Skizofrenia paranoid adalah jenis skizofrenia dengan kekhasan pada munculnya gejala positif, seperti waham (keyakinan pada sesuatu yang tidak nyata) dan halusinasi. Meski bisa diderita oleh siapa pun, kondisi ini lebih sering dialami oleh orang yang berusia 18–30 tahun.

Skizofrenia paranoid adalah jenis skizofrenia yang paling sering terjadi. Umumnya, penderita skizofrenia paranoid akan mengalami kecurigaan atau ketakutan terhadap sesuatu yang tidak nyata.

Paranoid Schizophrenia - alodokter

Merasa seperti diperintah, dikejar, atau dikendalikan oleh orang lain, serta halusinasi pendengaran merupakan gejala yang sering dialami penderitanya. Hal ini selanjutnya memengaruhi caranya dalam berpikir dan berperilaku.

Skizofrenia paranoid merupakan penyakit yang diderita seumur hidup. Namun, dengan bantuan dokter dan perawatan rutin, gejala skizofrenia paranoid dapat diredakan dan penderitanya dapat beradaptasi dengan kondisi yang dimilikinya.

Penyebab Skizofrenia Paranoid

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya skizofrenia paranoid. Ada dugaan yang menyatakan bahwa kondisi ini diturunkan di dalam keluarga. Namun, tidak semua penderita skizofrenia paranoid pasti memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama.

Seperti yang telah dijelaskan di awal, skizofrenia paranoid bisa terjadi pada usia berapa pun, tetapi kebanyakan kasusnya terjadi pada usia remaja dan dewasa muda antara usia 18–30 tahun.

Faktor risiko

Walaupun belum diketahui penyebab pastinya, berikut ini adalah beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami skizofrenia paranoid:

  • Mengalami kelainan dan gangguan pada otak
  • Mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen saat lahir
  • Mengalami trauma pada masa anak-anak, termasuk perundungan, pelecehan seksual, atau menghadapi penceraian atau kehilangan orang tua
  • Menderita infeksi virus selama masa anak-anak atau saat berada di di dalam kandungan

Gejala Skizofrenia Paranoid

Gejala utama skizofrenia paranoid adalah kemunculan delusi (waham) dan halusinasi, terutama halusinasi pendengaran. Gejala ini dapat berkembang seiring berjalannya waktu dan terkadang dapat mereda meski tidak sepenuhnya sembuh.

Dari sekian banyak jenis delusi, delusi kejar atau keyakinan akan adanya persekusi adalah gejala yang paling sering muncul. Kondisi ini terlihat dengan munculnya rasa takut dan kecemasan yang besar pada hal-hal yang tidak nyata. Delusi kejar merupakan cerminan dari ketidakmampuan membedakan kenyataan dan bukan.

Gejala delusi kejar yang dialami oleh penderita skizofrenia paranoid dapat berupa:

  • Merasa seseorang atau pemerintah sedang memata-matai aktivitas sehari-harinya
  • Merasa orang sekitar sedang bersekongkol untuk mencelakai dirinya
  • Merasa teman-teman atau orang terdekat mencoba mencelakai dirinya, salah satunya adalah pemikiran bahwa ada yang memasukkan racun ke dalam makanannya
  • Merasa pasangannya sedang berselingkuh

Selain delusi dan halusinasi, penderita skizofrenia paranoid juga sering berperilaku tidak terkontrol atau kacau (disorganized behaviour) dan sulit dimengerti dalam berbicara.

Delusi, halusinasi, serta perilaku dan bicara kacau digolongkan menjadi gejala positif pada penderita skizofrenia paranoid. Saat mengalami skizofrenia paranoid, gejala-gejala positif ini akan lebih dominan muncul.

Walaupun jarang terjadi, beberapa gejala negatif, seperti tidak bisa merasakan emosi, kehilangan ketertarikan pada aktivitas sehari-hari, atau kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang sebelumnya dirasakan menyenangkan, juga bisa dialami oleh penderita skizofrenia.

Gejala negatif perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri. Dorongan bunuh diri cukup sering ditemukan pada kasus skizofrenia atau skizofrenia paranoid yang tidak ditangani dengan baik.

Semua gejala yang ditimbulkan akibat menderita skizofrenia paranoid dapat menyebabkan gangguan terhadap pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau bahkan dalam merawat diri sendiri.

Kapan harus ke dokter

Berkonsultasilah dengan dokter spesialis kejiwaan (psikiater) bila Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala skizofrenia paranoid, terutama jika sudah muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Konsultasikan ke dokter jika ada anggota keluarga Anda yang terlihat berprilaku aneh, kacau, atau tidak terkendali.

Orang yang sudah didiagnosis dengan gangguan skizofrenia paranoid juga wajib menjalani kontrol rutin ke dokter agar perkembangan kondisinya dapat dipantau.

Diagnosis Skizofrenia Paranoid

Untuk mendiagnosis skizofrenia paranoid, dokter akan melakukan tanya jawab seputar gejala yang dialami dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mencari tahu apakah gejala yang dialami pasien disebabkan oleh penyakit atau kekerasan fisik.

Selanjutnya, dokter akan menentukan diagnosis pasien berdasarkan diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5).

