Sifrol adalah obat untuk mengatasi gejala penyakit Parkinson, seperti tremor, gerakan yang lambat, otot kaku, dan gangguan keseimbangan. Obat ini dapat digunakan sebagai obat tunggal atau dikombinasikan dengan levodopa.
Kandungan pramipexole dalam Sifrol bekerja dengan cara menyeimbangkan kadar dopamin di otak yang berfungsi mengontrol pergerakan tubuh. Cara kerjanya ini membuat gerakan tubuh yang kaku atau tremor menjadi lebih bebas dan stabil, sehingga penderita penyakit Parkinson bisa beraktivitas dengan lebih lancar.

Selain untuk menangani gejala penyakit Parkinson, Sifrol juga dapat menangani sindrom kaki gelisah atau restless legs syndrome/RLS, yaitu kondisi timbulnya dorongan untuk terus menggerakkan kaki sehingga mengganggu tidur. Dengan obat ini, gejala RLS bisa berkurang dan kualitas tidur penderitanya meningkat.
Produk Sifrol
Sifrol memiliki 2 varian yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa variannya:
- Sifrol, mengandung 0,125 mg dan 0,25 mg pramipexole tiap tablet
- Sifrol ER, mengandung 0,375 mg dan 0,75 mg pramipexole tiap tablet pelepasan lambat
Apa Itu Sifrol
| Bahan aktif | Pramipexole |
| Golongan | Obat bebas |
| Kategori | Agonist dopamine |
| Manfaat | Mengurangi gejala penyakit Parkinson |
| Menangani gejala sindrom kaki gelisah atau restless legs syndrome/RLS | |
| Digunakan oleh | Dewasa |
| Sifrol untuk ibu hamil | Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. |
| Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. | |
| Sifrol untuk ibu menyusui | Pramipexole dalam Sifrol bisa menurunkan produksi ASI, terutama pada minggu pertama setelah melahirkan. Penggunaan Sifrol juga bisa menyebabkan kantuk berat. Karenanya, Sifrol tidak boleh digunakan selama masa menyusui, kecuali atas anjuran dokter. |
| Tanyakan kepada dokter mengenai obat lain yang lebih aman digunakan selama masa menyusui, terutama jika bayi lahir prematur atau usia bayi belum genap 1 bulan. | |
| Bentuk obat | Tablet |
Peringatan sebelum Menggunakan Sifrol
Karena merupakan obat resep, Sifrol harus digunakan sesuai petunjuk dokter. Sebelum menggunakan obat ini, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut::
- Beri tahu dokter perihal riwayat alergi yang Anda miliki. Sifrol tidak boleh digunakan oleh individu yang alergi terhadap obat ini.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita gangguan gerak berupa gerakan berulang yang tidak disengaja, baik yang dipicu pengobatan tertentu maupun yang tidak.
- Informasikan kepada dokter mengenai penggunaan Sifrol jika Anda sedang atau pernah mengalami hipotensi atau tekanan darah rendah, hipotensi ortostatik, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau gangguan tidur, seperti sleep apnea atau narkolepsi.
- Pastikan untuk memberi tahu dokter jika pernah mengalami halusinasi, linglung, psikosis, atau skizofrenia.
- Konsultasikan dengan dokter jika Anda sedang hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui.
- Bicarakan dengan dokter jika sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal, untuk mengantisipasi interaksi obat.
- Hindari konsumsi Sifrol bersama produk herbal yang mengandung St John's wort atau valerian tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
- Beri tahu dokter bahwa Anda sedang menggunakan Sifrol jika direncanakan untuk menjalani operasi atau tindakan medis apa pun, termasuk operasi gigi.
- Jangan mengemudi atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan kewaspadaan setelah minum obat ini. Sifrol dapat menyebabkan pusing, kantuk, dan tertidur mendadak. Pastikan kondisi Anda sudah benar-benar prima jika hendak melakukan kegiatan tersebut.
- Hindari konsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan Sifrol. Minuman beralkohol bisa menambah berat efek kantuk dari obat ini.
- Segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah mengonsumsi Sifrol.
Dosis dan Aturan Pakai Sifrol
Secara umum, berikut ini adalah dosis Sifrol untuk orang dewasa berdasarkan jenis tablet dan kondisi yang ditangani:
Kondisi: Penyakit Parkinson
- Dosis awal 0,125 mg 3 kali sehari pada minggu pertama, kemudian ditingkatkan menjadi 0,25 mg 3 kali sehari pada minggu kedua, dan 0,5 mg 3 kali sehari pada minggu ketiga, tergantung respons pasien. Dosis maksimal 4,5 mg per hari.
