Perbedaan gumoh dan muntah sering kali membuat orang tua bingung, terutama pada bayi yang masih kecil. Keduanya memang sama-sama mengeluarkan cairan dari mulut, tetapi sebenarnya memiliki penyebab, ciri, dan penanganan yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk memahaminya agar tidak salah dalam menilai kondisi Si Kecil.
Banyak orang tua merasa bingung saat bayi sering gumoh atau tiba-tiba muntah setelah menyusu. Padahal, perbedaan gumoh dan muntah penting untuk dipahami sejak awal. Meskipun sama-sama berupa cairan yang keluar dari mulut, keduanya memiliki penyebab serta tanda yang berbeda.

Gumoh biasanya dialami oleh bayi baru lahir hingga usia 6 bulan karena sistem pencernaannya belum sempurna. Sementara itu, muntah dapat menandakan adanya infeksi atau gangguan lain. Dengan memahami perbedaan gumoh dan muntah, orang tua dapat lebih waspada dalam menilai kondisi bayi.
Ini Perbedaan Gumoh dan Muntah pada Bayi
Berikut ini beberapa perbedaan gumoh dan muntah yang dapat dikenali:
1. Cara keluarnya
Perbedaan gumoh dan muntah pada bayi bisa dilihat dari cara keluarnya. Gumoh terjadi secara pasif, biasanya tanpa usaha atau dorongan kuat dari tubuh bayi. Cairan keluar begitu saja dari mulut, terutama setelah menyusu.
Sementara itu, muntah terjadi secara aktif, disertai kontraksi otot perut yang membuat isi lambung keluar dengan lebih kuat.
2. Jumlah cairan
Gumoh biasanya hanya mengeluarkan sedikit cairan, berupa sisa ASI atau susu yang baru diminum. Sebaliknya, ketika Si Kecil muntah maka ia akan mengeluarkan cairan dalam jumlah lebih banyak.
3. Frekuensi kejadian
Perbedaan gumoh dan muntah juga bisa dihitung dari frekuensi kejadiannya, Bun. Gumoh bisa terjadi cukup sering, bahkan beberapa kali dalam sehari, terutama pada bayi usia di bawah 6 bulan.
Sementara muntah umumnya tidak terjadi sesering gumoh dan perlu diwaspadai jika terjadi berulang beberapa kali dalam sehari ya, Bunda.
4. Kondisi bayi setelahnya
Perbedaan gumoh dan muntah juga dapat dilihat dari kondisi bayi setelahnya. Bayi yang mengalami gumoh biasanya tetap tampak nyaman, tidak rewel, dan tetap mau menyusu. Sementara itu, bayi yang muntah bisa terlihat tidak nyaman, rewel, lemas, atau bahkan menolak makan.
5. Penyebabnya
Gumoh terjadi karena sistem pencernaan bayi belum matang, sehingga katup antara lambung dan kerongkongan belum bekerja optimal. Sementara itu, muntah dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi, alergi, atau gangguan pencernaan.
Cara Mengurangi Gumoh pada Bayi
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa gumoh tergolong normal, terutama pada bayi baru lahir ya, Bunda. Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi gumoh pada bayi, yaitu:
- Menyusui bayi dengan posisi kepala lebih tinggi
- Menggendong bayi dalam posisi tegak setelah menyusu selama 20–30 menit
- Tidak langsung menidurkan bayi setelah menyusu
- Memberikan ASI atau susu formula secara perlahan dan tidak berlebihan
Pada dasarnya, gumoh merupakan hal normal dan sering terjadi pada bayi baru lahir karena sistem pencernaannya belum matang.
Meski gumoh tergolong normal, orang tua tetap perlu waspada jika bayi menunjukkan tanda-tanda tertentu, seperti muntah berulang atau menyembur, bayi tampak lemas atau tidak mau menyusu, berat badan bayi tidak naik, serta bayi mengalami muntah berwarna hijau, kuning, juga bercampur darah.
Jika kondisi tersebut terjadi, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Memahami perbedaan gumoh dan muntah sangat penting agar orang tua tidak panik saat bayi mengeluarkan cairan dari mulut. Dengan mengenali ciri dan penyebabnya, orang tua dapat menentukan apakah kondisi tersebut masih normal atau perlu diwaspadai.
Jika Bunda masih ragu membedakan perbedaan gumoh dan muntah atau bayi menunjukkan gejala yang tidak biasa, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Penanganan yang tepat dapat membantu menjaga kesehatan dan kenyamanan bayi.