Serangan Panik Beda dengan Serangan Jantung, Ini Faktanya

Serangan panik dapat dirasakan oleh siapa pun dan di mana saja secara tiba-tiba. Meski umumnya tidak berbahaya, tapi serangan yang sering disangka sebagai serangan jantung ini, bagi sebagian orang, dapat terasa mencekam.

Serangan panik adalah kecemasan intens yang ditandai dengan gejala fisik yang umumnya terjadi mendadak dan tanpa alasan jelas. Sebagian orang yang mengalami serangan panik bisa jadi merasa ingin pingsan atau seakan-akan hidupnya akan berakhir. Padahal sebenarnya gejala ini umumnya tidak berbahaya.

serangan panik-alodookter

Kepanikan yang biasanya terjadi selama 5-20 menit ini sering disalahartikan sebagai serangan jantung. Pada umumnya, seseorang yang mengalami serangan panik tidak perlu dirawat di rumah sakit, walau sebagian orang lainnya bisa jadi membutuhkan perawatan.

Serangan Panik atau Serangan Jantung

Serangan jantung dan panik memiliki gejala yang serupa seperti timbul secara mendadak dan irama jantung yang cepat. Jadi bagaimana cara kita membedakannya? Satu hal yang mendasari perbedaan kedua kondisi tadi adalah serangan jantung biasanya memiliki gejala berupa denyut jantung tidak teratur yang timbul dan berhenti secara tiba-tiba. Sedangkan serangan panik, denyut jantung secara perlahan-akan akan kembali ke normal.

Perbedaan lainnya adalah serangan jantung dapat disertai dengan gejala yang berubah drastis. Misalnya, dua atau tiga denyut jantung yang sangat cepat, diikuti 3 denyut jantung yang melambat, kemudian cepat lagi. Sedangkan di serangan panik, denyut jantung dirasa cepat tetapi teratur.

Mari Kita Kenali Serangan Panik secara Lebih Mendetail

Gejala serangan panik bisa terpicu saat tubuh sedang dalam keadaan waspada dan tegang.  Saat ini, tubuh melepaskan hormon adrenalin yang menyebabkan otot menegang dan jantung berdetak lebih kencang. Pernapasan menjadi lebih cepat tetapi pendek sehingga terjadi hiperventilasi. Pernapasan normal terjadi ketika kadar oksigen dan karbondioksida di dalam tubuh seimbang. Ketika terjadi hiperventilasi, maka keseimbangan ini terganggu dan kadar karbondioksida di dalam tubuh menjadi sangat rendah.

Maka tidak heran jika seseorang yang mengalami serangan panik dapat mengalami tanda-tanda fisik, seperti tubuh gemetar, berkeringat lebih banyak, detak jantung tidak teratur, telinga berdenging, kepala pening, merasa seperti tersedak, sesak napas, jari-jemari kesemutan, dada terasa nyeri, serta seakan-akan merasa kehilangan kendali atas diri sendiri.

Kondisi yang sering terjadi di usia dewasa muda ini lebih berisiko terjadi pada wanita dibandingkan pria. Pada sebagian kasus, kondisi ini bisa bersifat diturunkan dalam keluarga (keturunan). Pada sebagian orang, serangan panik lebih berisiko terjadi saat mengalami perubahan hidup yang fundamental, seperti memiliki anak pertama atau memulai hari pertama di tempat kerja yang baru. Kondisi ketakutan akan sesuatu (fobia), sindrom gangguan obsesif kompulsif, dan penggunaan mariyuana juga dapat menjadi penyebab serangan panik.

Serangan Panik Dapat Dikendalikan sekaligus Dicegah

Pengidap serangan panik sayangnya lebih berisiko untuk mengalami depresi, penyalahgunaan obat-obatan, kecanduan minuman keras, hingga percobaan bunuh diri. Kabar baiknya, menurut seorang profesor psikologi klinis, serangan panik sebenarnya masih dapat dikontrol. Situasi yang umumnya disebabkan oleh kecemasan ini sebaiknya jangan dialihkan, melainkan harus dihadapi. Hasil positif bisa lebih mudah dan cepat diraih jika ada seseorang yang senantiasa mendampingi penderita.

Berikut beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengendalikan dan mencegah serangan panik.

  • Mengolah pernapasan. Tarik napas perlahan-lahan dan dalam melalui hidung, tahan selama setidaknya lima detik. Keluarkan napas perlahan-lahan melalui mulut. Lakukan dengan mata tertutup agar pikiran dapat terfokus kepada proses pernapasan. Latihan pernapasan ini sebaiknya tidak hanya dilakukan saat terjadi serangan panik, tapi lakukanlah tiap hari untuk membantu mencegah dan meredakan serangan jika menyerang kembali.
  • Stabilkan kadar gula darah dengan makan secara teratur. Sebaiknya hentikan juga kebiasaan merokok, kurangi minuman keras, dan batasi minuman berkafein yang dapat memperburuk serangan.
  • Olahraga aerobik secara teratur dapat membantu meredakan ketegangan, meredakan stres, meningkatkan kepercayaan diri, dan meningkatkan mood sehari-hari.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting, cobalah mencermati pemicu stres yang mungkin menyebabkan serangan panik. Terlepas dari adanya fakta bahwa kondisi ini tidak dianggap sebagai darurat medis, tapi jika dirasa mengkhawatirkan, ada baiknya untuk memeriksakan diri untuk memastikan bahwa gejala tersebut bukanlah tanda-tanda penyakit yang lebih serius.

Periksakan diri ke dokter jika mengalami serangan panik dengan gejala-gejala sebagai berikut.

  • Pernapasan sudah kembali normal, tapi Anda masih merasa tidak sehat.
  • Serangan panik masih berlanjut setelah bernapas perlahan-lahan selama 20 menit.
  • Merasa mengalami gangguan panik karena sering mengalami serangan panik.
  • Dada terasa sakit dan/atau detak jantung masih tidak teratur meski serangan panik telah berakhir.

Seseorang yang membutuhkan bantuan medis dapat dibantu dengan prosedur penanganan cognitive behavioural therapy (CBT) untuk mengubah pola pikir yang memicu serangan panik. Dokter mungkin juga akan meresepkan obat-obatan antidepresan atau obat penyakit jantung yang dikenal sebagai obat penghalang beta untuk membantu mencegah gangguan panik.