Retraksi dada adalah kondisi ketika dinding dada tampak tertarik ke dalam setiap kali seseorang menarik napas. Meski bisa terjadi pada siapa saja, kondisi ini sering terlihat pada bayi atau anak-anak, dan bisa menjadi tanda adanya gangguan pernapasan yang cukup serius. Untuk itu, penting bagi Anda untuk mengenali tanda ini sejak dini agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Retraksi dada biasanya terlihat di area tulang selangka, di antara tulang rusuk, atau di bawah tulang dada saat bernapas. Hal ini terjadi karena tubuh sedang berusaha keras mendapatkan oksigen. Akibatnya, otot-otot pernapasan bekerja lebih kuat dari biasanya, sehingga dinding dada ikut tertarik ke dalam.

Retraksi Dada dan Gejalanya
Untuk mengenali retraksi dada, ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan, yaitu:
- Terlihat lekukan atau tarikan ke dalam pada area antara tulang rusuk, di bawah tulang dada (sternum), atau di atas tulang selangka setiap kali menarik napas.
- Napas tampak lebih cepat atau dangkal dari biasanya.
- Sering disertai napas berbunyi, seperti mengi, atau napas tampak terengah-engah.
- Pada bayi, bisa terlihat hidung yang kembang kempis, bibir tampak kebiruan, atau bayi menjadi lebih rewel dan gelisah.
- Tarikan dada dapat terlihat ringan hingga berat, tergantung seberapa besar usaha napas yang dilakukan.
- Biasanya muncul bersamaan dengan keluhan lain, seperti batuk, demam, atau tubuh tampak lemas.
Retraksi Dada dan Penyebabnya
Pada dasarnya, retraksi dada adalah tanda bahwa aliran udara ke paru-paru sedang terganggu. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai masalah kesehatan, baik pada anak maupun orang dewasa, di antaranya:
1. Infeksi saluran pernapasan
Infeksi saluran napas, seperti bronkiolitis, pneumonia, atau batuk pilek berat, merupakan penyebab yang paling sering terjadi. Infeksi ini membuat saluran napas menyempit atau dipenuhi lendir sehingga udara sulit masuk.
Akibatnya, tubuh harus bekerja lebih keras untuk bernapas. Otot-otot pernapasan ikut tertarik kuat, dan pada kondisi ini retraksi dada bisa terlihat jelas, terutama pada bayi dan balita.
2. Asma
Pada penderita asma, penyempitan saluran napas bisa terjadi secara tiba-tiba, terutama saat serangan asma muncul. Hal ini menyebabkan napas menjadi pendek, cepat, dan terasa berat.
Jika asma tidak segera terkontrol, retraksi dada bisa terjadi dan menjadi salah satu tanda bahwa tubuh kekurangan oksigen. Kondisi ini perlu ditangani dengan cepat agar tidak memburuk.
3. Laringitis
Laringitis adalah peradangan pada laring, yaitu bagian saluran pernapasan tempat pita suara berada. Hal ini dapat menyebabkan pembengkakan di sekitar jalan napas sehingga membuat udara sulit lewat, terutama saat menarik napas.
Pada anak-anak, saluran napas yang masih sempit membuat kondisi ini lebih mudah menimbulkan retraksi dada. Napas biasanya terdengar kasar atau serak.
4. Reaksi alergi berat
Reaksi alergi berat dapat menyebabkan pembengkakan mendadak pada saluran napas. Saat ini terjadi, udara tidak bisa masuk dengan lancar ke paru-paru.Dalam kondisi seperti ini, retraksi dada bisa muncul bersamaan dengan sesak berat. Situasi ini termasuk darurat dan membutuhkan penanganan medis segera.
5. Penyakit paru kronis
Pada orang dewasa, terutama usia lanjut, penyakit paru kronis seperti PPOK bisa menjadi penyebab retraksi dada. Penyakit ini membuat fungsi paru menurun secara bertahap. Saat paru-paru tidak mampu bekerja optimal, tubuh akan berusaha menarik napas lebih kuat.
6. Kelainan pada struktur dada atau otot pernapasan
Meski jarang terjadi, kelainan bentuk dada atau gangguan pada otot pernapasan dapat mengganggu mekanisme bernapas. Kondisi ini membuat dada tidak bisa mengembang dengan optimal saat menarik napas.
Akibatnya, tubuh harus menggunakan tenaga lebih besar untuk memasukkan udara ke paru-paru, sehingga menyebabkan retraksi dada.
7. Cedera dada
Cedera pada dada, misalnya akibat benturan atau kecelakaan, dapat menyebabkan nyeri dan gangguan pergerakan dada saat bernapas. Rasa nyeri ini sering membuat napas menjadi lebih dangkal.
Jika cedera mengganggu aliran udara atau pergerakan dada, retraksi dada bisa ikut muncul. Bila kondisi ini terlihat setelah cedera, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan.
Pada bayi prematur atau bayi dengan riwayat infeksi paru yang berat, retraksi dada sering menandakan sistem pernapasan yang belum matang. Sementara itu, pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, kondisi ini biasanya menunjukkan gangguan napas yang cukup serius dan tidak boleh diabaikan.
Retraksi Dada dan Penanganannya
Penanganan retraksi dada sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Fokus utama penanganan adalah membantu pernapasan agar kembali lebih lega dan memastikan tubuh mendapatkan cukup oksigen.
Pada kondisi ringan, menjaga posisi tubuh tetap tegak, mengatur napas, serta memastikan lingkungan bebas asap dan debu dapat membantu meringankan napas. Namun, bila retraksi dada disertai sesak yang berat, napas berbunyi, atau perubahan warna bibir, kuku, maupun kulit menjadi kebiruan, segera bawa ke IGD rumah sakit terdekat.
Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah kondisi memburuk, terutama pada bayi dan anak kecil yang cadangan oksigennya masih terbatas.
Bila Anda masih ragu atau memiliki pertanyaan lain mengenai retraksi dada, Anda bisa mengonsultasikannya secara online melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan informasi yang lebih tepat dan sesuai dengan yang Anda butuhkan.