Vaksinasi tifus di Indonesia termasuk dalam jadwal imunisasi anak. Vaksinasi ini sangat dianjurkan bagi anak berusia dua tahun dan diberikan kembali tiap tiga tahun sekali. Pemberian vaksin idealnya diberikan satu bulan sebelum berkunjung ke tempat yang merupakan daerah endemik tifus.

Beberapa reaksi dan efek samping yang mungkin muncul setelah pemberian vaksin tifus, yaitu nyeri, kemerahan, bengkak di sekeliling area suntikan, mual, pusing, sakit perut, atau diare.

Meski demikian, pemberian vaksin tifoid tidak menjamin 100 persen kebal terhadap bakteri penyebab tifus. Risiko terserang tifoid tetap ada, meski gejala-gejala yang terjadi tidak separah gejala pada orang yang belum memperoleh vaksin sama sekali.

Langkah Pencegahan selain Vaksin

Di negara-negara berkembang, bakteri tifus dapat tumbuh subur seiring meningkatnya tingkat resistensi bakteri terhadap antibiotik untuk mengobati tifus. Ini mengakibatkan beberapa antibiotik sudah tidak mampu melawan penyakit ini. Oleh sebab itu, perlu penyusunan dan penyuluhan mengenai daftar obat-obatan yang sudah tidak efektif dalam menangani tifus agar pasien mendapatkan pengobatan yang tepat.

Untuk mencegah tifus, pemberian vaksin tifus perlu disertai dengan perbaikan sanitasi, ketersediaan air bersih, serta penerapan pola hidup sehat sejak dini.

Perhatikan hal-hal berikut ini agar terhindar dari risiko penularan tifus:

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan dan minuman, serta setelah buang air kecil atau besar, maupun usai membersihkan kotoran, misalnya saat mencuci popok bayi.
  • Jika ingin bepergian ke tempat yang memiliki kasus penyebaran tifus, sebaiknya pastikan air yang akan diminum sudah direbus sampai matang.
  • Jika harus membeli minuman, sebaiknya beli air minum dalam kemasan.
  • Kurangi membeli jajanan secara sembarangan di pinggir jalan, karena mudah sekali terpapar bakteri.
  • Hindari mengonsumsi es batu yang bukan dibuat sendiri.
  • Hindari mengonsumsi buah dan sayuran mentah, kecuali terlebih dahulu dicuci dengan air bersih dan kulitnya dikupas.
  • Batasi konsumsi jenis-jenis makanan boga-bahari (seafood), terutama yang masih mentah, karena tingkat kesegarannya sulit diketahui secara pasti.
  • Sebaiknya gunakan air matang untuk menggosok gigi atau berkumur, terutama jika sedang berada di tempat yang belum dijamin kebersihannya.
  • Bersihkan kamar mandi secara teratur. Hindari bertukar barang pribadi, seperti handuk, seprai, dan peralatan mandi. Cuci benda-benda tersebut secara terpisah di dalam air hangat.
  • Hindari konsumsi susu yang tidak dipasteurisasi (bukan susu kemasan).
  • Konsumsi antibiotik yang diresepkan oleh dokter dan ikutilah petunjuk pemakaian yang telah diberikan. Pengobatan antibiotik harus dilakukan hingga periode pengobatan berakhir untuk mencegah resistensi obat.