Kanker Tenggorokan

Pengertian Kanker Tenggorokan

Kanker tenggorokan adalah tumor ganas yang tumbuh dan berkembang di area tenggorokan. Tumor tersebut berasal dari sel-sel yang menjadi berlipat ganda jumlahnya secara tidak terkendali.

kanker tenggorokan - alodokter

Berdasarkan jenis sel yang berubah menjadi kanker, kanker tenggorokan dibagi menjadi dua, yaitu karsinoma sel skuamosa (abnormalitas terjadi pada sel selaput) dan adenokarsinoma (abnormalitas terjadi pada sel kelenjar).

Sedangkan berdasarkan area tenggorokan yang diserang, kanker tenggorokan dikelompokkan menjadi 3, yaitu kanker faring, laring, dan tonsil. Kanker faring sendiri dibagi lagi menjadi 3 jenis, yaitu kanker nasofaring (kanker yang menyerang bagian atas tenggorokan), orofaring (kanker yang menyerang bagian tengah tenggorokan), dan hipofaring (kanker yang menyerang bagian bawah tenggorokan).

Di Indonesia, kanker tenggorokan, khususnya kanker nasofaring, menempati urutan ke-4 sebagai kanker yang paling banyak diderita setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru. Data GLOBOCAN pada tahun 2012 menunjukkan ada setidaknya 87.000 kasus kanker nasofaring baru setiap tahunnya, di mana 70% penderitanya adalah laki-laki.

Cukup tingginya angka penderita kanker tenggorokan ini menunjukkan bahwa diperlukan pemahaman serta tindakan pencegahan yang tepat, sehingga angka kejadian kanker di kemudian hari dapat ditekan.

Gejala Kanker Tenggorokan

Gejala kanker tenggorokan bisa beragam dan tidak sama pada tiap penderita. Beberapa indikasinya meliputi:
  • Sulit menelan.
  • Perubahan suara, misalnya serak atau cara bicara yang tidak jelas.
  • Batuk kronis.
  • Sakit tenggorokan.
  • Telinga yang sakit atau berdengung.
  • Benjolan yang tidak kunjung sembuh.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Pembengkakan pada mata, rahang, tenggorokan, atau leher.
Gejala kanker tenggorokan cenderung mirip dengan masalah kesehatan lain, sehingga sulit terdeteksi. Konsultasi pada dokter sebaiknya dilakukan jika mengalami gejala-gejala di atas, terutama yang tidak kunjung membaik atau bertambah parah.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Tenggorokan

Semua kanker terjadi akibat adanya mutasi pada sel-sel. Mutasi inilah yang memicu pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Demikian pula dengan kanker tenggorokan.

Penyebab di balik proses mutasi tersebut belum diketahui secara pasti. Tetapi ada sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker tenggorokan, misalnya pola hidup dan kondisi kesehatan. Beberapa contohnya adalah:

  • Penggunaan tembakau, baik dalam bentuk rokok maupun kunyah.
  • Konsumsi minuman keras yang berlebihan.
  • Kesehatan gigi yang tidak terjaga.
  • Kurang mengonsumsi buah dan sayur.
  • Mengidap infeksi virus HPV (human papillomavirus) dan penyakit asam lambung atau GERD.

Diagnosis Kanker Tenggorokan

Pada tahap awal diagnosis, dokter akan menanyakan tentang gejala dan riwayat kesehatan, serta melakukan pemeriksaan fisik. Jika pasien diduga mengidap kanker tenggorokan, pemeriksaan secara lebih mendetail akan dianjurkan untuk memastikan diagnosis. Jenis pemeriksaan tersebut meliputi:
  • Endoskopi atau laringoskopi.
  • Pengambilan sampel jaringan atau biopsi.
  • X-ray, CT, MRI, dan PET scan. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan tingkat penyebaran kanker tenggorokan.

Stadium Kanker Tenggorokan

Mengetahui seberapa jauh penyebaran kanker tenggorokan akan membantu dokter untuk menentukan langkah pengobatan yang akan dijalani oleh penderita. Penyebaran tersebut terbagi dalam lima tingkatan atau stadium, yaitu:
  • Stadium 0: tumor hanya berada pada jaringan di tenggorokan.
  • Stadium 1: tumor berukuran kecil ( di bawah 7 cm) dan hanya menyerang bagian tenggorokan.
  • Stadium 2: tumor berukuran lebih besar, tapi belum menyebar ke luar tenggorokan.
  • Stadium 3: tumor sudah menyebar ke jaringan atau organ lain di dekat tenggorokan.
  • Stadium 4: tumor sudah menyebar hingga ke jaringan atau organ di luar tenggorokan dan/atau nodus limfa.

Pengobatan Kanker Tenggorokan

Tiap penderita kanker tenggorokan umumnya membutuhkan pengobatan yang berbeda-beda. Penentuan metode penanganan yang terbaik tergantung pada kondisi kesehatan penderita, lokasi tumbuhnya kanker, serta stadium kanker itu sendiri.

Pendeteksian dan pengobatan sedini mungkin adalah kunci utama dalam menangani semua kanker, termasuk kanker tenggorokan. Beberapa langkah penanganan yang umumnya akan dijalani oleh penderita meliputi:

  • Radioterapi. Apabila kanker berada pada stadium awal, radioterapi terkadang sudah cukup efektif dalam mengatasinya. Sedangkan untuk kanker stadium lanjut, radioterapi dilakukan hanya untuk mengurangi gejala dan memperlambat perkembangan kanker.
  • Kemoterapi. Radioterapi juga terkadang dikombinasikan dengan kemoterapi karena ada beberapa jenis obat kemoterapi yang dapat meningkatkan sensitivitas sel-sel kanker terhadap proses radioterapi. Namun proses kombinasi ini akan meningkatkan potensi efek samping radioterapi sekaligus kemoterapi.
  • Pembedahan. Metode operasi untuk kanker tenggorokan ada beberapa jenis. Dokter akan menentukan jenis operasi yang dibutuhkan berdasarkan stadium dan lokasi tumbuhnya kanker. Jenis-jenis operasi tersebut meliputi:
    • Operasi pengangkatan melalui endoskopi. Prosedur ini dianjurkan untuk kanker tenggorokan stadium awal.
    • Laringektomi atau operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kotak suara yang terkena kanker. Operasi ini dilakukan untuk menangani tumor berukuran kecil.
    • Faringektomi atau prosedur pengangkatan sebagian atau seluruh bagian tenggorokan.
    • Prosedur pengangkatan noda limfa leher yang terserang kanker. Operasi ini dilakukan jika kanker sudah menyebar luas pada leher. Proses ini juga digunakan untuk memeriksa tingkat penyebaran sel-sel kanker pada nodus limfa.
  • Obat-obatan. Langkah penanganan lainnya adalah dengan terapi obat yang umumnya menggunakan cetuximab. Proses ini akan mengincar kelemahan pada sel-sel kanker untuk menghambat pertumbuhannya.
Metode penanganan kanker tenggorokan dapat menyebabkan berbagai komplikasi maupun efek samping, misalnya terganggunya kemampuan berbicara, makan, atau menelan. Sebelum menjalani penanganan medis tertentu, sebaiknya penderita berdiskusi dengan dokter mengenai seluruh risikonya.

Untuk memaksimalisasi pengobatan kanker tenggorokan, ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan. Di antaranya adalah berhenti merokok dan menjauhi konsumsi minuman keras.

Di samping menurunkan keefektifan metode pengobatan, merokok dan konsumsi minuman keras dapat memperlambat proses pemulihan tubuh dan meningkatan risiko kambuhnya kanker tenggorokan.