Polihidramnion

Pengertian Polihidramnion

Polihidramnion adalah penumpukan air ketuban yang berlebihan selama masa kehamilan. Kondisi abnormal ini membutuhkan pemantauan secara rutin dari dokter agar terhindari dari kemungkinan komplikasi.

Polihidramnion-alodokter

Air ketuban merupakan cairan yang mengelilingi janin selama berada di dalam kandungan. Fungsi air ketuban sangatlah penting dalam menjaga maupun membantu perkembangan janin. Beberapa fungsi di antaranya adalah:

  • Membantu pembentukan paru-paru.
  • Memungkinkan janin untuk bergerak bebas sehingga membantu pertumbuhan otot serta tulang.
  • Menjaga agar suhu dalam kandungan tetap stabil.
  • Melindungi janin dari infeksi.
  • Meredam getaran yang berasal dari luar kandungan.
Pada kondisi normal, kadar air ketuban akan meningkat dan mencapai kuantitas maksimal di minggu ke-34 hingga 36 kehamilan. Air ketuban kemudian akan perlahan-lahan berkurang seiring mendekatnya tanggal kelahiran.

Gejala-gejala Polihidramnion

Selama masa kehamilan, tubuh sang ibu akan mengalami berbagai perubahan sehingga kondisi ini pun sulit dideteksi. Terutama polihidramnion ringan yang jarang menyebabkan gejala.

Namun, jika mengalami polihidramnion dengan tingkat keparahan tinggi, ada beberapa gejala yang umumnya akan dialami oleh ibu hamil. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Kesulitan bernapas, misalnya tersengal-sengal atau napas pendek.
  • Persalinan yang terjadi lebih cepat dari perkiraan (prematur).
  • Ukuran perut yang lebih besar dari batas normal.
  • Pembengkakan dinding perut, vulva, serta tubuh bagian bawah.
  • Produksi urine yang menurun.
Apabila  mengalami gejala-gejala di atas, periksakanlah kondisi Anda ke dokter atau rumah sakit. Proses persalinan ibu hamil yang mengidap polihidramnion membutuhkan penanganan di rumah sakit agar kondisi ibu dan bayi dapat segera dipantau dan diperiksa.

Jenis-jenis Penyebab Polihidramnion

Sebagian kasus polihidramnion bisa terjadi dengan sebab yang tidak diketahui secara pasti, terutama polihidramnion yang ringan. Meski demikian, terdapat serangkaian kondisi serta faktor yang dipercaya dapat memicu keabnormalan ini. Faktor-faktor pemicu tersebut adalah:
  • Gangguan kesehatan pada janin, contohnya adanya kelainan pada jantung, saluran pencernaan, sistem saraf pusat, serta sindrom Beckwith-Wiedemann. Kondisi-kondisi ini menyebabkan janin tidak bisa menyerap dan meminum air ketuban dengan jumlah yang seharusnya.
  • Ibu hamil yang mengidap diabetes.
  • Mengandung anak kembar, khususnya kembar identik.
  • Berbagai infeksi kongenital, misalnya toksoplasma atau rubella.
  • Penumpukan cairan pada salah satu bagian tubuh janin (hydrops fetalis). Kondisi ini bisa disebabkan oleh perbedaan jenis rhesus pada ibu dan janin.
  • Janin yang mengalami kekurangan sel darah merah atau anemia.
  • Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Metabolisme yang tidak normal pada sang ibu.

Diagnosis dan Pengobatan Polihidramnion

Kondisi ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan rutin yang dijalani oleh ibu hamil, khususnya USG. Jika dokter menduga pasien mengalami polihidramnion, dokter juga akan menganjurkan tes darah untuk memastikan diagnosis.

Apabila Anda mengalami polihidramnion, dokter akan menentukan langkah-langkah pengobatan berdasarkan pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Kondisi polihidramnion yang ringan umumnya akan hilang dengan sendirinya tanpa penanganan khusus. Anda biasanya akan disarankan untuk beristirahat sebanyak mungkin dan menjalani pemantauan yang lebih rutin.

Sementara, kasus yang parah membutuhkan langkah penanganan tertentu berdasarkan penyebabnya. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Polihidramnion akibat diabetes yang diidap sang ibu akan ditangani dengan mengendalikan kadar gula darah secara akurat, misalnya dengan menjaga pola makan atau pemberian insulin.
  • Pemberian prostaglandin synthetase inhibitors (khususnya indometacin) untuk mengurangi produksi urine janin dan aliran darah pada ginjal janin.
  • Pengeluaran air ketuban dengan bantuan USG, terutama jika pasien mengalami gejala-gejala seperti disebutkan di atas. Penanganan ini biasanya dijalani lebih dari satu kali.
  • Ablasi dengan laser pada polihidramnion yang disebabkan oleh kehamilan anak kembar identik, terutama jika terdeteksi Twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS). Prosedur ini digunakan untuk menutup sebagian saluran plasenta yang menghubungkan kedua anak kembar.
  • Prosedur induksi atau caesar jika polihidramnion mengancam keselamatan janin.

Risiko Komplikasi Polihidramnion

Setiap kehamilan pasti memiliki risiko komplikasi masing-masing. Namun, ada sejumlah risiko komplikasi yang akan meningkat apabila Anda mengalami polihidramnion. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi termasuk:
  • Kelahiran prematur.
  • Posisi bayi yang sungsang.
  • Tali pusar yang keluar mendahului bayi saat persalinan.
  • Perdarahan yang parah pasca-melahirkan.
  • Plasenta yang terlepas dari dinding rahim sebelum persalinan karena ukuran rahim yang menyusut secara drastis seiring berkurangnya air ketuban.
  • Infeksi saluran kemih pada sang ibu akibat peningkatan tekanan pada saluran kemih.
  • Hipertensi selama kehamilan.
  • Bayi terlahir dalam keadaan mati (stillbirth).