Untuk melihat ada tidaknya kondisi medis atau penyakit lain yang mungkin menjadi penyebab atau menyertai gejala-gejala di atas, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes darah, untuk mengetahui apakah gejala pada pasien disebabkan oleh kecanduan alkohol atau penggunaan obat-obatan terlarang
  • Tes pemindaian dengan CT scan, MRI, dan electroencephalogram (EEG), untuk melihat kemungkinan adanya kelainan pada otak dan pembuluh darah
  • Tes urine, untuk melihat kemungkinan kecanduan terhadap zat tertentu

Bila diagnosis skizofrenia paranoid telah ditetapkan, diperlukan tes fungsi luhur untuk melihat kemampuan kognitif pasien serta rencana terapi. Tes fungsi luhur biasanya bertujuan untuk mencari tahu ada tidaknya gangguan pada:

  • Kemampuan mengingat
  • Kemampuan untuk merencanakan, mengatur, atau memulai kegiatan
  • Kemampuan untuk fokus pada saat melakukan aktivitas
  • Kemampuan menangkap konsep abstrak dan mengenali kondisi sosial

Pengobatan Skizofrenia Paranoid

Pengobatan skizofrenia paranoid membutuhkan waktu yang lama, bahkan setelah gejala mereda. Pengobatan ini bertujuan untuk mengendalikan dan mengurangi gejala pada pasien skizofrenia paranoid. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan:

Pemberian obat antipsikotik

Dokter akan meresepkan obat antipsikotik untuk membantu meringankan gejala utama, yaitu delusi dan halusinasi. Antipsikotik bekerja dengan cara mempengaruhi senyawa kimia di dalam otak (neurotransmitter), terutama dopamin.

Pasien wajib mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter dan tidak boleh berhenti sembarangan, meskipun gejala sudah dirasakan membaik.

Selama mengonsumsi obat, dokter akan memantau efektivitas obat-obatan antipsikotik dan menyesuaikan dosis. Umumnya, butuh waktu sekitar 3­–6 minggu untuk melihat efektivitas obat antipsikotik yang diberikan. Pada beberapa pasien, waktu yang diperlukan bahkan dapat mencapai 12 minggu.

Obat antipsikotik dibedakan menjadi dua, yaitu obat antipsikotik generasi pertama (tipikal) dan antipsikotik generasi kedua (atipikal). Obat antipsikotik generasi pertama yang dapat diberikan dokter kepada pasien skizofrenia paranoid antara lain:

Sedangkan obat antispkotik generasi kedua (atipikal) yang dapat diberikan dokter adalah:

Selain obat antipsikotik, dokter juga bisa meresepkan obat untuk meredakan keluhan lain yang sering dialami oleh penderita skizofrenia paranoid. Obat yang bisa diberikan meliputi obat antidepresan atau antiansietas.

Psikoterapi

Penderita skizofrenia paranoid akan disarankan untuk mengikuti psikoterapi. Tujuannya adalah agar penderita menyadari, memahami, dan beradaptasi dengan kondisinya. Dengan begitu, pasien bisa beraktivitas kembali. Beberapa metode psikoterapi yang bisa digunakan untuk menangani skizofrenia paranoid adalah:

  • Terapi perilaku kognitif
    Terapi perilaku kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir pasien. Kombinasi terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, akan membantu pasien memahami pemicu halusinasi dan delusi, serta mengajarkan pasien cara mengatasinya.
  • Terapi remediasi kognitif
    Terapi ini mengajarkan pasien cara memahami lingkungan sosial dan mengendalikan pola pikirnya, serta meningkatkan kemampuan pasien dalam memperhatikan atau mengingat sesuatu.
  • Terapi pendidikan keluarga
    Pada terapi ini, psikiater akan mengajarkan keluarga dan teman pasien bagaimana berinteraksi dengan pasien. Salah satu caranya adalah dengan memahami pola pikir dan perilaku pasien.
  • Terapi pemaparan (desensitisasi)
    Terapi ini membantu pasien membangun rasa optimisme dan keyakinan positif tentang diri sendiri dan orang lain.
  • Terapi elektrokonvulsif
    Terapi ini menggunakan elektroda dengan arus listrik rendah. Terapi elektrokonvulsif merupakan metode yang terkadang digunakan jika skizofrenia tidak membaik setelah pemberian obat-obatan. Terapi ini juga bisa meredakan gejala depresi berat.

Perawatan mandiri

Selain dengan obat-obatan dan psikoterapi, penanganan skizofrenia paranoid juga perlu disertai dengan perawatan mandiri di rumah, seperti:

  • Mengusahakan agar memiliki waktu tidur yang cukup
  • Melakukan olahraga secara teratur
  • Mengelola stres dengan cara yang postif
  • Menjaga interaksi sosial dan mengikuti aktivitas yang melibatkan banyak orang
  • Menerapkan pola hidup sehat, seperti menghentikan kebiasaan merokok, minuman beralkohol, dan tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang

Skizofrenia paranaoid merupakan gangguan yang berlangsung seumur hidup dan tidak dapat pulih sepenuhnya. Namun, dengan deteksi dini, penanganan yang tepat, dan adanya dukungan dari lingkungan serta keluarga, penderita skizofrenia paranoid dapat beradaptasi dengan keadaannya.

Komplikasi Skizofrenia Paranoid

Jika tidak ditangani dengan baik, skizofrenia paranoid dapat menimbulkan komplikasi berupa:

Pencegahan Skizofrenia Paranoid

Skizofrenia paranoid tidak dapat dicegah. Namun, Anda dapat menurunkan risiko terjadinya skizofrenia paranoid dengan melakukan beberapa cara berikut:

  • Ceritakan dengan keluarga, teman, atau psikolog tentang kecemasan atau hal-hal yang membuat Anda trauma.
  • Perbanyak aktivitas sosial yang positif.
  • Jangan mengonsumsi alkohol, rokok, dan NAPZA.
  • Terapkan pola hidup sehat, dengan berolahraga, tidur cukup, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.