Kondisi: Sindrom kaki gelisah atau restless legs syndrome
- Dosis awal 0,125 mg, 1 kali sehari dikonsumsi 2–3 jam sebelum tidur. Dosis dapat ditingkatkan tiap 4–7 hari dengan maksimal dosis 0,75 mg per hari.
Cara Menggunakan Sifrol dengan Benar
Gunakan Sifrol sesuai arahan dokter dan petunjuk yang terdapat di kemasannya. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa seizin dokter.
Agar hasil pengobatan dengan Sifrol maksimal, ikutilah cara yang benar menggunakan Sifrol berikut ini:
- Sifrol bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Jika timbul mual, sebaiknya konsumsi obat ini pada saat makan.
- Telan tablet Sifrol dengan air putih.
- Penggunaan Sifrol dapat menyebabkan tekanan darah rendah dan hipotensi ortostatik, yaitu pusing saat berdiri dari posisi duduk atau berbaring. Untuk mencegah hal ini terjadi, hindari gerakan yang terlalu cepat saat hendak berdiri.
- Bagi pasien penyakit Parkinson yang lupa mengonsumsi Sifrol, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, bila jadwal minum obat berikutnya sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
- Apabila lupa mengonsumsi Sifrol, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, bila jadwal minum obat sudah terlewat lebih dari 12 jam, minumlah Sifrol pada jadwal berikutnya tanpa menggandakan dosis.
- Bagi pasien RLS yang lupa mengonsumsi Sifrol, abaikan saja dosis yang terlewat dan minumlah obat pada jadwal selanjutnya tanpa menggandakan dosis.
- Lakukan kontrol sesuai dengan jadwal yang diberikan dokter. Selama menggunakan Sifrol, Anda mungkin akan diminta untuk menjalani pemeriksaan mata secara rutin untuk mendeteksi munculnya efek samping gangguan penglihatan selama pengobatan.
- Jangan menghentikan pengobatan tanpa persetujuan dokter. Menghentikan penggunaan Sifrol secara mendadak dapat menimbulkan gejala putus obat, seperti gangguan kecemasan, depresi, linglung, dan kaku otot. Jika pengobatan perlu dihentikan, dokter akan mengurangi dosis secara berkala.
- Simpan Sifrol di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
- Jangan konsumsi Sifrol yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa
Interaksi Sifrol dengan Obat Lain
Kandungan pramipexole dalam Sifrol dapat menimbulkan efek interaksi jika digunakan bersama obat lain berikut ini:
- Peningkatan efek kantuk jika digunakan dengan obat-obatan yang menekan sistem saraf pusat, seperti benzodiazepine atau barbiturat
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping Sifrol jika digunakan dengan cimetidine
- Penurunan efektivitas Sifrol jika digunakan dengan metildopa atau obat golongan antipsikotik, seperti haloperidol
Untuk menghindari terjadinya efek interaksi tersebut, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter jika akan menggunakan Sifrol bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Sifrol
Sama seperti obat lainnya, Sifrol juga dapat menimbulkan efek samping setelah menggunakannya. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang dapat terjadi:
- Mual
- Kantuk
- Mulut kering
- Pusing
- Sakit kepala
- Sering buang air kecil
- Gangguan tidur, seperti insomnia atau mimpi yang aneh
- Sembelit atau malah diare
- Lemas
- Kehilangan nafsu makan
Penggunaan Sifrol juga bisa menyebabkan seseorang tertidur tiba-tiba saat sedang beraktivitas, misalnya saat sedang makan, bekerja, atau berkendara, bahkan saat sama sekali tidak merasakan kantuk. Beri tahu dokter jika hal ini terjadi selama pengobatan.
Segera hubungi dokter melalui Chat Bersama Dokter jika muncul reaksi alergi obat atau efek samping yang mengganggu, seperti:
- Pusing berat seperti akan pingsan
- Perubahan suasana hati dan perilaku yang drastis, seperti halusinasi, depresi, perilaku agresif, perilaku impulsif, atau hilang ingatan
- Tremor makin parah, makin sulit berjalan atau bergerak
- Kram atau nyeri otot
- Perubahan postur yang terlihat tidak biasa, misalnya tubuh jadi membungkuk
- Tidak bisa diam atau tidak berhenti bergerak
- Performa dan gairah seksual menurun, atau impotensi
- Bengkak di kaki
- Nyeri dada, detak jantung tidak teratur, sesak napas
- Gangguan penglihatan
- Gerakan tubuh yang tidak terkendali, seperti kedutan atau menghentakkan bagian tubuh tertentu
- Gejala gangguan ginjal, seperti urine yang keluar makin sedikit atau tidak keluar sama sekali