Jaga kebersihan vagina

Menjaga kebersihan vagina dapat dilakukan dengan membasuh vagina dari depan ke belakang setelah buang air. Hal ini penting dilakukan agar bakteri yang ada di sekitar anus tidak masuk ke dalam vagina. Cara ini juga dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih.

Anda juga dianjurkan untuk menggunakan sabun berbahan lembut untuk membersihkan vagina. Selain itu, rutin mengganti pembalut saat menstruasi juga penting dilakukan untuk mencegah pertumbuhan jamur yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

2. Perhatikan kelembapan vagina

Jagalah agar area kewanitaan tetap kering. Hindari menggunakan pakaian dalam yang terlalu ketat dan tidak menyerap keringat.

Kondisi ini dapat meningkatkan kelembapan pada daerah kewanitaan yang dapat memicu infeksi dan berkumpulnya bakteri. Hal inilah yang menjadi penyebab gangguan kesehatan pada vagina yang dapat menyebar ke infeksi leher rahim. Untuk mencegah hal tersebut, Anda bisa menggunakan pakaian dalam berbahan katun.

3. Hindari perilaku seks berisiko

Perilaku seks berisiko, seperti berganti-ganti pasangan atau berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom, dapat meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual. Beberapa penyakit ini dapat menyebabkan perubahan cairan vagina dan menimbulkan bau tidak sedap.

Untuk menjaga kesehatan organ intim, sebaiknya gunakan kondom setiap kali berhubungan seksual dan hanya setia pada satu pasangan. Selain itu, penting juga untuk saling terbuka dengan pasangan mengenai riwayat dan kondisi kesehatan reproduksi masing-masing, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin jika aktif secara seksual.

4. Hindari penggunaan pembersih kewanitaan

Banyak produk pembersih kewanitaan diklaim dapat membuat vagina terasa lebih bersih dan harum. Namun, produk yang mengandung pewangi, alkohol, atau bahan kimia keras justru dapat mengganggu keseimbangan pH dan flora normal vagina.

Ketidakseimbangan ini bisa menyebabkan berkurangnya jumlah bakteri baik yang berfungsi melindungi vagina dari infeksi. Akibatnya, risiko terjadinya infeksi dan munculnya bau tidak sedap justru meningkat.

Untuk menjaga kebersihan organ intim, sebenarnya cukup membilas area vagina dengan air mengalir. Jika ingin menggunakan sabun, pilihlah sabun yang lembut, tanpa pewangi, dan gunakan hanya pada bagian luar vagina. Tidak perlu membersihkan bagian dalam vagina, karena organ ini dapat membersihkan dirinya sendiri secara alami.

5. Perhatikan pola makan dan gaya hidup

Pola makan dan gaya hidup yang sehat juga berperan dalam menjaga kesehatan vagina. Konsumsi makanan bergizi seimbang, seperti buah dan sayur, dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

Selain itu, yogurt atau makanan yang mengandung probiotik juga bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan bakteri baik yang berperan dalam menjaga keseimbangan flora vagina.

Jika Anda merasa aroma vagina berubah setelah mengonsumsi makanan tertentu yang beraroma tajam, seperti bawang, durian, kopi, atau ikan laut, cobalah untuk membatasi konsumsinya.

Di samping itu, jaga berat badan tetap ideal, tidur yang cukup, dan kelola stres dengan baik. Daya tahan tubuh yang optimal akan membantu tubuh melawan infeksi, sehingga risiko munculnya bau tidak sedap pada vagina dapat berkurang.

6. Ganti pembalut atau pantyliner secara rutin

Jika Anda menggunakan pantyliner sehari-hari, pastikan untuk menggantinya secara berkala, setidaknya 2–3 kali sehari atau setiap kali terasa lembap. Saat menstruasi, pembalut sebaiknya diganti setiap 3–4 jam sekali atau lebih sering jika sudah terasa penuh, basah, atau kotor.

Pembalut atau pantyliner yang jarang diganti dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri dan jamur. Kondisi yang lembap dan tertutup ini bisa memicu munculnya bau tidak sedap serta meningkatkan risiko iritasi dan infeksi pada area kewanitaan.

Vagina merupakan organ tubuh yang sangat penting bagi wanita. Oleh karena itu, kesehatannya perlu selalu dijaga.

Bila Anda mengalami vagina bau disertai dengan gejala lain, seperti gatal, nyeri atau perih pada vagina, keputihan yang tidak normal, atau perdarahan di luar siklus haid, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Anda bisa memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan saran medis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.